Spirit Harmoni Idulfitri

Opini: Syafruddin

Penulis adalah wakil ketua umum Dewan Masjid Indonesia.

Kamis, 14 Juni 2018 | 10:59 WIB

Jelang berakhirnya bulan suci Ramadan, ada rasa suka sekaligus duka. Idulfitri yang dinantikan tengah berada di pintu gerbang. Rasa bahagia mewarnai umat Islam yang tengah menjalani ibadah puasa di penghujung. Juga bagi para pencinta ibadah, menikmati khidmatnya beriktikaf dan rangkaian tadarus Alquran yang menyejukkan.

Keramaian suasana masjid saat jelang berbuka, salat tarawih hingga Subuh berjemaah yang padat, segera terlewatkan. Ramadan akan berpisah, beranjak ke bulan Syawal memasuki hari fitrah merayakan Idulfitri. Ada rasa haru, saat indah, dan nikmatnya Ramadan sampai di penghujung.

Sebagian saudara kita tengah menimati pulang kampung, mudik Lebaran. Ada rasa bahagia berkumpul bersama keluarga, sahabat dan menikmati nostalgia kehidupan kampung halaman. Meskipun jarak jauh ditempuh, kemacetan ditembus, aral melintang pun dilalui. Kita bersyukur, seiring dengan pesatnya kemajuan infrastruktur jalan, jarak tempuh pemudik bisa dilalui lebih mudah dan cepat.

Suatu keberkahan melalui Ramadan, sebagai bangsa kita dapat melaluinya dengan suasana yang tenang, aman, nyaman, damai dan khidmat. Meskipun jelang Ramadan sempat diguncang tragedi bom dan ingar bingarnya suasana tahun politik, alhamdulillah, semua dapat dilalui dengan lancar dan kondusif. Meski traffic komunikasi di media sosial begitu gencar dalam napas kehidupan demokrasi dan tegaknya hukum yang semakin matang, kondisi keamanan dan suasana nyaman tetap stabil dan kokoh.

Seiring dengan itu, masyarakat Muslim di belahan kawasan lain, di Timur Tengah, Eropa, Asia, hingga ASEAN, telah menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Islam rahmatan lilalamin menjadi rahmat dan berkah bagi semesta hadir sangat bergairah dan semakin cepat tumbuh dengan damai dan tulus di Eropa utamanya.

Apa yang telah dicapai sebagai kemajuan, tentu terus kita tingkatkan. Sementara, yang belum baik, menjadi pekerjaan rumah bersama keumatan agar segala persoalan dapat diselesaikan secara utuh dan menyeluruh. Jika perlu, memilih dan memilah mana yang menjadi prioritas untuk lebih cepat diselesaikan.

Hilangkan Stigma
Stigmatisasi terhadap umat Islam di Indonesia berlangsung lama. Sama saja secara langsung atau tidak, arah dan dampaknya secara luas pada Indonesia.

Secara sosio-demografi, warga Indonesia dengan mayoritas Muslim menjadi warga terbesar bangsa ini. Padahal, nilai keindahan dan pesona keragaman di Tanah Air sangat membanggakan. Begitu besar rahmat Tuhan YME, Allah SWT menghadirkan keindahan dan kekayaan sumber daya alam dan sumber daya sosial-kemanusiaan demikian harmoni, rukun dan berdampingin hidup dalam kebinekaan yang mengagumkan.

Dalam perspektif dunia Islam,--masyarakat dan negara-bangsa yang berpenduduk Muslim di dunia--kita menjadi bangsa yang patut berterima kasih atas rahmat dan berkah ini. Tegaknya NKRI, berlandaskan Pancasila dalam spirit Bhinneka Tunggal Ika, menjadikan Indonesia religius dan sangat agamis. Meskipun berdasarkan konsensus sejarah para pendiri bangsa yang bijaksana, kita bukan negara agama, dan tidak ada agama resmi negara.

Sejak peristiwa 911 tragedi WTC di New York, muncul stigma Islam teroris, Muslim teroris, seiring dengan terjadi rentetan peristiwa ledakan bom di banyak negara, terutama Indonesia. Peristiwa yang terjadi baru-baru ini dijadikan dalih penguat, fantastik, saat sebuah keluarga diberitakan melakukan bom bunuh diri secara sistematis karena alasan ideologis.

Dunia Islam pun berada dalam ujian. Ada paradoks, seakan kontradiksi antara nilai idealita dengan realita. Saat ini--meskipun satu agama dan keyakinan, bahkan satu bahasa Arab--beberapa negara Timur Tengah masih sibuk dengan konflik dan perang di antara dan antarmereka yang seakan tak ada habisnya.

Indonesia bukanlah Timur Tengah. Islam Indonesia meskipun muasalnya dari Rasul Muhammad SAW yang dilahirkan di tanah suci Makkah dan mendirikan negara dan peradaban Islam dari Madienatussalam, dalam hal tradisi dan budaya, lebih pada khas Islam Nusantara, Islam wasathiyah yang moderat, ramah, dan toleran. Terbukti, Indonesia pun menjadi negara dengan masyarakat Muslim demokratis terdepan dan terbesar.

Saat saya sebagai wakil ketua umum dan ketua harian Dewan Masjid Indonesia (DMI) diundang oleh Grand Syeikh Al Azhar di Mesir, beliau pun sangat mengakui adanya tradisi dan karakter Islam Indonesia yang khas dan kental dengan Islam wasathiyah-nya, Islam yang menjadi rahmat, kasih dan berkah bagi sesama.

Tudingan segelintir orang terhadap Indonesia sebagai ladang subur, bahkan akar dan sumber dari gerakan radikalisme, ekstremisme, fundamentalisme, serta terorisme, yang melahirkan sikap dan gerakan anti-Islam, (Islamofobia) masih ada dan bertumbuh. Tentu semua itu tidak berdasar, keliru, dan bisa juga menyesatkan.

Beragam nilai, ajaran, dan kalamullah yang suci pun mendapat persepsi negatif. Jihad yang berarti sungguh-sungguh berjuang untuk kebaikan, banyak disalahpahami. Sapaan salam dan assalamualaikum yang bermakna doa untuk kedamaian dan kebahagiaan telah menjadi syariat dan ajaran utama yang mentradisi dalam kehidupan sehari-hari.

Terkadang dengan mudah, pengamat dan peneliti ikut latah melakukan stempel dan identifikasi adanya masjid, pesantren, hingga kampus dan forum pengajian sebagai persemaian radikalisme. Salah paham, klaim, dan stigmatisasi tersebut tentu saja sangat mengganggu suasana kebatinan umat dan kehidupan rukun yang berjalan harmoni pada bangsa dan negeri ini.

Dengan tegas, saya sampaikan, tidak benar jika ada masjid dikategorikan atau dituduh radikal. Juga tak ada pesantren, kampus atau majelis pengajian yang radikal. Sebagai negara yang menjunjung supremasi hukum, sepantasnya, ada logika sehat, fakta hukum, bukti dan saksi yang mengarah kepada subjek hukum, berupa orang, beberapa orang, atau sekelompok orang.

Bukan masjid yang menjadi rumah suci peribadatan yang harus mendapat stempel atau dituduh radikal, seperti halnya koruptor, kriminal, atau bandar narkoba, yang tidak serta merta menerima stempel agama atau lembaga agama tertentu.

Amanah Memakmurkan Masjid
Sebelumnya, saya tak mengira akan mendapatkan amanah dari Ketua Umum DMI, HM Jusuf Kalla (JK), menjadi wakilnya di pimpinan pusat DMI. Secara moral dan spiritual, saya menyandang tugas tersebut lebih berat dari tugas keseharian saya di lingkungan Mabes Polri, termasuk saat ini, ketika presiden RI memercayakan saya sebagai penggawa Asian Games 2018 atau chef de mission (CdM) yang akan berlangsung pada 18 Agustus 2018 di Jakarta dan Palembang.

Saya menerimanya dengan tulus ikhlas. Karena itu pula ketika semula saya bertanya kepada Pak JK tentang alasan mengapa saya mendapat tugas mulia tersebut? Beliau menjawab bahwa dalam lingkungan Dewan Masjid Indonesia, syaratnya sangat gampang, yaitu siapa pun yang dapat melayani, mengurus “Rumah Allah” dengan ikhlas tanpa ada kepentingan lainnya selain beribadah dan mengabdi.

Sungguh, bagi saya sangat mengharukan sekaligus terasa berat mengemban amanah tersebut. Terasa ringan, karena sejak kecil semasa di kampung saya dekat jarak dan kegiatan rutin dengan masjid. Bahkan sejak muda, di kampung, saya mengurus masjid.

Satu pesan yang sangat menarik adalah, cita dan visi Pak JK tentang bagaimana memakmurkan dan dimakmurkan masjid. Bersyukur sekali, saya berada di PP DMI sekaligus dapat sambil terus belajar dan meningkatkan pengetahun agama, yang bersinergi dengan keumatan dari perspektif yang luas.

Sejak tujuh tahun lalu, saat Pak JK mengemban amanah sebagai ketua umum PP DMI, beliau telah mencanangkan gerakan memakmurkan dimakmurkan masjid. Para pengurus DMI, pengelola masjid, imam, katib, dan marbut, semua mendapat tugas mulia memakmurkan masjid. Mereka membuat manajemen masjid menjadi profesional; mengupayakan bantuan; memastikan legalitas terkait status dan hak milik tanah dan bangunan agar tak tergusur; menata masjid sebagai pusat ibadah dengan kondisi yang bersih, sehat dan tertata sesuai tuntunan syariat Islam. Itulah memakmurkan dalam amaliahnya.

Demikian juga, dimakmurkan masjid menjadi tugas dan kewenangan DMI bersama lembaga, pengelola bersama umat dan jemaah untuk menghadirkan kemakmuran bagi lingkungannya. Program pemberdayaan ekonomi berbasis masjid, wisata religi berbasis masjid, arsitektur masjid, pendidikan berbasis masjid, penyiapaan sumber daya umat dari kalangan remaja dan pemuda yang berkualitas, semuanya sangat bermanfaat.

Semangat kaum muda dan remaja masjid, serta meningkatkan layanan bagi anak-anak agar masjid ramah terhadap anak, semakin menggairahkan kegiatan para takmir (pengelola) masjid. Komunitas kaum muda antar masjid, antara pegiat dan pencinta masjid, semakin berkolaborasi. BKPRMI bersama Prima sebagai wadah berhimpun pemuda dan remaja masjid terus melakukan kaderisasi.

Secara khusus, komunitas pegiat gerakan ekonomi berbasis masjid terlahir melalui Isyef (Islamic Youth Economic Forum), dari kalangan menengah dan profesional muda terus bergerak cepat mendorong capaian program memakmurkan dan dimakmurkan masjid.

Program DMI pun sudah merambah dan beradaptasi dengan perkembangan digital. Program aplikasi DMI telah diluncurkan untuk menginformasikan keberadaan masjid, waktu salat, tugas imam dan katib, termasuk pengelolaan infak dan sedekah digital dalam menggalang potensi dana keumatan.

Keberkahan pun terasa kita nikmati bersama. Tak luput dari rasa syukur, mimpi umat Islam Indonesia untuk mempunyai Universitas Islam Internasional pun telah terwujud. Presiden Joko Widodo bersama Wapres HM Jusuf Kalla, secara bersamaan di bulan suci Ramadan meletakkan batu pertama sebagai tanda dimulainya pembangunan universitas yang sangat bermanfaat untuk membangun pendidikan Islam bertaraf global dan mengemban misi Indonesia sebagai kiblat peradabah Islam moderat.

DMI bukanlah pemilik masjid, juga bukan suporter utama pembangunan dan pengembangan masjid di Indonesia. DMI sangat terbuka menjalin kemitraan dengan semua elemen keumatan, kelembagaan, dan publik secara luas. Beragam potensi keumatan kita sinergikan dalam harmoni kerja sama yang terpadu bagi kemaslahatan umat, bangsa, dan negara.

Harmoni dari Masjid
Dari masjid, harmonisasi kehidupan keumatan memberikan pengaruh positif secara luas pada lingkungan sosial dan kebangsaan. DMI menjadi mitra, fasilitator, dan penggerak peran dan fungsi masjid sebagaimana masjid di zaman Nabi.

DMI berikhtiar bagaimana mengembalikan fungsi dan peran rumah ibadah, masjid maupun musala yang jumlahnya melebihi 850.000, untuk kembali ke khitah. Masjid sebagai asas ketakwaan untuk menjalankan ibadah kepada Allah (Hablumminalloh) seiring dengan menjalin harmoni dengan sesama hamba (hablumminannas).

Dari sisi sejarah, DMI memang didirikan oleh para ulama, umara, dan tokoh keumatan. Bahkan ada beberapa anggota perwira TNI dan Polri sebagai penggagas, pendiri, dan pengurus di masa awal.

Sejarah pendirian DMI dipelopori oleh 14 tokoh umat Islam saat itu, yaitu KH Moh Natsir, KH Achmad Syaichu, KH Hasan Basri, KH Muchtar Sanusi, KH Taufiqurrohman, KH Hasyim Adnan, Letjen TNI Purn H Sudirman, Jend Polisi Purn H Sucipto Judodihardjo, Kolonel H Karim Rasyid, Kolonel H Soekarsono, Brigjen TNI Purn H MS Raharjodikromo, Brigjen TNI H Projokusumo, H Fadli Luran dan H Ichsan Sanuha, mewakili 8 induk organisasi kemasjidan sebagai perwujudan yang mewakili para pengurus masjid dan musala seluruh Indonesia. Mereka bergabung dan bersatu bersepakat mendirikan kelembagaan baru organisasi kemasjidan di Indonesia dengan nama Dewan Masjid Indonesia (DMI) pada 10 Jumadil Ula 1392 H bertepatan dengan tanggal 22 Juni 1972.

Karenanya, sangat berlebihan dan tidak tepat ketika ada riak kecil di media sosial bahwa ada penunggangan dan politisasi pihak Kepolisian, TNI, atau lembaga lain dari pemerintahan. Tentu saja, kesan dan pandangan tersebut tidaklah tepat.

Dari masjidlah seorang Rasul Muhammad di zamannya, memulai peran dalam mengharmonisasikan segala aspek dan pelaku kehidupan. Islam, agama yang dari namanya merupakan kreasi Sang Pencipta. Dari Masjid pula dibangun landasan, dasar, dan fundamen ketakwaan. Dengan itulah peradaban Islam yang damai, humanis, rukun dan toleran dibangun hingga meraih kejayaannya dalam tempo sangat cepat melesat ke seantero dunia. Peradaban Islam hadir dan tumbuh berdampingan secara damai bersama peradaban yang telah terlahir sebelumnya.

Islam bermakna damai, tenang, nyaman, ketundukan, ketaatan, juga kepatuhan. Menjadi seorang Muslim atau Muslimah, dengan sendirinya sebagai umat Islam, adalah kesediaan untuk berpasrah, tunduk, patuh dan taat pada Allah dan Rasul-Nya guna menghadirkan kehidupan yang damai, tenang, tenteram, aman dan bahagia bagi sesama. Itulah hakikat dan fitrah beragama Islam untuk bersama menuju dan pada akhirnya kembali kepada Sang Maha Pencipta, Allah ‘Azza wa Jalla.

Masjid selama Ramadan menjadi sentra kegiatan umat dalam beribadah, bukan hanya giat ibadah, berpuasa, buka bersama, salat fardhu, salat tarawih, witir, hingga tadarus dan iktikaf di masjid. Begitupun, giat ibadah sosial kemanusiaan berlandas keislaman, mulai dari zakat, infak, sedekah, amal jariah, menunjukkan semangat dan gempita luar biasa. Layanan terhadap saudara sesama dari kalangan kaum duafa, fakir miskin, dan yatim piatu, sungguh sangat semarak.

Silaturahim antarpemimpin (umara), ulama, dan umat begitu sejuk dan nyaman, saling bersambung ukhuwah dan meningkatkan kerja sama. Ramadan menjadi suasana yang semakin meneguhkan spiritual values (nilai-nilai spiritual) dan moral yang sangat memberi manfaat kebaikan tersambungnya silaturahmi, sekaligus islah (rekonsiliasi alami dan damai) antara berbagai lapisan sosial.

Wajah bulan suci di Negeri Khatulistiwa ini menambah khidmat, saat saudara dan sahabat berbeda agama dan keyakinan penuh rasa hormat dan toleransi memuliakan saudara umat Islam yang berpuasa. Semoga semangat harmoni yang kokoh dalam segala aspek kehidupan yang menjadi tradisi dan budaya kehidupan keumatan dan kebangsaan tetap terus bersemi, terus tumbuh, bak indahnya warna-warni bunga di taman kehidupan yang indah dan membahagiakan.

Secara pribadi, keluarga, dan sebagai wakil ketua umum DMI, saya sampaikan selamat merayakan Idulfitri, teriring haturkan mohon maaf lahir dan batin.

Taqabbalallahu minna waminkum taqabbal yaa kariem.

CLOSE