Dinamika Pilpres 2019

Opini: Jerry Sambuaga

Penulis adalah doktor ilmu politik, dosen Universitas Pelita Harapan, dan kolumnis Suara Pembaruan.

Selasa, 17 April 2018 | 13:29 WIB

Menjelang Pilpres 2019, dinamika dalam politik nasional memang sangat intensif. Mulai dari lobi-lobi antarpartai politik sampai dengan gencarnya manuver kelompok oposisi terhadap pemerintah. Salah satu dinamika yang menarik belakangan ini adalah gerakan yang ingin berkompetisi dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) di pilpres tahun depan. Setelah serangkaian serangan politik, pihak oposan kembali meluncurkan gerakan simbolis yang dideklarasikan dengan simbol tagar #2019GantiPresiden.

Ini adalah gerakan simbolis yang cukup masif. Utamanya digerakkan oleh mesin-mesin politik dan tokoh-tokoh sosial yang berafiliasi dengan partai-partai tertentu. Boleh jadi itu memang merupakan gerakan perseorangan, tetapi sangat mungkin pula itu sebuah gerakan yang sistematis dan terstruktur. Kabarnya juga ada dana yang cukup besar untuk proyek itu.

Tentu saja ini hak dari semua kelompok politik dan warga negara untuk mengekspresikan identitas dan kepentingan mereka. Selama ekspresi itu masih dalam kerangka norma sosial dan norma politik yang ada maka semua masih bisa diterima.

Dalam beberapa pertimbangan, gerakan tagar #2019GantiPresiden bisa dilihat sebagai gerakan yang kreatif, apa pun motivasi dan dasar argumennya. Pendekatan simbolis dengan memakai bahasa-bahasa kekinian sangat bagus untuk melakukan sosialisasi dan edukasi politik. Ini tentu jauh lebih baik daripada serangan-serangan politik hitam ala penyebaran hoax atau fitnah.

Dalam bahasa marketing, pemakaian tagar berperan untuk menandai satu isu spesifik yang digunakan untuk memancing perhatian publik. Menariknya, tagar ini mewakili isu spesifik, tetapi sebenarnya berdimensi sangat luas. Ada beberapa dimensi yang bisa ditangkap dari pemakaian tagar ini.

Pertama, dalam dimensi komunikasi politik, ini menggambarkan perasaan tidak suka atau tidak nyaman dengan kondisi saat ini. Bahasa ketidaknyamanan itu diungkapkan secara vulgar, tetapi sebenarnya cukup halus. Vulgar karena menyasar langsung aktor yang dituduh menjadi penyebab dari ketidaknyamanan itu, yaitu Presiden Jokowi. Namun, halus karena tidak menyiratkan pemberontakan di luar batas demokrasi.

Kata “ganti” tidak sama dengan frasa “memaksa berhenti”. Kata “ganti” adalah kata umum yang dalam hal ini berarti penggantian yang berkaitan dengan momentum elektoral 2019. Artinya, sang pengusung tagar ingin melakukan penggantian presiden secara demokratis. Sedangkan jika memakai frasa “memaksa berhenti” atau “berhentikan”, misalnya, maknanya cenderung mengarah kepada sesuatu di luar norma hukum dan norma demokratis.

Kedua, dalam dimensi psikologi, tagar ini menandakan adanya suasana hati yang penuh perlawanan. Seperti dikemukakan sebelumnya, ada ketidaknyamanan dengan kondisi saat ini. Ketidaknyamanan itu dianggap menjadi ketidaknyamanan kelompok. Selanjutnya dengan komunikasi politik, mereka ingin menyebarkan kondisi psikologis yang tidak nyaman itu agar menjadi ketidaknyamanan umum. Atau, sedikitnya, masyarakat umum diajak untuk memahami ketidaknyamanan itu dan ekspresi apa yang harus ditampilkan terhadap adanya kondisi tidak nyaman tersebut.

Ketiga, dalam dimensi perilaku politik, tagar tersebut menandakan adanya harapan. Setelah kita semua berada dalam pembelahan sosial akibat rangkaian momentum politik, tadinya kita berpikir secara pesimistis bahwa sebagian dari kita sudah tidak patuh lagi terhadap nilai dan norma demokrasi. Gerakan tagar #2019GantiPresiden setidaknya mengurangi kekhawatiran tersebut. Artinya, kita masih yakin bahwa komitmen berdemokrasi masih dipegang oleh rakyat Indonesia. Setidaknya, itulah yang bisa dilihat dari gerakan ini.

Keempat, dimensi politik. Dalam politik, simbol dipakai sebagai salah satu alat mobilisasi dan meningkatkan militansi dari anggota kelompok. Tagar ini pun demikian. Ia berfungsi untuk menguatkan ikatan antaranggota dan meningkatkan daya juangnya. Dengan pemakaian tanda ini ada sinyal mengenai arah yang dituju. Kebetulan arah itu melambangkan cita-cita dari seluruh anggota kelompok. Maka, ini sebenarnya adalah cara praktis dalam mengelola kekuatan politik.

Substansi?
Jadi, dilihat dari semua dimensi, sebenarnya gerakan penggunaan tagar ini biasa-biasa saja dalam demokrasi. Namun pertanyaan selanjutnya adalah, mana substansinya? Sebagai sebuah simbol, tagar #2019GantiPresiden memang memancing perhatian, tetapi itu tidak ada artinya jika tidak ada isi yang ditawarkan. Mereka yang mengusung tagar itu tampak hanya menawarkan kegelisahan dan ketidaknyamanan, tetapi tidak bisa menawarkan solusi dari ketidaknyamanan dan kegelisahan itu.

Mungkin bagi pengusung tagar tersebut, ganti presiden adalah solusi. Namun, mereka lupa bahwa presiden hanyalah sarana antara, bukan tujuan yang sebetulnya. Ketika mereka ingin menyebarkan kegelisahan dan ketidaknyamanan terhadap kondisi, maka seharusnya mereka menawarkan alternatif calon beserta konsep-konsepnya. Apakah sang calon dan konsepnya bisa diterima secara politik maupun secara ilmiah oleh publik itu soal lain.

Namun, yang jelas calon dan konsep itu haruslah ada dulu. Setidaknya sampai tulisan ini ditulis, calonnya saja belum ada, apalagi konsepnya. Tanpa isi yang jelas, tagar tidak bisa menjanjikan sesuatu yang konkret dan sebenarnya tidak memiliki kegunaan atau manfaat sama sekali.

Yang kemudian juga menjadi masalah dari gerakan tagar #2019GantiPresiden ini adalah lemahnya argumentasi yang diusung mengenai kegelisahan yang mereka rasakan. Selama ini mereka hanya berkampanye soal ketidaksukaan terhadap sosok Presiden Jokowi, tetapi selalu gagal untuk membuktikan argumentasi mereka.

Beberapa argumentasi mengenai pencabutan subsidi BBM atau soal pembangunan infrastruktur, misalnya, dengan mudah bisa dipatahkan dengan argumentasi pendukung kebijakan presiden. Hal serupa juga terlihat dalam konsep pengelolaan utang negara dan banyak isu lain.

Jadi, secara politik maupun secara ilmiah, konsep mereka sudah gagal melewati ujian. Ini menjadi masalah yang harus diselesaikan dulu sebelum masuk pada tawaran alternatif tadi. Jangan sampai, alternatif yang disusun kemudian ternyata berlandaskan pada argumentasi yang belum teruji atau lebih merupakan praduga dan syak wasangka daripada penilaian objektif.

Ini berbeda dengan petahana yang sudah sangat jelas menunjukkan konsep dan pendekatan pelaksanaannya. Apa pun kritik orang terhadap Presiden Jokowi, pemerintahan di bawah kepemimpinan Jokowi-JK sudah memberikan sentuhan menurut kerangka pikirnya sendiri. Ia sudah menunjukkan apa isi dari pemikirannya.

Jika dibandingkan dengan simbol tagar, maka apa yang dilakukan oleh Presiden Jokowi sudah melampaui dari apa yang bisa dilakukan oleh simbol tagar tersebut. Rakyat Indonesia dengan mudah bisa menebak pola pembangunan yang ditawarkan dan akan seperti apa hasilnya. Kalaupun mau mengkritik, maka bahan kritikan itu sudah ada dan bahkan sudah dijalankan.

Ini berbeda dengan gerakan tagar yang hanya menawarkan simbol. Bahkan untuk mengkritiknya saja kita tidak bisa karena isinya memang belum ditawarkan.

Karena itu, secara rasional, pilihan yang terbaik bagi rakyat Indonesia saat ini adalah tetap memilih Jokowi sebagai presiden di Pilpres 2019. Bermain-main dengan sesuatu yang simbolis tanpa isi, sangatlah berisiko tinggi dan tidak bijak bagi bangsa yang tengah berusaha berlari mengejar kemajuan ini.