500 Orang Terkaya Dunia Rugi Triliunan Gara-gara Skandal Trump

Bill Gates saat memberikan sambutan pada acara peluncuran The Indonesia Health Fund di Jakarta, Sabtu (5/4). (Suara Pembaruan/Ruht Semiono)

Oleh: Faisal Maliki Baskoro / FMB | Jumat, 19 Mei 2017 | 12:57 WIB

New York - Orang-orang terkaya di dunia rugi US$35 miliar (Rp 468,8 triliun) setelah pasar ekuitas global diguncang skandal politik Presiden AS Donald Trump dan mantan Direktur FBI James B. Comey.

Menurut Bloomberg Billionaires Index, aset 500 orang terkaya di dunia jatuh dari US$ 4,89 triliun pada Selasa (16/5) menjadi Rp 4,86 triliun pada Rabu (17/5).

Pendiri Microsoft dan orang terkaya dunia dengan aset US$ 86,8 miliar, Bill Gates, rugi US$ 1 miliar karena saham Microsoft Corp tumbang 2,8 persen pada perdagangan Rabu (17/5). Co-founder Amazon.com Jeff Bezos rugi US$ 1,7 miliar gara-gara saham perusahaannya turun 2,2 persen. Akibat rugi tersebut, Bezos turun menjadi orang ketiga terkaya di dunia, setelah posisinya direbut raja ritel Spanyol dan bos Zara, Amancio Ortega. Ortega sendiri mengalami rugi US$ 355 juta.

Pendiri Facebook Mark Zuckerberg mengalami rugi paling besar. Zuckerberg rugi US$ 2 miliar setelah saham raksasa media sosial tersbut terkoreksi 3,3 persen. Zuckerberg adalah orang terkaya kelima dunia.

Di AS pada penutupan Rabu (17/5), Dow Jones Industrial Average turun 1,78 persen ke 20.606,93, S&P 500 turun 1,82 persen ke 2.357,03, dan Nasdaq turun 2,57 persen ke 6.011,23. Sementara, indeks MSCI All-Country World turun 1,2 persen.

Pasar global terguncang hebat akibat skandal Trump yang menjurus ke pemakzulan. Menurut artikel New York Times yang dipublikasikan pada Selasa (16/5), Trump pernah meminta Direktur FBI James B. Comey untuk menutup penyelidikan FBI terhadap mantan penasihat keamanan nasional Trump, Michael T. Flynn. Permintaan tersebut dinyatakan Trump dalam sebuah rapat di Oval Office Februari lalu dan dicatat dalam memo Comey.

Gedung Putih membantah Trump berusaha campur tangan urusan FBI. Trump memecat Comey pada Selasa (9/5) karena penyelidikan keterlibatan Rusia dalam politik AS yang menyeret Flynn.

H.R Feldman, profesor hukum dari Harvard, mengatakan jika Trump terbukti menyalahgunakan wewenang atau menulis memo tersebut dengan niat buruk maka Trump bisa dimakzulkan.








Sumber: Bloomberg
ARTIKEL TERKAIT