Republik Insinuasi?

Opini: Arif Susanto

Analis politik Exposit Strategic.

Rabu, 2 Mei 2018 | 11:58 WIB

“Jika para kritikus Trump memang tidak lagi menghendaki sang presiden, ada baiknya mereka datang dengan sesuatu yang lebih bagus dibandingkan sekadar insinuasi buram dan pandangan kabur lagi ngawur,” demikian Barton Swaim menulis di The Washington Post, 12 Mei 2017. Bukan untuk mendukung Trump, Swaim tampak menghendaki suatu cara berpolitik lebih cerdas.

Politik insinuasi menjadi salah satu kunci kemenangan Trump dalam perburuan kekuasaan menuju Gedung Putih. Selanjutnya, Trump terus mempertahankan secara picik gaya insinuatifnya untuk menyergap lawan-lawan politiknya. Celakanya, sebagian dari mereka kemudian menggunakan strategi serupa untuk menohok balik Trump hanya untuk menghasilkan friksi politik yang nyaris tanpa akhir.

Sebagaimana Amerika Serikat, Indonesia pun sebenarnya merindukan cara berpolitik cerdas di tengah menggejalanya insinuasi yang kian sering disuarakan sejumlah elite politik. Sulit untuk menyebut insinuasi sebagai bagian dari kecerdasan politik, manakala tendensi untuk menjatuhkan pihak lawan jauh lebih kuat dibandingkan kehendak kritis untuk memperbaiki keadaan.

Insinuasi adalah suatu tuduhan tersembunyi. Meski sesungguhnya merupakan suatu tuduhan, ia dapat saja menyamarkan sasaran dan mengaburkan kenyataan. Tujuannya adalah agar massa--yang kerap diselimuti ketidaktahuan--mencerapnya begitu saja sebagai kebenaran. Sementara lawan, yang menjadi titik bidik, bingung untuk bereaksi karena ketidakjelasan karakter insinuasi.

Bekerja lewat jalan memutar, melalui sindiran atau pun kalimat-kalimat tidak langsung dengan konotasi negatif, insinuasi tidak membutuhkan basis fakta memadai sehingga sulit untuk dipertanggungjawabkan. Tidak serupa opini, insinuasi memiliki kualifikasi rendah, menyerupai prasangka dan dapat secara mudah jatuh menjadi fitnah semata karena tidak faktual.

Anehnya, insinuasi membebankan pembuktian fakta justru kepada lawan yang diserang. Sebagai contoh, saya menyebut bahwa di sekitar kita terdapat sejumlah figur politikus yang dungu dan bermental korup. Jika Anda membutuhkan konfirmasi, saya tinggal berkelit menyatakan bahwa saya tidak menuduh siapa pun, tetapi ada baiknya Anda periksa sekitar Anda.

Insinuasi telah lama menjadi suatu penyakit politik yang dapat digunakan secara mudah memanipulasi situasi demi menyerang lawan. Dampak kontroversi suatu insinuasi mungkin berbuah popularitas bagi seorang politikus, tetapi ia dapat pula menghasilkan pembelahan sosial. Tidak mengherankan, insinuasi hampir lekat dengan suatu politik pecah-belah.

Politik Cerdas
Kini semakin jamak kita mendapati insinuasi disampaikan nyaris tanpa rasa bersalah oleh segelintir politikus nasional. Seolah menciptakan suatu heroisme lewat ilusi pembongkaran skandal, misalnya, penyebar insinuasi berlindung di balik lemahnya penegakan hukum hanya untuk menangguk keuntungan politik tanpa peduli pada persoalan keadilan. Sungguh menyedihkan!

Tidak hendak terbuai gaya bahasa eufemistik dalam berbagai insinuasi, publik mesti lebih peduli pada kenyataan yang menjadi tuntutan setiap pernyataan mengandung kebenaran. Hal ini terutama karena di tengah ketidakpedulian dan ketidaktahuan, sebagian orang enggan melakukan konfirmasi data dan buru-buru menginterpretasikan tuduhan sebagai kebenaran.

Pada sisi lain, patut pula disayangkan retorika reaksioner pemerintah terhadap insinuasi semacam itu yang hanya menghasilkan polemik tanpa menyentuh substansi persoalan. Sebatas berbalas kecaman, polemik tersebut bahkan sulit untuk disebut komunikasi, karena tiadanya kehendak untuk menemukan kesepahaman silang di antara para penyampai pesan.

Akibatnya, politik nasional menjadi begitu gaduh oleh polemik dan friksi, tetapi gagal menemukan solusi atas masalah yang membelit bangsa. Sementara sebagian elite politik sibuk memproduksi insinuasi, rakyat terombang-ambing di antara harapan dan hasutan. Inilah suatu rekayasa yang berpotensi destruktif menjadikan Indonesia sebagai republik insinuasi.

Tanpa sikap reaksioner, pemerintah dapat menjawab kritik konstruktif dengan kerja nyata untuk memperbaiki keadaan. Sedangkan insinuasi, cukup dijawab dengan menunjukkan apa yang keliru pada argumen tanpa akurasi fakta penuh kesesatan. Transparansi dan integritas adalah tameng terbaik dari serangan insinuasi. Hal terakhir inilah yang harus dibuktikan oleh pemerintah.

Politik nasional tidak mungkin dibesarkan dari segala bentuk insinuasi sekadar sebagai gertakan politik untuk menjatuhkan posisi lawan dan menaikkan posisi sendiri. Demi membangun politik nasional lebih sehat, kita membutuhkan suatu komunikasi politik yang kompetitif sekaligus rasional, dengan segenap elite berebut dukungan massa lewat pertarungan gagasan-gagasan.

Meninggalkan cara berpolitik yang picik dan serba-tertutup, elite politik perlu mengembangkan relasi saling menghargai di antara mereka, dan membuka selubung transparansi bagi publik. Menanggalkan cara berpolitik yang paternalistik dan emosional, publik perlu menumbuhkan kemandirian lewat pendidikan politik dan diskursus sosial yang mencerahkan.

Tahun politik yang kini menjelang, layak diisi dengan kontestasi cerdas alternatif-alternatif solusi bagi berbagai masalah kebangsaan. Tidak hanya akan menjadi lebih rasional, panggung politik menjadi jauh lebih elegan manakala para politikus selalu berusaha mematut diri lewat berbagai terobosan gagasan. Tanpa pembaruan politik, kita patut mengkhawatirkan lahirnya suatu republik insinuasi.