HOTS dan Cita-cita Mencerdaskan Bangsa

Opini: Indra Charismiadji

Pengamat dan praktisi pendidikan dengan spesialisasi pembelajaran abad ke-21.

Jumat, 20 April 2018 | 11:45 WIB

Topik mengenai soal ujian higher order thinking skills (HOTS) atau soal yang membutuhkan daya nalar tingkat tinggi menjadi perbincangan hangat di kalangan pendidikan dalam satu pekan terakhir, mulai dari praktisi pendidikan, orangtua, guru, hingga siswa. Siswa yang merupakan bagian dari generasi milenial meriuhkannya, tak hanya di dunia nyata, tetapi juga menembus sekat-sekat dunia maya (media sosial).

Penyebabnya tak lain karena Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) menyisipkan soal-soal HOTS di dalam materi ujian nasional berbasis komputer (UNBK) matematika untuk tingkat sekolah menengah atas (SMA). Para peserta UN yang baru pertama kali menjumpai soal-soal seperti itu, terkaget-kaget. Soalnya sulit, begitu pendapat mereka.

Kemdikbud menyatakan soal seperti itu sudah mengikuti standar programme for international student assessment (PISA) yang diselenggarakan negara anggota Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) atau Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi.

PISA sendiri merupakan survei tiga tahunan untuk mengukur kemampuan anak berusia 15 tahun dalam membaca, matematika, dan sains. Dalam beberapa survei terakhir (terakhir pada 2015), Indonesia berada pada urutan 66 dari 72 negara untuk kemampuan literasi, urutan 65 dari 72 negara untuk kemampuan matematika dan urutan 64 untuk sains.

Apakah HOTS?
Lalu, apakah HOTS itu? HOTS merupakan konsep reformasi pendidikan yang dimulai pada awal abad ke-21. Tujuannya untuk menyiapkan sumber daya manusia dalam menghadapi Revolusi Industri 4.0. Pada era ini, sumber daya manusia tidak hanya menjadi pekerja yang mengikuti perintah saja, tetapi memiliki keterampilan abad ke-21, yakni manusia yang memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik (communication), kemampuan berkolaborasi (collaboration), berpikir kritis dan mampu menyelesaikan masalah (critical thinking and problem solving) dan kreatif, serta mampu beriovasi (creativity and innovation) atau dikenal dengan 4C.

HOTS dilandasi oleh taksonomi pembelajaran yang dicetuskan psikolog pendidikan asal Amerika Serikat, Benjamin S Bloom, pada 1956. Taksonomi tersebut kemudian direvisi oleh murid Bloom, yakni Lorin Anderson pada 2001 yang mengkelompokkan keterampilan berpikir atau kemampuan kognitif manusia dari tingkatan paling rendah ke paling tinggi.

Terdapat enam tingkatan kemampuan berpikir tersebut, dimulai dari yang paling rendah, yakni menghafal (remembering), kemudian memahami (understanding), menerapkan (applying), menganalisis (analyzing), menilai (evaluating), dan tingkatan yang paling tinggi adalah mencipta (creating).

Kemampuan berpikir menghafal, memahami, dan menerapkan disebut dengan keterampilan berpikir tingkat rendah, sedangkan untuk kemampuan menganalisis, mengevaluasi, dan menciptakan, termasuk ke dalam kategori kemampuan berpikir tingkat tinggi.

Lalu, apa perbedaan antara satu tingkatan ke tingkatan lainnya. Mari kita ambil contoh yang sederhana, yakni membuang sampah di tempatnya. Ini merupakan contoh positif dan bagian dari pendidikan karakter, tetapi tindakan manusia satu dan yang lainnya akan berbeda, tergantung pada kemampuan berpikirnya.

Pada tingkat kemampuan menghafal, yang bersangkutan belum mengenal konsep membuang sampah di tempat sampah dan konsep tersebut akan dipelajari dengan cara mengfapal. Kondisi ini kerap kita jumpai pada anak-anak kecil yang belum mengenal konsep membuang sampah di tempatnya. Begitu ditanya di mana buang sampah, mereka mungkin tidak tahu jawaban ataupun memberikan jawaban yang tidak sesuai dengan harapan, karena masih dalam tahap pengenalan.

Tingkatan selanjutnya adalah memahami. Anak-anak hasil pendidikan kita, sudah mampu di level memahami, kalau anak-anak ditanya, di mana harus membuang sampah, maka mereka akan menjawab di tong sampah. Jawaban tersebut 100 persen benar, tetapi mengapa sampai sekarang kita masih melihat sampah berserakan di mana-mana. Artinya mereka paham dalam tingkat teori, tetapi dalam tindakan mereka belum mampu atau mau melakukannya.

Anak-anak hasil pendidikan kita tahu kalau buang sampah itu di tempatnya, tetapi dalam tataran aplikasi atau penerapan, anak-anak masih banyak membuang sampah sembarangan. Setelah makan, mereka tidak membuang sampah di tempatnya, tetapi di jalan, sungai, parit, laut, dan sebagainya. Inilah yang membuat negara kita sering terlihat kotor dan mudah banjir karena tingkat berpikirnya rata-rata baru di level paham (understanding) saja.

D iatas memahami, di sinilah disebut tingkat aplikasi. Setelah paham membuang sampah di tempat sampah, mereka juga mau dan mampu membuang sampah di tempatnya. Walaupun mereka sudah benar-benar membuang sampah di tempat sampah, tetapi di dalam tingkat berpikir mereka, pemahaman mengapa harus membuang sampah di tempatnya belum dimiliki. Apabila ditanya mengapa buang sampah di tempatnya, kemungkinan besar jawabannya karena disuruh atau perintah. Kalau tidak membuang sampah di tempatnya, nanti akan dihukum atau didenda. Jadi, tingkat kesadaran mereka atas aksi yang dilakukan hanya sebatas melakukan suatu kebiasaan, perintah, atau aturan, tanpa paham mengapa dilakukan dan apa akibat yang akan terjadi terhadap tindakan tersebut.

Dari penjelasan di atas sekarang kita sudah bisa lihat tiga level berpikir manusia dengan konteks yang sama, tetapi sudah sangat berbeda sekali cara berpikirnya.

Selanjutnya, satu tingkat yang lebih atas dari aplikasi adalah analisis. Mereka yang berpikir pada tingkat analisis akan mampu menjelaskan mengapa sampah harus dibuang di tempatnya. Jika sampah dibuang sembarangan akan menimbulkan penyakit, kotor, tidak nyaman dipandang, bau, akan menyumbat saluran air, dan sebagainya. Pada tingkat berpikir ini, mereka sudah tahu sebab dan akibat dari setiap tindakan yang dilakukan.

Tingkat selanjutnya dalam keterampilan berpikir adalah evaluasi. Anak-anak yang memiliki kemampuan berpikir ini akan melihat sampah bukan sekadar harus dibuang di tempatnya, tetapi bisa mengevaluasi sampah dari berbagai ragamnya. Ada yang mudah didaur ulang dan ada juga yang sulit sekali didaur ulang, seperti sampah plastik. Oleh karenanya, mereka memisahkan sampah-sampah tersebut berdasarkan jenis, mulai dari sampah kertas, plastik, botol dan lainnya. Di level ini mereka mampu mengevaluasi tindakan dan mulai memikirkan cara-cara lain untuk memperbaiki tindakan-tindakan yang dilakukan apabila belum mendapatkan hasil yang diharapkan.

Tingkat keterampilan berpikir paling tinggi dalam HOTS adalah kreasi. Di sinilah manusia mampu menciptakan hal baru yang belum ada. Dalam konsep membuang sampah di tempatnya, mereka bisa mendaur ulang sampah dan menjadikan sampah organik sebagai pupuk kompos, membuat aplikasi pembuangan sampah hingga melakukan pengaturan jadwal buang sampah.

Dengan demikian, jika kita lihat pada konteks yang sama, terlihat pula keterampilan berpikir yang berbeda pada masing-masing tingkat yang membuat perilaku anak yang satu dengan lainnya menjadi berbeda.

Oleh karena itu, soal ujian pada keterampilan berpikir tingkat rendah tentu masih dalam konteks hafalan. Anak-anak diajar menghafal, tetapi tidak bisa bertindak. Jika ini diteruskan, saya khawatir cita-cita kehidupan kita menjadi bangsa yang maju sulit tercapai.

Dengan demikian, benarlah hasil kajian PISA yang menyebutkan peringkat pendidikan di Tanah Air masih tertinggal dibanding negara lain. Begitu pun dengan kajian Bank Dunia yang menyebut pendidikan kita masih tertinggal 75 tahun dibandingkan negara lain.

Sederhanakan Kurikulum
Secara pribadi saya sangat mengapresiasi langkah yang diambil Kemdikbud yang menaikkan tingkat kesulitan soal dalam ujian nasional dari tingkat hafalan ke tingkat yang lebih tinggi, yakni HOTS. Ini merupakan suatu langkah yang berani.

Ini juga merupakan waktu yang tepat untuk melakukan perubahan. Republik ini merdeka dengan cita-cita mulia, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa. Sayangnya, hampir 73 tahun kemerdekaan itu digaungkan, cita-cita mulia itu belum jua tercapai.

Apa yang bisa dilakukan oleh pemerintah? Salah satu yang perlu dilakukan adalah membuat cetak biru, rancangan induk ataupun peta jalan untuk mengembangkan sumber daya manusia Indonesia yang sesuai dengan kebutuhan Revolusi Industri 4.0.

Revolusi Industri 4.0 yang membutuhkan sumber daya manusia yang inovatif, kreatif, serta mampu menciptakan hal yang baru, yakni mampu menciptakan solusi meski tidak harus orisinal. Contoh nyata adalah bisnis taksi, yang bukan bisnis baru, tetapi taksi online merupakan bisnis baru yang berkembang pesat. Menariknya, pebisnis taksi online, seperti Grab, tidak memiliki satu unit taksi pun serta tidak merekrut satu sopir pun.

Pun dengan perusahaan perhotelan terbesar di dunia, Airbnb, yang tidak memiliki satu unit properti pun.

Perusahaan media terbesar di dunia, Facebook, justru tidak memiliki konten dan penulis. Revolusi Industri 4.0 isinya adalah disrupsi yang membutuhkan SDM yang memiliki tingkat berpikir HOTS.

Langkah lainnya yang bisa dilakukan oleh Kemdikbud adalah menyederhanakan kurikulum. Dalam kurikulum saat ini, terlampau banyak materi yang diberikan kepada siswa, sehingga tidak memiliki kesempatan untuk memperdalam materi dengan cara berpikir HOTS. Umumnya, siswa baru berada pada tingkat cara berpikir rendah. Jadi, semakin banyak informasi yang diberikan kepada siswa, maka semakin rendah cara berpikirnya.

Pengalaman pribadi saat saya kuliah di Amerika Serikat, materi matematika yang saya dapat sama dengan materi matematika di sekolah menengah pertama (SMP) di Indonesia. Jadi, terlampau jauh materi yang diberikan kepada anak-anak kita.

Langkah berikutnya adalah menyiapkan guru-guru agar bisa menerapkan HOTS. Para guru dilatih menyiapkan soal HOTS, yakni semakin tinggi levelnya, semakin tidak ada kunci jawabannya, karena level tertinggi HOTS adalah menciptakan sesuatu yang baru. Guru harus siap tidak hanya berpegangan pada kunci jawaban.

Sementara, bagi orangtua dan masyarakat, kini saatnya mengubah pola pikir. Angka 100 yang diraih anak, bukanlah suatu prestasi, jika tingkat berpikir anak itu rendah. Jangan bangga jika anak dapat angka 100, tetapi soalnya hanya hafalan.

Saya juga sepakat dengan apa yang disampaikan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy yang menyatakan anak-anak kita jangan cengeng. UN tidak menentukan kelulusan, hanya memetakan pendidikan. Ujian kehidupan justru lebih berat dan kita harus terbiasa masuk ke zona tidak nyaman untuk mencoba sesuatu yang baru. Dengan demikian, cita-cita pada awal kemerdekaan bangsa, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa, dapat tercapai. Bangsa Indonesia yang merdeka, tidak lagi tergantung pada bangsa asing serta mampu mengelola kekayaan alamnya sendiri. Merdeka!

 

 

CLOSE