Dilema Pencapresan Prabowo

Opini: Jerry Sambuaga

Penulis adalah doktor ilmu politik, dosen Universitas Pelita Harapan, dan kolumnis Suara Pembaruan.

Rabu, 25 April 2018 | 11:32 WIB

Prabowo Subianto akhirnya menyatakan menerima mandat menjadi capres dari Partai Gerindra dalam rakornas partai itu. Ini adalah penantian panjang setelah sebelumnya terjadi tarik ulur yang cukup alot tentang pencalonannya.

Ada beberapa kalangan dan pengamat yang mengatakan bahwa Prabowo masih harus mempertimbangkan dua hal, yaitu kesehatan dan dukungan logistik untuk maju sebagai capres. Meskipun kabar itu sempat dibantah oleh beberapa petinggi partai, tetapi analisis yang beredar menunjukkan bahwa Prabowo memang tidak sekuat lima tahun yang lalu. Dalam hal kesehatan, Prabowo tentu semakin tua, sedangkan dalam hal kekuatan logistik, banyak yang menyebut Prabowo tidak punya lagi sumber daya yang cukup kuat untuk bertarung.

Hak dalam Demokrasi
Kita tentu menyambut baik pernyataan Prabowo tersebut. Pertama, ini adalah hak setiap warga negara untuk dipilih dan memilih.

Kedua, dengan memimpin sebuah partai yang cukup besar, Prabowo memang punya peluang maju dalam Pilpres 2019. Apalagi, lima tahun yang lalu, Prabowo bersaing sangat ketat dengan Jokowi. Saat ini pun, masih banyak warga yang menginginkan Prabowo menjadi presiden. Meskipun jarak elektabilitasnya masih sangat jauh dari Jokowi, tetapi Prabowo adalah bakal capres yang paling tinggi elektabilitasnya dibandingkan dengan figur yang lain.

Faktor kesehatan mungkin memang menjadi salah satu pertimbangan. Namun, sebenarnya di usianya, Prabowo masih tetap bisa memimpin. Jusuf Kalla yang sekitar 10 tahun lebih tua saja masih sangat sehat. Penampilannya dengan bertelanjang dada saat rakornas pekan lalu, meskipun agak sedikit berlebihan, menunjukkan Prabowo masih mempunyai vitalitas seorang tentara. Ia juga mempunyai banyak orang kepercayaan yang tentu akan memberikan asistensi kepadanya.

Sedangkan mengenai dukungan dana, sebenarnya ini adalah salah satu faktor dari keseluruhan faktor kemenangan dalam kontestasi politik. Faktor kuatnya jaringan dan persepsi sang calon sendiri sangat menentukan, di samping faktor modal finansial. Partai Gerindra dan kemungkinan dukungan dari partai lain menunjukkan bahwa ada jaringan yang bisa diajak untuk mendukung pemenangan.

Mengenai persepsi, Prabowo sudah lama mempunyai citra di kalangan pendukungnya, baik di kalangan nasionalis maupun di kalangan religius. Di kalangan religius bahkan Prabowo punya persepsi yang cukup baik berkaitan dengan maraknya politisasi agama dalam beberapa momentum elektoral akhir-akhir ini. Prabowo bahkan dianggap sebagai pembela kelompok Muslim, sesuatu yang akan menjadi modal besar ketika berhadapan dengan Jokowi yang berstatus petahana.

Karena itu, Prabowo tetap punya peluang. Mungkin hambatannya justru pada peluang itu sendiri. Pertama, Prabowo harus berhitung dengan syarat pencalonannya. Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Amanat Nasional (PAN) mungkin bisa mendukung. Begitu juga dengan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Kuncinya ada pada siapa calon wapresnya. PKS mensyaratkan akan mendukung jika cawapres berasal dari partai mereka. PKB tampaknya pun demikian. Hanya PAN yang lebih fleksibel.

Berkoalisi dengan PKS mungkin hal yang paling mungkin secara simbolis. Selama ini keduanya mendeklarasikan diri sebagai partai oposan terhadap pemerintahan Jokowi. Keduanya juga terlihat konsisten berkoalisi dan bekerja sama, baik dalam legislatif maupun di luar parlemen.

Masalahnya, adalah berat jika cawapresnya dipilih dari kader PKS. PKS mungkin partai yang cukup bagus dalam hal pelembagaan dan jaringan. Namun, kesan PKS eksklusif dan kurang fleksibel, sangat kuat. Kemampuan PKS untuk menjadi partai yang mampu menghasilkan banyak dukungan, baik dukungan suara maupun dukungan ekonomi, cukup sulit, kecuali di daerah perkotaan. Untuk konteks Pilgub DKI Jakarta tahun lalu bolehlah dijadikan contoh. Namun, untuk kasus di daerah lain sangat diragukan. Bahkan untuk konteks Pilgub Jawa Barat tahun ini, kemungkinan koalisi Gerindra-PKS untuk menang, terbilang kecil.

PAN ada di tingkat selanjutnya. Meskipun sempat menjadi partai pendukung pemerintah, tetapi sebenarnya roh dari PAN adalah oposisi. Hal ini ditunjukkan oleh ucapan dan sikap Amien Rais, salah satu tokoh utama PAN, dalam berbagai kesempatan. Amien banyak membuat framing yang menyudutkan pemerintah beserta partai-partai pendukungnya. Kasus terbaru adalah pernyataannya mengenai dikotomi “Partai Allah” dan “Partai Setan”.

Jelas, selama ada Amien Rais, PAN akan kecil kemungkinannya bergabung dalam koalisi pendukung Jokowi. Atau, jikapun bergabung, tidak dengan tulus seperti yang telah terjadi beberapa waktu yang lalu.

Calon partai koalisi potensial lain adalah PKB. Muhaimin Iskandar jauh-jauh hari sudah menawarkan dirinya menjadi cawapres. Ia mengusung nama besar dan pemilih besar, yakni kalangan Nahdliyin, mengingat PKB yang diklaim sebagai manifestasi NU dalam politik.

Namun, PKB dan Muhaimin (Cak Imin) akan terlihat sangat oportunis untuk kasus ini. Ia akan lebih fleksibel jika ada tawaran dari kubu yang lain. Permainan Cak Imin selama ini hanyalah untuk menunjukkan bahwa ia punya potensi besar. Tidak boleh ada satu pun kubu yang menyepelekan potensi yang ia miliki itu. Karena itu, Cak Imin dan PKB akan berhitung hingga detik-detik terakhir. Ia belum bisa dipastikan akan berlabuh ke kubu mana, karena memang itulah inti permainannya.

Lebih Berat
Meskipun tetap punya potensi, peluang Prabowo kali ini memang lebih berat. Prabowo memang masih cukup “menjual”, tetapi tidak seperti lima tahun lalu. Bahkan juga tidak seperti tahun 2017 yang lalu, saat perhelatan Pilgub DKI. Pamor Prabowo cenderung stagnan. Ia praktis hanya mengandalkan basis-basis pemilih militan yang jumlahnya terus menurun.

Kemungkinan munculnya Gatot Nurmantyo yang terlihat sangat ambisius adalah potensi lain yang makin memberatkan langkah Prabowo. Gatot punya basis pemilih yang sama dengan Prabowo. Suara akan menjadi terbelah dan tentu sulit menang. Dan, jika Prabowo serta Gatot maju, dapat dipastikan Prabowo bisa kalah.

Bahkan juga, jika Gatot memutuskan untuk maju dan memperoleh tiket pencalonan, Prabowo belum tentu bisa memenuhi syarat untuk maju. PKS ada kemungkinan akan berbalik mendukung Gatot yang lebih menjanjikan. Prabowo bisa gigit jari jika itu terjadi.

Maka, kunci dari pencalonan Prabowo sebenarnya ada pada tarik ulur calon-calon partai pengusungnya. Meskipun Prabowo sudah mendeklarasikan diri, pencalonan itu bisa gagal total jika tidak ada titik kesepakatan yang bisa dicapai. Sekutu terdekat Prabowo, yaitu PKS dan PAN, masih mungkin melirik calon lain yang potensial, yaitu Gatot. Sedangkan PKB sebenarnya hanya sedang menggoda untuk mendapatkan tawaran yang sesuai.

Urusan ini akan menjadi pelik dalam internal Gerindra. Perhitungannya adalah pada kemungkinan menang. Menggandeng PKS sangat mungkin, tetapi potensi menang kecil. Menggandeng PKB juga mungkin, tetapi bagaimana tawar-menawar dengan PKS dan PAN? Di sisi lain, PAN tampaknya juga sedang berhitung untuk mencari peluang yang lebih besar.

Kesimpulannya, adalah hak Prabowo untuk maju lagi menjadi capres pada Pilpres 2019. Namun, peluangnya akan menjadi berat. Kecuali, Prabowo sendiri mengalah dalam negosiasi dengan partai-partai pendukungnya, termasuk jika harus menjadi cawapres pengganti Gatot Nurmantyo yang ditolaknya saat melamar menjadi capres Gerindra.