Indonesia "Nabung" Saham

Opini: Nicky Hogan

Direktur Bursa Efek Indonesia.

Rabu, 16 Mei 2018 | 13:28 WIB

Tulisan ini dibuat dalam rangka acara tanggal 12 Mei 2018, persis dua tahun enam bulan, sejak pertama kali kampanye "Yuk Nabung Saham" diluncurkan oleh Bursa Efek Indonesia (BEI), tanggal 12 November 2015. Mungkin hanya suatu kebetulan belaka, tetapi ada apa dengan 12 Mei 2018?

Sejenak mari kita tengok saudara tua kita. Jepang, salah satu negara dengan skala ekonomi terbesar di dunia, ternyata punya pekerjaan rumah besar pula, dalam hal menambah jumlah investor pasar modalnya. Ternyata melek investasi bukanlah sesuatu yang umum di sana. Dan, tentu saja ini mengejutkan, mengingat Jepang adalah negara maju dan menjadi kiblat untuk banyak negara dan dalam banyak hal.

Ada dua fakta menarik. Pertama, jumlah penduduk usia tuanya yang tinggi, atau bahkan tertinggi di dunia, sekitar sepertiga dari total populasinya. Kedua, di sisi lain, penduduk usia mudanya tidak kunjung mulai berinvestasi. Bisa dibayangkan, ketika masanya generasi tua itu “berlalu”, yang tertinggal adalah para milenial dan penduduk usia muda, tetapi milenial dan penduduk usia muda yang tidak punya tabungan investasi. Menakutkan bukan?

Tingkat kepercayaan masyarakat untuk berinvestasi di pasar modal yang rendah dipicu cerita lama tentang “menakutkannya” pasar saham yang pernah terjun bebas di masa lalu. Plus, kondisi negara yang terus-menerus mengalami deflasi, tidak “memaksa” masyarakat untuk berinvestasi. Cukup dan tetap nyaman dengan menaruh dana di bank, sekalipun dengan tingkat suku bunga yang hanya 0,01 persen. Tidak heran, negara ini malah mendambakan inflasi, yang untuk sebagian besar negara lainnya begitu ditakuti.

Pemerintah dan otoritas keuangan Jepang yang sadar terhadap ancaman masa depan itu, tidak tinggal diam dan segera mengambil tindakan antisipasi. Adalah program yang disebut NISA (Nippon Individual Savings Account), diluncurkan tahun 2014, dan akan berlangsung hingga 10 tahun ke depan.

Sebuah kampanye, tetapi juga diikuti pemberian insentif. Insentif pajak. Masyarakat yang membeli (menabung) saham selama lima tahun, dalam jumlah maksimal total tahunan sebesar 1,2 juta yen (kira-kira Rp 150 juta rupiah) berhak atas insentif tersebut. Bebas pajak atas capital gain dan pajak atas dividen saham perusahaan yang dimiliki.

Dua tahun berikutnya, tahun 2016, juga diluncurkan Junior NISA, tabungan investasi untuk anak-anak dari usia 0 hingga 19 tahun. Lebih lanjut, awal tahun 2018 ini, mereka meluncurkan varian lainnya, Reguler Investment NISA, semacam dollar-cost averaging untuk investasi secara berkala dan jangka waktu panjang, 20 tahun.

Jepang, negeri yang indah, dengan masyarakat yang berbudaya tinggi, serta kulinernya yang selalu ngangenin. Mereka sungguh beruntung karena program nasional ini mengajar dan mendorong masyarakat untuk mulai mengakumulasi asetnya pada produk-produk pasar modal, yang imbal hasilnya lebih optimal, untuk tabungan masa depan dan hari tuanya.

BEI, ibarat seorang petarung, memulai kampanye "Yuk Nabung Saham" sendirian. Tentu saja ada dan banyak suara sumbang dan kontra di awal dan selama kampanye berlangsung. Layaknya sebuah bola salju kecil yang mulai bergulir dari ketinggian puncak gunung es, "Yuk Nabung Saham" perlahan mulai menggelinding sejak November 2015.

Bersyukur, dalam waktu singkat, para “superhero” lain mulai bergabung. Perusahaan sekuritas, sebagian kecil saja, karena hanya sekitar 30 dari total sekitar 110 perusahaan yang ada. Mereka bergabung menjadi partner dalam program "sekolah pasar modal", salah satu kegiatan BEI yang paling efektif dalam menambah jumlah investor baru. Kegiatan satu hari, pagi sampai sore, dengan tingkat inklusi 100 persen, mengonversi peserta menjadi investor.

Beberapa perusahaan sekuritas di antaranya juga sangat aktif bekerja sama dengan BEI merambah hingga pelosok Nusantara, mendirikan galeri investasi di banyak kampus perguruan tinggi. Dalam kurun waktu 2,5 tahun terakhir, berdiri lebih dari 200 galeri investasi di kampus-kampus seluruh Indonesia. Kalau kita sederhanakan, setiap minggu berdiri 1,5 galeri baru atau setiap dua minggu berdiri tiga galeri baru. Galeri itu merambah universitas negeri, universitas swasta, institut, akademi, sekolah tinggi, politeknik, dari kampus-kampus mewah mentereng, hingga kampus-kampus dengan ruang kuliah sangat sederhana, mulai dari kota-kota besar kelas ibu kota provinsi hingga pelosok daerah kelas kecamatan.

Apakah seluruh galeri investasi yang ada ini aktif? Jawabannya tentu saja tidak, karena ada saja yang galerinya melompong atau yang terkunci gembok berkarat. Namun, kampus dengan kelompok studi pasar modal (KSPM) yang mahasiswanya aktif dan “militan”, juga banyak.

Anak-anak KSPM itu kemudian menjelma menjadi agent of change atau tepatnya angel of change. Mereka membawa bekal ilmu, pengetahuan, dan pengalaman investasinya, saat pulang ke kampung halaman. Lalu, membangun desa nabung saham, galeri gampong, masyarakat nabung saham, kecamatan nabung saham, kabupaten nabung saham. Mereka adalah anak-anak milenial yang tergerak menyejahterakan sanak saudara dan sesamanya. Milenial zaman now yang sesungguhnya!

Galeri investasi syariah tidak kalah fenomenalnya. Pertama kali berdiri Desember 2015, hingga saat ini telah hadir di 50 perguruan tinggi. Selama dua tahun, sejak akhir 2015 itu, telah menambah jumlah investor saham syariah sebesar 459 persen menjadi 27.452 investor per Maret 2018.

Investor-investor berwawasan luas dan berpandangan jangka panjang tidak ketinggalan berbagi peran. Mereka membentuk komunitas-komunitas investor, saling berbagi, saling mengajari, saling berdiskusi secara berkala. Komunitas, perkumpulan, paguyuan tanpa orientasi bisnis dan profit, semata-mata untuk memasyarakatkan investasi, sukarela mendukung "Yuk Nabung Saham". Lintas usia, lintas profesi, lintas daerah. Berdasarkan catatan di BEI, saat ini ada sekitar 400 komunitas investor pasar modal di seluruh Indonesia.

Perusahaan tercatat di BEI juga tidak mau ketinggalan. Lebih dari 50 perusahaan tercatat (serta ratusan kantor swasta, instansi, organisasi, perkumpulan) telah melakukan kegiatan edukasi dan sekolah pasar modal untuk karyawan dan anggotanya.

Puluhan ribu rekening saham telah dibuka, mulai dari para pimpinan perusahaan, hingga para buruh. Dalam hal kepemilikan saham, mereka sekarang sama-sama owner, hanya beda di jumlahnya saja.

Beberapa turut memasang logo "Yuk Nabung Saham" di produk mereka, bahkan ada perusahaan tercatat yang sudah turut mendirikan galeri investasi di lokasi kantornya, dan terbuka untuk umum.

Lebih jauh lagi, lebih banyak lagi “superhero” yang bergabung. Ada wali kota, bupati, camat, lurah, kepala desa, dan jajarannya. Ada direktur pasar tradisional, ketua dana pensiun, ketua tim penggerak PKK, pemilik rumah sakit, pemilik hotel, pemilik kafe, pemilik koperasi.

Bola salju "Yuk Nabung Saham" masih terus bergulir, dan akan terus bergulir. Saat ini memang belum cukup besar, usianya baru 2,5 tahun. Perjalanan masih jauh, sangat jauh. Namun, akan menjadi sangat besar, meraksasa, dan powerful kalau lebih banyak lagi “superhero” yang bergabung, termasuk “superhero-superhero” pemerintah dan otoritas.

Lalu, ada apa dengan tanggal 12 Mei 2018?

Tanggal itu menandai bahwa genap 34 provinsi di Indonesia telah memiliki galeri investasi, akses langsung ke pasar modal dan BEI. Kesempatan belajar investasi (dan terhindar dari produk bodong), sekaligus menjadi investor pasar modal telah terbuka lebar.

Galeri investasi BEI yang diresmikan di Mamuju, Sulawesi Barat pada 12 Mei 2018 menjadi tonggak sejarah baru, melengkapi total 381 jumlah galeri investasi dan galeri investasi syariah di seluruh provinsi negeri ini. Tidak hanya berlokasi di kampus-kampus, tetapi juga di titik-titik lokasi lainnya, seperti pasar tradisional, hotel, kedai kopi, kantor perusahaan tercatat, kantor kecamatan, kantor PKK, rumah sakit, dan koperasi.

Pada saat peresmian Galeri Investasi BEI di Universitas Tomakaka, di Mamuju itu, saya teringat tahun lalu, 7 September 2017, pertama kali mendengar kalimat itu. Tetapi, "Indonesia Nabung Saham"? Tidakkah terdengar terlalu idealis dan berlebihan? Mungkin. Mudah-mudahan bukan karena saya terlalu banyak bermimpi dan terlalu sering nonton film superhero.

Tulisan ini juga dimuat Investor Daily edisi Selasa, 15 Mei 2018.

CLOSE