Gunungkidul, Transformasi Daerah Miskin Menjadi Bali Baru

Opini: Cyrillus Harinowo

Penulis adalah pengamat ekonomi.

Rabu, 6 Juni 2018 | 15:38 WIB

Pada salah satu media utama Jakarta pertengahan Maret 2018 diberitakan tentang masterplan pengembangan Gunungkidul lebih lanjut yang dimulai dari penataan Pantai Baron dan Pantai Krakal, diikuti oleh pantai-pantai yang lain. Pemerintah Kabupaten Gunungkidul tampak semakin percaya diri bahwa daerah mereka merupakan sebuah batu permata yang menunggu gosokan-gosokan para ahli. Salah satu indikatornya adalah retribusi daerah wisata pada 2017 yang mencapai hampir Rp 30 miliar.

Retribusi itu menjadi data statistik wisatawan yang sangat sahih dan menjadi sumber pengembangan lebih lanjut destinasi wisata meraka. Dari retribusi itu, jalan utama menuju Goa Pindul, misalnya, mampu diperbaiki dan diperlebar. Dengan dana itu pula pemerintah daerah setempat memelihara dan memperbaiki jalan yang menghubungkan Kota Yogyakarta dengan pantai-pantai di Gunungkidul sehingga senantiasa nyaman.

Di lain pihak, Pemerintah Provinsi DI Yogyakarta  juga semakin terlibat mengembangkan potensi wisata Gunungkidul. Dana dari provinsi, misalnya, dimanfaatkan untuk pembebasan lahan demi pengembangan akses baru ke Gunung Kidul, yaitu jalur jalan lintas selatan (JJLS) yang saat ini sudah selesai dibangun. Setelah pembebasan lahan selesai dilakukan, pemerintah pusat melakukan intervensi dengan mengalokasikan dana untuk pembangunan JJLS tersebut. Sampai saat ini, pengembangan infrastruktur tersebut sangat dirasakan manfaatnya oleh wisatawan.

Tranformasi berikut adalah maraknya pembangunan hotel, resor, dan penginapan lainnya di daerah tersebut. Berawal dari penginapan sederhana, dewasa ini pembangunan sudah terjadi untuk hotel kelas resor yang semakin lama akan semakin banyak. Gunungkidul lantas berubah menjadi batu permata dan impian pemerintah daerah kian mendekati kenyataan.

Bermula dari Daerah Miskin
Pada 1960 sampai 1970-an, Gunungkidul adalah daerah yang sangat miskin. Setiap musim kemarau, daerah tersebut kering kerontang dan kemiskinan mencapai puncaknya. Kasus busung lapar terjadi di banyak desa di daerah tersebut.

Kebangkitan pertama kabupaten tersebut diinisiasi oleh seorang bupati yang merupakan alumni Fakultas Kehutanan UGM, yaitu Darmakum Darmokusumo. Bupati yang menjabat dari tahun 1974 sampai 1984 tersebut mengembangkan program penghijauan daerah pegunungan kapur tersebut, terutama dengan pepohonan jati maupun jenis pepohonan lainnya. Untuk konservasi air minum juga digalakkan pembangunan tandon air yang menampung air hujan pada setiap rumah.

Daerah yang kering kerontang tersebut ternyata memiliki kekayaan sumber air yang berlimpah, berasal dari sungai bawah tanah di kedalaman 50 sampai 100 meter. Sumber air inilah yang akhirnya menjadi tulang punggung utama sistem penyediaan air bersih di Gunungkidul. Sumber air di Ngobaran, Baron, Seropan, dan Bribin, merupakan sumber yang mengalirkan air ke rumah-rumah penduduk melalui sistem pemipaan yang menjangkau wilayah yang sangat luas. Proyek Bribin 2, yang dibantu oleh Karlsruhe Institute of Technology dari Jerman, mengembangkan sumber air tersebut dengan membendung sungai bawah tanah dan mengangkat air menggunakan pembangkit mikro hidro yang dihasilkan oleh tekanan air itu sendiri. Teknologi canggih ini mampu nenyediakan air bersih dan debit yang besar dengan biaya yang rendah.

Dewasa ini lebih dari 70 persen rumah tangga di Kabupaten Gunungkidul yang sudah teraliri air bersih, suatu tingkat pemipaan yang bahkan lebih tinggi dari DKI Jakarta. Untuk daerah yang agak terisolasi, baru-baru ini program CSR (corporate social responsibility) sebuah perusahaan membantu pengembangan sumber air minum di Desa Banyumeneng, Kecamatan Panggang, yang menggunakan tenaga surya. Sistem ini mampu menjangkau daerah remote dengan biaya yang relatif rendah.

Pariwisata Penggerak Ekonomi Baru
Pengembangan ekonomi di Gunungkidul mulai memperoleh momentum baru dengan bergeraknya industri pariwisata daerah tersebut. Dalam laporan CSR PT Bank Central Asia Tbk (BCA), salah satu perusahaan yang aktif berkontribusi mengembangkan pariwisata di daerah ini, tercatat bahwa tahun 2011 jumlah wisatawan ke Gunungkidul baru mencapai 500.000 orang per tahun dihitung dari mereka yang membayar retribusi. Kendati sudah ada operator Dewabejo, daerah tersebut masih belum dikenal banyak orang. Padahal, daerah tersebut memiliki objek wisata potensial yang bernama Goa Pindul.

Hal mendasar yang menggarisbawahi transformasi daerah tersebut menuju daerah tujuan wisata adalah melatih dan membentuk sumber daya yang dapat berkiprah dalam mengelola, merawat, mempromosikan Goa Pindul menjadi daerah tujuan wisata. Pelatihan-pelatihan diberikan terutama menyasar keterampilan dan kemampuan manajerial, seperti melayani tamu (service excellence) dan melakukan studi banding ke desa wisata lain.

Dalam hal sumber daya, keterlibatan masyarakat lokal menjadi prioritas. Karena nilai lain dari pengembangan destinasi wisata adalah meningkatkan nilai tambah ekonomi dari potensi wisata di daerah tersebut untuk masyarakat setempat. Keterlibatan masyarakat setempat, selain untuk meningkatkan pendapatan ekonomi mereka, juga demi memupuk rasa memiliki agar Goa Pindul terus berkontribusi secara ekonomis dalam jangka waktu panjang.

Laporan CSR BCA juga mencatat bahwa pelatihan sumber daya manusia dalam hal pengelolaan Goa Pindul sebagai daerah tujuan wisata bukanlah satu-satunya solusi. Daerah tersebut masih membutuhkan banyak bantuan terkait peralatan dan perlengkapan yang menjamin wisatawan bisa menikmati kenyamanan. Peralatan dan perlengkapan yang diidentifikasi saat ini, meliputi puluhan ban dalam dan pelampung (life vest) untuk mengitari danau di Goa Pindul, sarana prasarana seperti kompleks bangunan penerimaan tamu dan kantor, serta pembenahan toilet dan kamar mandi.

Hal penting lainnya adalah mempromosikan Goa Pindul sebagai daerah tujuan wisata. Mudah memang menyebarluaskan informasi wisata baru seperti Goa Pindul saat ini dengan memanfaatkan berbagai kemudahan kanal informasi digital. Namun, informasi promosi tersebut harusnya presisi. Karena taruhannya adalah kesinambungan Goa Pindul sebagai tujuan wisata yang layak dinikmati oleh publik. Informasi promosi tidak boleh mengada-ada, sehingga ekspektasi masyarakat tidak berlebihan, agar wisatawan tidak kecewa sesudah tiba di tempat lokasi.

Dengan adanya berbagai transformasi tersebut, jumlah wisatawan mengalami peningkatan yang luar biasa. Tahun 2017 yang lalu, jumlah wisatawan ke daerah tersebut mencapai lebih dari 3 juta orang, peningkatan lebih dari 6 kali lipat sejak tahun 2011. Jumlah retribusi yang dihasilkan mencapai Rp 30 miliar, suatu sumber pendapatan asli daerah (PAD) yang sangat menjanjikan.

Dewasa ini pengembangan destinasi wisata di Gunungkidul mulai mengarah ke kawasan pantai, seperti Pantai Baron, Kukup, Sepanjang, dan Pantai Krakal. Pantai Indrayanti (Pantai Pulang Sawal atau Pulsa) tampil sebagai pantai yang paling populer di kawasan Gunungkidul karena keindahan dan kebersihannya.

Apa efek ganda dari pengembangan industri pariwisata di kawasan Gunungkidul ini? Ada sekitar 200 lapangan pekerjaan yang tercipta dengan penghasilan pekerjanya di atas upah minimum regional (UMR). Jumlah perputaran uang di seluruh kawasan Goa Pindul pada setiap bulannya saja mencapai kurang dari Rp 3 miliar, dengan tenaga kerja yang terlibat sekitar 1.000 orang. Ini jelas suatu penggerak ekonomi yang luar biasa.

Menuju Bali Baru
Keyakinan bahwa Gunung Kidul sebagai "the next Bali” bukanlah hal yang mengada-ada. Pada 2010, saya sudah menulis hal tersebut di sebuah koran nasional dengan judul "Monterrey di Gunung Kidul." Baru-baru ini saya kembali membandingkan Gunungkidul dengan kawasan wisata di Pantai Mediterania Italia yang bernama Cinque Terre. Gunung Kidul sangat layak untuk bersanding dengan kawasan wisata dunia dari segi keindahan dan kekayaan alamnya.

Dari segi sosialnya, kekayaan Gunungkidul adalah masyarakat yang dikenal sebagai pekerja keras, ramah, jujur, suka membantu. Semua itu merupakan karakter masyarakat yang sangat dibutuhkan di industri pariwisata. Yang dibutuhkan sekarang adalah edukasi masyarakat serta berbagai pelatihan untuk memonetisasi potensi tersebut.

Saya yakin, “Bali Baru” sebagai predikat bagi Gunungkidul sudah tidak akan melewati jumlah jari tangan dalam hitungan tahun. Karena bagi Indonesia, menemukan daerah-daerah baru dan mengembangkan menjadi “Bali Baru” merupakan hal yang penting dalam mewujudkan perekonomian yang berkelanjutan. Pariwisata menjadi salah satu lokomotif, yang menarik gerbong pertumbuhan ekonomi di sektor lain pada satu destinasi baru.

Pada 2019 nanti, era menjadi “Bali Baru” bagi Gunungkidul bukalah hal yang mustahil. Akan terjadi "ledakan" wisatawan setelah dibukanya bandara baru Yogyakarta. Inilah salah satu contoh konkret dari kerja sama yang berkesinambungan antara pihak swasta, pemda, dan pemerintah pusat untuk kemajuan sebuah kawasan baru. Semoga berkah Tuhan tak henti-hentinya mengalir ke daerah yang dahulu miskin ini.

Tulisan ini dimuat Investor Daily edisi 4 Juni 2018.