Ilustrasi Bitcoin

Jakarta - Penggunaan bitcoin secara global makin marak sejak Gubernur Bank Sentral Amerika Serikat Ben Bernanke mengeluarkan pernyataan soal mata uang digital tersebut.

Bernanke mengirim surat pada tanggal 12 November 2013 ke Departemen Keamanan Dalam Negeri (Departement of Homeland Security) mengenai bahaya bitcoin sebagai alat pencucian uang.

Kepada Senat, Bernanke juga menyampaikan mengenai prospek mengenai bitcoin sebagai alat pembayaran yang lebih cepat, aman, dan efisien dibanding alat tukar konvensional. Sejak Bernanke mengeluarkan pernyataan tersebut, nilai tukar bitcoin naik hingga US$200 per 1 bitcoin (btc) menjadi US$785. Padahal, di akhir 2012, bitcoin hanya US$13,5 per 1 btc.

Namun, apakah sebenarnya bitcoin itu?

Bitcoin adalah sejenis mata uang digital yang dikeluarkan oleh seorang programmer dengan nama samaran “Satoshi Nakamoto” pada Januari tahun 2009. Satoshi mengeluarkan sebuah piranti lunak dimana komputer akan “menambang” bitcoin dalam jumlah yang terbatas.

“Anggap seperti mata uang dalam game online yang bisa diperdagangkan dengan mata uang asli seperti yuan, dolar, dan rupiah,” ujar Oscar Darmawan, co-founder situs jual-beli bitcoin www.bitcoin.co.id. “Bedanya, bitcoin bisa ditransaksikan untuk membeli barang-barang di dunia nyata”.

Oscar menjelaskan, bitcoin dihasilkan oleh para “penambang” menggunakan komputer mereka. Komputer-komputer ini melakukan kalkulasi algoritma untuk menebak kombinasi angka yang dikeluarkan oleh piranti lunak bitcoin yang dibuat Satoshi. Jika berhasil menebak, maka 25 bitcoin (btc) akan diberikan kepada penambang/para penambang.

“Setiap 10 menit hanya akan keluar 25 bitcoin di seluruh dunia. Siapa yang mendapatkannya? Random(acak). Jumlah yang dikeluarkan terbatas untuk mencegah oversupply,” ujar Oscar.

Menurut situs Mt. Gox, hingga saat ini, piranti lunak bitcoin sudah mengeluarkan 12.150.600 btc, dengan nilai saat ini nyaris mencapai US$ 9 miliar.

Oscar mengatakan untuk “menambang” bitcoin, bisa menggunakan komputer biasa, namun penambang profesional menggunakan alat khusus untuk mempercepat komputasi, mulai dari yang berbentuk seperti USB hingga sebesar casing PC. Harga alat ini berkisar antara Rp 1,5 juta hingga Rp 200 juta.

“Alat bantu ini membantu meningkatkan kemungkinan anda mendapatkan bitcoin, karena ada banyak sekali penambang di luar sana,” ujarnya.

Oscar mengatakan software Satoshi akan terus menghasilkan bitcoin hingga tahun 2140 dimana jumlah bitcoin yang dihasilkan hingga saat itu sebesar 21 juta btc.

“Setelah 2140, software akan berhenti mengeluarkan bitcoin. Tetapi biaya transaksi bitcoin (biaya transaksi menghasilkan bitcoin) hingga saat itu akan terus menambah persediaan bitcoin,” ujarnya.

Penulis: Faisal Maliki Baskoro/FMB