Mengenang Kebangkitan Nasional

Opini: Jerry Sambuaga

Penulis adalah doktor ilmu politik, dosen Universitas Pelita Harapan, dan kolumnis Suara Pembaruan.

Kamis, 31 Mei 2018 | 12:52 WIB

Hari Kebangkitan Nasional diperingati setiap tanggal 20 Mei. Peristiwa ini bermula dari tahun 1908, saat menguatnya pemikiran terhadap semangat dan konsep nasionalisme yang didasari oleh gerakan pendidikan. Salah satu organisasi yang dibentuk dan dianggap sebagai cikal bakal lahirnya aktivitas dan pergerakan yang menggagas perlawanan terhadap pemerintah Hinda Belanda adalah Budi Utomo. Seiring berkembangnya waktu dan dinamika politik zaman itu, kemudian lahirlah gerakan dan organisasi lainnya seperti Indische Partij, Syarikat Islam, Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, dan lainnya. Terlepas dari perbedaan asas, konsep, dan karakteristik dari semua organisasi tersebut, terdapat satu kesamaan yakni, semangat untuk melawan penjajahan pada saat itu.

Dengan kata lain, aksi melawan penjajahan dimulai dari organisasi-organisasi yang menyadari bahwa perlawanan terhadap penjajah akan bisa berhasil jika ada satu konsep persatuan dan kebangsaan yang solid. Upaya menuju persatuan dan kebangsaan itu tidaklah mudah dan membutuhkan proses yang panjang. Setiap momentum kebangsaan jelas adalah episode sejarah yang tidak terjadi dengan serta merta, tetapi butuh perjuangan. Perjuangan itu juga bukan perjuangan yang sederhana. Tidak terkira besarnya pengorbanan yang telah diberikan para pahlawan untuk menuliskan kata “Republik Indonesia” dan menyusun benang-benang yang membentuk bendera Merah Putih.

Secara khusus momentum kebangkitan nasional, adalah salah satu momentum krusial yang pernah dihadapi Indonesia. Itu adalah masa yang bisa dikatakan sebagai sebuah lompatan besar dari konsep kedaerahan, kesukuan, dan sikap serta perilaku tradisional menuju langkah yang jelas untuk membentuk sebuah bangsa. Kita menata diri untuk berserikat secara modern, membangun kekuatan dari susunan orang-orang yang plural, belajar menyelesaikan masalah dengan keputusan dan implementasi kolektif, mengubah dari perjuangan yang spontan menjadi perjuangan yang sistematis dan terencana dan sebagainya.

Itulah saat di mana kita menyusun batas atau pagar dari sifat kebangsaan Indonesia. Pagar yang tumbuh dalam landasan prinsip-prinsip bernegara. Pagar itu disusun satu demi satu, batu demi batu, hingga kemudian terbentuk satu batas bangsa yang jelas: Bangsa Indonesia. Bangsa di mana banyak sekali golongan, penganut agama dan budaya yang berbeda-beda tumbuh, bekerja sama dan saling memakmurkan. Pagar itu yang membedakan Bangsa Indonesia dengan bangsa lain.

Tugas generasi saat ini adalah menjaga batas itu. Ada prinsip-prinsip yang harus tetap menjadi identitas dari Indonesia. Jika prinsip-prinsip itu hilang, maka hilang pula Indonesia. Seperti kata presiden ke-40 Amerika Serikat Ronald Reagan, “Jika sebuah bangsa tidak mampu menjaga batasnya, maka ia tidak bisa disebut sebagai sebuah bangsa.” Barangkali Reagan mengacu pada batas fisik yaitu perbatasan wilayah. Namun, mungkin juga tidak. Karena bangsa bersifat tidak sama dengan negara yang lebih banyak sifat fisiknya. Definisi bangsa lebih bersifat abstrak dan merupakan kesepakatan antara banyak pihak. Seperti kata Benedict Anderson dalam Imagined Communities (1983), bisa dibilang bahwa batas sebuah bangsa adalah kesadaran kolektif sekelompok orang mengenai nilai dan kesepakatan-kesepakatan yang telah dibuat sejak pendirian bangsa tersebut.

Bung Karno pada pada awal kemerdekaan, dalam pidatonya selalu menekankan bahwa Indonesia hendak membentuk semangat nasionalisme dengan bukan mengedepankan identitas primordial berupa etnik, agama maupun golongan kebangsawanan. Itu adalah salah satu prinsip dasar kita. Itulah pula yang sebenarnya susah payah ditegaskan mulai dari zaman Budi Utomo sampai Sumpah Pemuda.

Prinsip dasar itu diturunkan dalam batas kesadaran bahwa persatuan dan kesatuan berbasis ke-Indonesia-an adalah pembeda kita dengan orang dari bangsa lain. Dengan sesama Melayu di Malaysia, misalnya, dengan sesama orang Jawa di Suriname, misalnya, atau dengan orang Ambon di Belanda, misalnya. Tanpa persatuan dan kesatuan dari kemajemukan, tidak ada lagi Indonesia. Kemajemukan adalah saudara sejiwa yang diciptakan Tuhan untuk ada secara bersama-sama dalam fondasi kehidupan berbangsa dan bernegara yang ada saat ini.

Reaktualisasi
Untuk itu, penting sekali melakukan reaktualisasi prinsip dan pagar kebangsaan itu. Apalagi saat ini ada sebagian oknum atau kelompok yang berusaha membongkar pagar dan kemudian menghancurkan prinsip landasannya. Merekalah sebagian orang yang ingin mengubah kesepakatan dan konsensus bersama tentang Indonesia yang majemuk dan nasionalis. Sebagaimana yang sering diceritakan dalam sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada masa menjelang kemerdekaan Indonesia, para pendiri bangsa, telah bersepakat untuk mendirikan negara untuk semua. Sedangkan para perusak bangsa yang nampak akhir-akhir ini berusaha mengarahkan Indonesia hanya untuk satu golongan.

Reaktualisasi perlu dilakukan dengan sistematis dan berkesinambungan, karena mereka yang hendak merusak dasar, pagar dan bangunan Indonesia juga melakukan upaya yang sistematis dan berkesinambungan. Nawacita Presiden Jokowi seharusnya sudah cukup untuk menjadi salah satu turunan dari keinginan untuk melakukan reaktualisasi itu.

Ada beberapa butir-butir yang menonjol dalam hal ini, yaitu revolusi mental, menghadirkan negara dalam kehidupan rakyat, dan pembangunan yang merata. Semuanya jika diintegrasikan merupakan susunan dari penataan kondisi mental dan pendekatan struktural-fungsional dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat.

Dalam konteks kekinian, pendekatan dan pemahaman tersebut harus diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Ini zaman demokrasi, pendekatan yang dilakukan memang harus pendekatan lunak dan partisipatif.

Namun, bukan berarti pendekatan yang koersif tidak diperlukan. Untuk mereka yang jelas-jelas hendak menghancurkan bangunan bangsa dan negara, negara harus menegaskan kehadirannya dengan koersivitas terukur. Untuk menangani ujaran kebencian, radikalisme dan terorisme yang masif akhir-akhir ini, misalnya, tidak ada kata lain selain dengan langkah tegas.

Pendekatan yang lunak dan partisipatif akan mengikuti jika penyakit utamanya yang merusak sudah ditundukkan. Kita mengapresiasi Presiden Jokowi yang telah melakukan langkah-langkah tepat dan strategis dalam menjaga pagar dan bangunan Indonesia. Kita, warga negara harus terus mendukung langkah-langkah itu. Langkah warga negara dan pemerintah akan memperkuat visi Indonesia yang maju dalam kemajemukan dan nasionalisme sebagaimana telah dirumuskan dan disepakati sejak zaman awal kebangkitan nasional