Nobu Bank.

Jakarta - PT Bank Nationalnobu (Bank Nobu) siap mencatatkan saham perdananya melalui mekanisme penawaran saham perdana (initial public offering/IPO).

Dalam due diligence meeting dan public expose Bank Nobu, Direktur Utama Bank Nobu, Suhaimin Djohan mengatakan, perseroan akan melepas 2.155.830.000 saham biasa atau 52 persen dari modal yang ditempatkan, dan disetor penuh dengan kisaran harga Rp 325-400 per lembarnya. Sehingga, perseroan bisa meraup dana segar sebesar Rp 600-800 miliar.

Direktur Utama Ciptadana Securities, Ferry Budimanatanja selaku penjamin emisi Bank Nobu mengatakan, kisaran harga tersebut mencerminkan penetapan harga saham perdana berdasarkan Price to Book Value (PBV) 2,5-3,1 kali dan Price Earning Ratio (PER) 20-25 kali.

"Secara PE relatif diatas market karena ada pertumbuhan Bank Nobu luar biasa cepat," ujarnya di Hotel Aryaduta, Jakarta, Selasa (16/4).

Pihaknya pun akan lebih melakukan pendekatan ke calon investor institusi dalam penawaran IPO ini. Sedangkan jadwal emisi book building pada 12-19 April 2013, pernyataan efek dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) 29 April, masa penawaran 1-2 Mei 2013, tanggal penjatahan 6 Mei 2013 dan pencatatan di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 8 Mei 2013.

Lebih lanjut mengenai dana IPO, Suhaimin menerangkan, seluruh dananya akan digunakan untuk pertumbuhan usaha dalam bentuk ekspansi kredit. "Kita targetkan bisa tumbuh 50 persen dari perolehan kredit akhir Desember lalu Rp 413 miliar. Bisa tembus Rp 1 triliun di akhir tahun ini," sebutnya.

Perseroan, tambah Suhaimin, akan terus berkomitmen dalam penyaluran kredit pada segmen usaha kecil dan menengah (UKM) baik berupa kredit modal kerja maupun kredit investasi. "Kami komitmen agar UKM tumbuh, itu misi. Kami ingin menjadikan UKM sebagai pemain global," ujarnya.

Seiring dengan itu, Suhaimin menambahkan, perseroan juga akan melakukan ekspansi pada jumlah kantor cabang dari April ini 51 menjadi 70 di akhir tahun atau bertambah 30 di tahun ini. Di mana, perseroan juga akan menambah kantor cabang di 5-10 provinsi dari saat ini di 14 provinsi. "Dana untuk ekspansi kredit dan tambahan cabang butuh dana Rp 1 triliun," katanya.

Sementara dari sisi rasio kecukupan modal (CAR) ditargetkan tiga tahun ke depan akan turun dari 70 persen menjadi 30-40 persen untuk biaya ekspansi kredit Bank Nobu.

Lebih lanjut, kata Suhaimin, dengan penambahan modal melalui IPO ini, maka perseroan akan menjadi bank yang masuk ke dalam kategori Buku II. Sehingga, perusahaan yang didirikan pada 13 Februari 1990 atas nama PT Alfindo Bank dan berganti nama menjadi PT Bank Nationalnobu pada 2008 itu bisa menjadi bank devisa, menghimpun dana masyarakat dalam valuta asing, penyaluran dana melalui sindikasi, menyelenggarakan layanan internet banking, menerbitkan kartu kredit, layanan remittance, dan menjadi agen penjual reksa dana. "Dengan permodalan Rp 1 triliun, kami akan masuk Buku II. Kami bisa leluasa kembangkan bisnis," tukasnya.

Adapun, setelah IPO nanti maka kepemilikan saham PT Kharisma Buana Nusantara atau Mochtar Riady menjadi 24,12 persen, Nio Yantony 9,65 persen, PT Prima Cakrawala Sentosa 5,08 persen, PT Lippo General Insurance Tbk 5,08 persen, dan PT Putera Mulia Indonesia 4,06 persen, lalu 52 persen oleh masyarakat.

Suara Pembaruan

Penulis: O-2

Sumber:Suara Pembaruan