Setop Perdaya Anak Lewat Olahraga

Opini: Seto Mulyadi

Penulis adalah ketua umum Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) dan dosen Fakultas Psikologi Universitas Gunadarma Jakarta.

Kamis, 26 Juli 2018 | 11:40 WIB

Cognitive dissonance adalah keadaan ketika individu terbentur dengan serangkaian informasi yang saling berlawanan mengenai objek tertentu. Spesifik dalam masalah bahaya terhadap kesehatan, informasi-informasi yang saling kontras itu adalah rokok dan olahraga. Akibatnya, manusia akan mengalami kesulitan untuk menarik simpulan pasti, sehingga masyarakat--utamanya anak-anak--akan tidak mampu menentukan sikap definitif mereka terhadap rokok.

Begitulah pandangan saya saat menemukan setumpuk data tentang bagaimana sebuah perusahaan rokok raksasa menyelenggarakan program besar pembinaan atlet bulutangkis. Informasi di situs perusahaan rokok itu memamerkan jumlah anak peserta seleksi calon atlet binaan: dari 445 anak pada 2008, meningkat ke 4.000 lebih anak peserta seleksi pada hampir 10 tahun berikutnya. Pelonjakannya sekitar 1.000 persen!

Anak-anak tersebut tidak bisa disikapi hanya sebatas sebagai generasi belia yang bercita-cita menjadi olahragawan. Kehadiran perusahaan produsen rokok sebagai penyelenggara program tahunan tersebut, tanpa sadar memaksa semua kalangan untuk memandang ajang seleksi bakat muda bulutangkis sebagai strategi perusahaan untuk menciptakan cognitive dissonance terhadap bahaya rokok, khususnya di kalangan anak-anak.

Anak-anak bisa memahami pesan tentang “merokok membunuhmu!” di bungkus. Namun, program seleksi atlet bulutangkis menstimulasi anak-anak untuk justru kemudian bergerak mendekati fasilitas yang disediakan oleh perusahaan benda pembunuh itu. Inilah bentuk keberhasilan perusahaan rokok dalam menetralkan pesan tentang bahaya rokok.

Informasi lain dari situs perusahaan rokok tersebut adalah pada 2008, sebanyak 20 anak terpilih sebagai atlet binaan. Berlanjut 9 tahun sesudahnya 29 orang. Jadi, anak-anak yang akhirnya direkrut rata-rata hanya 20-an anak setiap tahun

Ini tentu bukan masalah angka semata. Terlihat di situs perusahaan rokok tersebut, nama dan logo rokok dipajang di semua atribut seleksi yang diselenggarakan di kota tersebut. Kostum anak-anak peserta seleksi pun dilengkapi dengan nama dan logo rokok dimaksud. Nomor pun ditempel di kostum anak-anak dengan tidak menutupi nama dan logo rokok tersebut. Di otak saya, ini bentuk promosi sekaligus strategi pemunculan cognitive dissonance yang dikerahkan secara ekstrem.

Ajang Pemasaran
Saya pun tak kuasa menutup-nutupi pertanyaan, apa yang hakikatnya ingin diberikan perusahaan rokok ke masyarakat, terutama generasi muda Indonesia. Toh, tanpa harus menerapkan rumus matematika tingkat dewa sekalipun, manusia biasa sudah dapat menarik simpulan betapa jumlah peserta seleksi yang terus berlipat ganda dari tahun ke tahun sungguh-sungguh tidak sebanding dengan jumlah anak yang terpilih sebagai olahragawan bulutangkis binaan. Pun masuk akal apabila banyak kelompok di masyarakat yang menganggap bahwa pada hakikatnya bukan perekrutan bibit-bibit olahragawan masa depan yang sedang dilakukan. Yang terkesan kuat perekrutan tenaga pemasaran cilik masa kini sekaligus cikal-bakal perokok masa depan.

Pertanyaan berikut ini saya sampaikan ke tiga pihak. Pertama, di mana gerangan posisi berdiri negara, terutama pemerintah dan DPR, terhadap rokok? UU Perlindungan Anak perlu direvisi dengan mencantumkan eksplisit kata “rokok” dalam konteks pelarangan. Rancangan UU Pertembakauan (atau sejenisnya) pun sepatutnya mencantumkan hal yang sama.

Kedua, bagaimana memikat para pelaku usaha selain industri rokok agar mau masuk dan menggali keuntungan dari ceruk yang saya yakini punya prospek profit yang sangat besar ini? Bulutangkis adalah olahraga rakyat. Jumlah anak-anak Indonesia pun bukan main banyaknya. Anak-anak penggemar bulutangkis, bahkan termasuk yang hanya bermain dengan raket tripleks dan net karet gelang di lorong gang, pasti melimpah.

Ketiga, di mana konsistensi ayah bunda dan keluarga dalam mengedukasi anak-anak mereka akan bahaya mematikan yang berasal dari rokok? Segenap orangtua patut memiliki keinsafan, anak-anak--apalagi yang masih seumur jagung--memerlukan informasi dan keteladanan yang tidak memunculkan kebingungan tafsir. Kepada anak-anak seharusnya diberikan penjelasan ala bilangan biner: hitam atau putih, menyakitkan atau menyehatkan.

Informasi dan sikap yang mendua, apalagi saat orangtua sendiri adalah perokok, jelas akan membuat anak terperangkap ke dalam cognitive dissonance. Dan itu sama sekali tidak berdampak positif bagi upaya membangun sikap mental dan perilaku antirokok.

Perhelatan seleksi atlet bulutangkis oleh perusahaan rokok, tidak cukup hanya dilihat sebagai masalah hari ini. Secara kasat mata, tiap tahun terselenggara kampanye manipulasi pikiran terhadap ribuan anak Indonesia yang dilakukan secara masif. Meminjam ungkapan metafora tempo doeloe, inilah kudeta merangkak terhadap akal sehat masyarakat, khususnya berjuta anak-anak Indonesia.

Saya bersama Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) mengajak semua elemen negara untuk memulihkan nalar sehat serta kewarasan jalan lurus yang sepenuhnya berpihak pada kepentingan terbaik anak. Perusahaan rokok, berhadapan dengan bayangan buruk di kaca, seyogyanya patut berhenti memperdaya generasi muda lewat ajang olahraga. Semoga.

Tulisan ini juga dimuat di Suara Pembaruan edisi Selasa, 24 Juli 2018.

CLOSE