Pancasila Ideologi Feminis-Nasionalis

Opini: Eva Kusuma Sundari

Penulis adalah Ketua Kaukus Pancasila dan Pendiri Gerakan Rampak Sarinah

Senin, 11 Juni 2018 | 21:05 WIB

Perjuangan kesetaraan gender sering ditolak dengan tuduhan bahwa feminisme adalah paham impor dari Barat. Apa benar Kartini dan Soekarno menjadi tidak nasionalis karena memperjuangkan pembebasan (emansipasi) perempuan? Mereka justru penggagas ideologi feminis-nasionalis yang saling memperkuat.

Kartini besar dalam keluarga intelek yang banyak membaca literatur Barat, tetapi nasib bumiputra yang dalam kemiskinan dan keterbelakangan yang memicunya menjadi feminis. Demikian juga Soekarno yang sejak muda sudah bergelut dengan bacaan-bacaan dunia, tetapi pertemuannya dengan petani Marhaen yang memecutnya mengembangkan nasionalisme Indonesia, Marhaenisme.

Pengalaman "dipingit" menjadi titik balik bagi Kartini, sehingga ia memilih perjuangan membebaskan para perempuan sebagai strategi memajukan bangsa bumiputra. Soekarno memilih tindakan politik dengan mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI) untuk membebaskan bangsa dari "pingitan" kolonialisme.

Pertemuan pemikiran keduanya bertemu saat mengupas soal perempuan. Keduanya menyoal budaya feodalisme sebagai penghambat kemajuan perempuan. Kartini cemburu mengapa teman-teman perempuannya di Eropa bisa bebas menuntut ilmu karena tidak adanya tradisi pingitan.

Kartini juga sebal ketika feodalisme (ketertinggalan) bangsa Jawa menjadi ejekan orang Eropa yang juga membenci upaya bangsa Jawa membebaskan diri dari feodalisme. Apalagi kemudian para teman Belandanya justru minta ikut dipanggil kanjeng, panggilan yang dibenci Kartini karena wujud feodalisme Jawa.

Kartini seorang religius dan memilih untuk memahami Alquran secara kontekstual. Ia mengkritik para santri yang diajari Alquran berdasar hafalan semata. Kartini menempatkan Islam sebagai pelita jiwa setelah mengaji tafsir Faodirrahman dari kiai Sholeh Darat, Semarang.

Kartini tetap seorang perempuan Jawa meski jiwanya melanglang buana dan mengangkasa. Selain mengenal tembang dan gamelan Jawa, dia juga dikenal sebagai pendobrak kebekuan seni ukir Jepara. Para pengrajin binaannya mengadopsi motif Eropa, dipasarkan ke publik (sebelumnya hanya untuk priyayi) dan puncaknya adalah seni ukir Macan Kurung khas Jepara.

Nasionalisme Kartini tersurat di surat terakhirnya sebelum meninggal yaitu kepada Nona Zeehandelaar (12/1/1900). Dia bersyukur hidup di zaman perubahan (perlawanan ke kolonialisme). Dia yakin kelompok perempuan segera menyusul bergabung dengan perjuangan para laki-laki untuk mewujudkan zaman baru (kemerdekaan).

Apakah Soekarno dipengaruhi Kartini? Yang jelas, Soekarno menyebut Kartini dalam buku Sarinah (1947) sebagai contoh pejuang (feminis) Indonesia. Tidak ada bantahan dari Soekarno terhadap pemikiran-pemikiran Kartini. Di mana benang merah antara pemikiran keduanya?

Dalam buku Sarinah, sepakat dengan Kartini, Bung Karno (BK) juga menyoal dua hal penyebab ketertinggalan perempuan Indonesia, yaitu feodalisme dan kapitalisme (disebut kolonialisme oleh Kartini). Soekarno dan Kartini sama-sama memilih revolusi untuk menjebol dua sistem yang eksploitatif (diskriminatif) terhadap perempuan tersebut.

BK menunjuk teori pembagian kerja dunia utara-selatan sebagai bentuk baru kolonialisme sebagai penyebab pengisapan surplus dari bangsa selatan, termasuk Indonesia. Gerakan perempuan harus pula menggunakan pemikiran kritis demikian dalam membebaskan dan memajukan diri mereka.

Oleh karenanya, Soekarno menganjurkan bentuk gerakan perempuan ketiga, yaitu bersama-sama kaum laki-laki untuk membongkar feodalisme sekaligus nekolim (neokolonialisme-imperalisme) demi mewujudkan tata perekonomian dunia yang berkeadilan sosial. Bung Karno tidak menganjurkan "balas dendam" baik kepada laki-laki maupun kelompok utara, tetapi menganjurkan gotong royong yang syaratnya adalah kesetaraan.

Dalam relasi utara-selatan yang diametral, bukan saja perempuan, tetapi laki-laki juga menjadi korban, sehingga, sama seperti Kartini, BK juga meminta laki dan perempuan harus bekerja sama untuk membongkar sistem yang merugikan keduanya sebagai bangsa.

Masalah kesenjangan gender dan kemiskinan, global warming harus ditangani bersama-sama, gotong royong, atau kolaborasi dan networking global. MDGs dan SDGs adalah laboratorium dan eksperimen global yang menghadapi banyak tantangan berupa egoismenya negara yang menuntut peran sentral sebagai polisi dunia.

Untuk mewujudkan gotong royong, yang diperlukan adalah koordinasi yang hanya akan berjalan bila semua pihak melakukan aksi berbasis kesadaran. Gotong royong berisi dialog-dialog yang kaya karena melibatkan kebinekaan dan menghasilkan banyak pilihan, termasuk pilihan yang sama sekali baru hasil kreativitas yang diciptakan bersama.

Gotong royong MDGs adalah antitesis dari penyeragaman dan mobilisasi dari konsep perdagangan bebas WTO. Tata baru internasionalisme untuk SDGs adalah seperti usulan BK dan Kartini, yaitu berdasar kemanusiaan yang adil dan beradab yang merangkul (inclusive development) setiap bangsa dalam kesetaraan.

Simbol sila kedua Pancasila, rantai kotak-bundar yang bersambungan tidak berkeputusan menyatakan kesetaraan sekaligus kerja sama antar-SARA termasuk lintas gender. Soekarno sepakat dengan perumpamaan bahwa laki-laki dan perempuan ibarat dua sayap burung. Keduanya harus sama-sama kuat agar burung (bangsa) bisa terbang tinggi ke angkasa mewujudkan cita-cita bersama, yaitu keadilan soaial bagi seluruh rakytat Indonesia.

Dari pemikiran tersebut di atas, Pancasila lebih dari cukup dijadikan ideologi gerakan perempuan Indonesia, yaitu memberikan kebebasan perempuan memajukan diri, tetapi dalam rangka mewujudkan tujuan nasional. Pancasila merupakan bintang penuntun untuk gerakan perempuan Indonesia.