Yamaha Cetak Surplus Perdagangan Rp 11,8 Triliun

Yamaha Cetak Surplus Perdagangan Rp 11,8 Triliun
Karyawan melakukan pengecekan unit kendaraan di pabrik PT Yamaha Indonesia Motor Manufacturing, Jakarta, 3 Desember 2018. ( Foto: Antara / Puspa Perwitasari )
Harso Kurniawan / HK Senin, 3 Desember 2018 | 21:23 WIB

Jakarta - PT Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM) merayakan pencapaian akumulasi ekspor sepeda motor dalam bentuk utuh (completely built up/CBU) sebanyak 1,5 juta unit. YIMM adalah perusahaan motor pertama yang mampu mengekspor sebanyak itu.

Tingginya ekspor membuat YIMM mampu mencetak surplus perdagangan Rp 11,8 triliun sepanjang tahun ini. Adapun nilai ekspor YIMM tahun fiskal 2018 diproyeksikan mencapai Rp 13 triliun, dengan volume 338 ribu unit.

Acara perayaan itu dihadiri Presiden Joko Widodo (Jokowi), Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Menteri Sekretaris Negara Praktino, Sekretaris Kabinet Pramono Agung, Kepala BKPM Thomas Lembong, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, dan Duta Besar Jepang untuk Indonesa Ishii Masafumi di pabrik YIMM Pulogadung, Jakarta Timur, Senin (3/12).

Wakil Presiden Direktur Eksekutif YIMM Dyonisius Betty mengatakan, dalam empat tahun, Yamaha meningkatkan ekspor hingga 14 kali lipat, dengan kandungan lokal 94%. Pada 2014, ekspor Yamaha mencapai 23 ribu unit, kemudian pada 2018 ditargetkan mencapai 338 ribu. Pada periode itu, total ekspor Yamaha mencapai 1,5 juta unit. Motor ekspor terlaris Yamaha adalah jenis sport, R Series, dan skutik naxi, seperti Xmax dan Nmax.

YIMM, kata dia, juga dipercaya memproduksi motor besar berkapasitas 300 cc yang dipasok ke pasar global. Seiring dengan itu, Dyon meminta pemerintah memangkas pajak mewah motor berkapasitas mesin di atas 3.000 cc, yang tarifnya kini mencapai 45%. Tarif ini memberatkan produksi dan penjualan domestik.

"Jadi, kami meminta pemerintah mempertimbangkan penurunan pajak barang mewah motor 300 cc ke atas," ujar dia.

Dia mencatat, sepeda motor CBU Yamaha yang diproduksi YIMM telah diekspor 45 lebih negara maju dan berkembang, dengan tujuan ekspor Asia, Eropa, Afrika, Amerika Latin dan Australia. Di sisi lain, Yamaha berinvestasi Rp 2,6 triliun untuk membangun dua pabrik di Jakarta dan Karawang, yang memiliki kapasitas produksi sebanyak 3 juta unit per tahun. Di Indonesia, Yamaha memiliki 4.200 jaringan penjualan dan bengkel yang menyerap 250 ribu tenaga kerja.

Sementara itu, Presiden Jokowi sangat mengapresiasi Yamaha, karena menjadi perusahaan otomotif yang berhasil meningkatkan daya saing Indonesia. Langkah Yamaha ini dapat memperkuat ekonomi dan menurunkan defisit neraca perdagangan.

Permasalahan utama Indonesia saat ini, kata Presiden, adalah impor lebih besar dari ekspor. Dengan ekspor, diharapkan kestabilan neraca perdagangan bisa dicapai

Yamaha, kata Presiden, juga menjadi perusahaan otomotif dengan kandungan lokal tertinggi, yaitu 94% dan bisa menjadi role model bagi perusahaan otomotif lainnya. Dia menyukai sepeda motor Yamaha karena tangguh. Alhasil, ketika membuka Asean Games 2018, Jokowi menggunakan sepeda motor Yamaha

"Kalau untuk ketangguhan dan kekuatan, Yamaha sudah yang terbaik dan sudah saya buktikan di Asean Games," ujar dia.

Jokowi juga mengajak Yamaha tidak hanya mendorong ekspor, tetapi menambah investasi. “Jika ada keluhan investasi, langsung lapor ke kementerian. Jika tidak bisa juga, Yamaha bisa langsung lapor ke istana,” tegas Jokowi. 



Sumber: Investor Daily
CLOSE