Menggelorakan Kembali Polisi Sahabat Anak

Opini: Seto Mulyadi

Penulis adalah ketua umum Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) dan dosen Fakultas Psikologi Universitas Gunadarma Jakarta.

Kamis, 5 Juli 2018 | 11:25 WIB

“Ayo, kalau kamu nakal, nanti ditangkap polisi, lho....!”

Adakah orangtua yang hari ini masih sering menakut-nakuti sang buah hati dengan kalimat seperti itu? Mengendaplah di benak anak-anak kesan bahwa polisi adalah kejam, robot berseragam tanpa perasaan, dan bahkan peneror anak-anak. Adalah wajar kalau kemudian akhirnya anak-anak tumbuh dengan pandangan negatif tentang polisi, sehingga harus dijauhi, bahkan dilawan. Masuk akal juga bila akhirnya anak-anak menjadi enggan membangun hasrat menjadi polisi saat dewasa nanti.

Ini membuat saya tergelitik. Bagaimana jawaban anak-anak saat diajukan pertanyaan tentang,"Mau jadi apa, Nak kelak?"

Menjelang akhir dekade pertama tahun 2000, majalah Forbes mengajukan pertanyaan kepada ratusan pelajar sekolah dasar di wilayah New York. Di kalangan siswa berumur 5 tahun, hanya 7 dari 33 siswa mengatakan berhasrat menjadi superhero, semacam Batman, Spiderman, atau Spongebobs. Selebihnya cenderung idealis, tanpa terlalu peduli pada sisi pendapatan. Profesi sebagai polisi dan pemadam kebakaran memang populer sekali di mata anak-anak tersebut.

Bersemayamnya cita-cita di dada anak-anak adalah salah satu penanda perkembangan psikologis mereka yang positif. Cita-cita merupakan wujud kemampuan anak-anak berpikir (tepatnya berimajinasi) tentang masa depan. Cita-cita memperlihatkan derajat wawasan anak sekaligus keterampilannya dalam memperhitungkan kecocokan antara dirinya dengan sesuatu yang ada di luar dirinya sendiri. Dari situlah dapat dimengerti betapa pentingnya orangtua membuka perspektif anak dengan sebanyak mungkin profesi dalam kegiatan pengasuhan mereka.

Seberapa jauh cita-cita semasa anak akan konsisten hingga anak dewasa? LinkedIn, sekitar enam tahun lalu menyurvei delapan ribuan pekerja profesional di Kanada. Temuannya, sepertiga di antara responden menggeluti profesi yang berhubungan dengan fantasi mereka semasa kanak-kanak. Selebihnya, meski menekuni bidang kerja yang berbeda, mereka mengakui bahwa kebiasaan berimajinasi dan bermain peran tentang cita-cita sangat mendukung mereka dalam menjalani hidup sebagai individu dewasa yang produktif.

Juga penting disadari, rujukan anak saat menetapkan cita-citanya tidak lagi semata-mata berasal dari kisah orangtua ataupun guru dan buku. Menguatkan karakteristik anak-anak zaman sekarang, sumber inspirasi utama bagi cita-cita anak adalah tayangan-tayangan di kanal YouTube. Demikian hasil sigi Fatherly and New York Life terhadap ribuan anak berusia di bawah 12 tahun pada tahun 2017. Polisi, dokter hewan, teknisi, dan guru masih menempati profesi teratas pilihan anak-anak era milenial. Apalagi di kalangan anak laki-laki, keinginan menjadi polisi melonjak tajam dari peringkat 10 (survei 2015) ke peringkat 3.

Suatu hasil yang sama, Bureau of Labor Statistics (2012) menyusun daftar belasan jenis pekerjaan yang dicita-citakan anak-anak di negeri Paman Sam. Hasilnya, menjadi polisi berada di peringkat ketujuh.

Apabila jajak pendapat serupa dilakukan di Indonesia, dugaan saya hasilnya juga tidak akan jauh berbeda. Petunjuknya adalah begitu larisnya seragam polisi ukuran anak-anak dibeli untuk karnaval maupun acara parade busana di taman kanak-kanak.

Anak memang perlu ditempa menjadi insan yang tidak lagi takut untuk memilih sesuatu yang masih terlihat samar-samar di ufuk. Bahkan tidak melulu menjatuhkan pilihan untuk memuaskan fantasinya sendiri. Seiring dengan pematangan diri, mereka perlu dituntun untuk membangun titik temu antara hasrat pribadi dengan kemanfaatan yang dapat disumbangkannya bagi kehidupan.

Semakin bijak apabila pembicaraan mengenai bagaimana anak menggantung cita-cita setinggi langit selalu dilengkapi dengan ajakan agar anak merendahkan hatinya dengan berdoa,“Semoga Allah SWT membukakan jalan bagimu, menguatkan tekadmu, dan meringankan langkahmu.” Ini sekaligus akan merupakan bagian dari pendidikan agama dan pembangunan karakter anak.

Siapa Mendekati Siapa?
Melengkapi pertanyaan di awal tulisan ini, masih adakah polisi yang memiliki pemikiran, “Ah, anak-anak memang sumber masalah. Selalu bikin repot dan bikin pusing. Anak-anak melakukan kejahatan, biasalah itu. Diamkan saja, nanti masalah juga akan teratasi sendiri”?

Anak-anak perlu percaya bahwa saat mereka ditimpa kesulitan, polisi siap memberikan bantuan. Untuk itu, orangtua memiliki kepentingan untuk mendekatkan anak-anak ke polisi.

Pada sisi lain, polisi juga patut percaya bahwa anak-anak adalah “kasta” istimewa yang nantinya akan menjadi warga negara yang taat hukum, menegakkan kebenaran, dan menenteramkan sesama. Atas dasar itulah, polisi pun (seharusnya) merasakan kebutuhan yang sama untuk mengakrabkan diri dengan anak-anak.

Rekomendasi sedemikian rupa saya ajukan setelah membaca hasil survei klasik bertajuk British Crime Survey: Children’s Experience and Attitudes Towards The Police. Survei tersebut menyimpulkan, anak-anak yang mempunyai pengalaman berhubungan langsung dengan polisi ternyata menilai polisi secara lebih positif ketimbang anak-anak yang tidak memiliki pengalaman demikian.

Penilaian itu mencakup tiga hal. Pertama, polisi adalah sosok penolong dan ramah terhadap anak-anak. Kedua, polisi memperlakukan anak-anak dengan bobot yang setara dengan perlakuan terhadap orang dewasa, dan ketiga, polisi menangani masalah yang betul-betul sesuai dengan kebutuhan anak-anak di kawasan setempat.

Saya ingin mengemas temuan tersebut sebagai pesan istimewa bagi Polri di awal Juli ini. Bahwa, kendati Polri telah cukup lama membentuk unit layanan khusus bagi anak-anak (Unit Perlindungan Perempuan dan Anak serta Sub-Direktorat Remaja, Anak, dan Wanita), tetapi keluwesan serta ketulusan berinteraksi dengan masyarakat berusia kanak-kanak sesungguhnya merupakan sikap kerja yang patut semakin bersemi di sanubari dan praktik sehari-hari seluruh insan Tribrata.

Polri kini telah memasuki usianya yang ke-72. Bila dibayangkan di meja terdapat 72 lilin menyala, acara tiup lilin itu akan kian meriah dan penuh berkah manakala Bapak dan Ibu Polisi sudi meniupnya bersama dengan anak-anak Indonesia.

Saya ingat saat menggaungkan program Polisi Sahabat Anak bersama Polda Metro Jaya sekitar tahun 1985 silam, ratusan anak-anak TK terlihat begitu akrab dan mesra bersama Pak Polisi dan Bu Polisi.

Masih dalam suasana ulangtahunnya yang ke-72, marilah kita dengarkan kembali pujian anak-anak lewat nyanyian lembut mereka saat itu,“... lihat seragamnya, lihat gagahnya/lihat cantiknya, polisi Indonesia, aku bangga dan cinta padanya...!”

Dirgahayu Polri!

 

 

CLOSE