Ilustrasi Bursa Saham.

Jakarta - PT CIMB Principal Asset Management (CPAM) menargetkan akan meluncurkan lima sampai enam produk reksa dana pada tahun 2013.

Presiden Direktur CPAM, Reita Farianti, mengatakan keseluruhan produk tersebut diharapkan dapat memenuhi target dana kelolaan (Asset Under Management/AUM) sebesar Rp 3 triliun hingga akhir tahun 2013.

"Saat ini posisi dana kelolaan CPAM hingga bulan Maret telah mencapai Rp 2,33 triliun," kata Reita dalam jumpa pers di Gedung Graha Niaga, Jakarta, Kamis (21/3).

Dia menjelaskan, enam produk yang akan diluncurkan terdiri dari, dua jenis reksa dana terproteksi, dua jenis reksa dana saham, dan sisanya reksa dana campuran.

“Kita saat ini tengah memproses untuk menerbitkan produk ketiga yakni reksa dana terproteksi, sedang menunggu keputusan dari OJK (Otoritas Jasa Keuangan), Insya Allah pada kuartal II-2013,” kata dia.

Reita menjelaskan, pada Februari lalu CPAM telah meluncurkan produk reksa dana terproteksi jenis CPX-XII dengan AUM sebesar Rp 90 miliar.

“Kita targetkan dana kelolaan reksa dana terproteksi yang akan diluncurkan sebesar Rp 100 miliar, begitu juga dengan jenis yang konvensional,” sambung Reita.

CPAM baru saja meluncurkan reksa dana saham CIMB-Principal Indo Domestic Equity Fund yang pengelolaan dananya diinvestasikan minimal 80 persen pada sektor domestik (infrastruktur dan konsumsi) dan sisanya pada sektor komoditas, dengan target dana kelolaan mencapai Rp 200-300 miliar dalam satu tahun.

Direktur Investasi CPAM, Fajar Rachman Hidayat, menjelaskan dalam kesempatan yang sama menjelaskan, produk reksa dana yang baru saja diluncurkan hari ini dapat mencapai return 15-20 persen dalam satu tahun.

“Tolak ukur (benchmark) dari produk ini yang sesuai yaitu IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) dimana pada 10 tahun terakhir mencatatkan return diantara 15-17 persen. Pasti akan ada konsolidasinya,” kata Fajar.

Lebih lanjut, dari keseluruhan produk reksa dana yang akan diluncurkan pada tahun 2013 tersebut, CPAM menargetkan dapat mencapai nilai AUM hingga mencapai Rp3 triliun pada akhir tahun.

Penulis: Ronna Nirmala/WBP