Meikarta Hasilkan Prapenjualan Rp 4,9 Triliun untuk LPKR

Foto aerial pembangungan proyek kawasan Meikarta di Cikarang, Bekasi, Jawa Barat. (Antara/Hafidz Mubarak)

Oleh: Feriawan Hidayat / FER | Senin, 23 Oktober 2017 | 17:37 WIB

Jakarta - PT Lippo Karawaci Tbk berhasil membukukan pendapatan prapenjualan sebesar Rp 5,4 triliun hingga akhir kuartal ketiga 2017. Kontribusi prapenjualan terbesar berasal dari proyek Meikarta dengan nilai Rp 4,9 triliun per 30 September 2017.

Presiden Direktur LPKR, Ketut Budi Wijaya mengatakan, di tengah pelemahan pasar properti, pihaknya berhasil memutarbalikkan tren dengan meluncurkan Meikarta sebagai kota modern baru yang berkualitas namun tetap terjangkau di jantung pusat industri Indonesia.

"Dalam waktu 4 bulan sejak awal diluncurkan pada pertengahan Mei 2017, Meikarta telah menghasilkan pra penjualan sebesar Rp 4,9 triliun sehingga total pra penjualan selama 9 bulan di 2017 menjadi Rp 5,4 triliun. Capaian tersebut, merupakan angka pra penjualan tertinggi sepanjang sejarah LPKR," kata Ketut dalam siaran pers yang diterima Beritasatu.com, Senin (23/10).

Sementara itu, kata Ketut, rencana akuisisi bersama atas Lippo Plaza Jogya dan Siloam Hospitals Yogyakarta oleh LMIRT dan First REIT dengan total estimasi senilai Rp 834,6 miliar akan kembali dilaksanakan. LMIRT dan First REIT telah menandatangani akta Usaha Bersama atau joint venture atas rencana akuisisi bersama untuk bangunan terintegrasi di Yogyakarta, dari LPKR.

Properti ini terdiri atas komponen mal ritel yang dikenal sebagai Lippo Plaza Jogya (LPJ) dan komponen rumah sakit yang dikenal sebagai Siloam Hospitals Yogyakarta (SHYG). LPJ akan diakuisisi senilai SGD 61,1 juta dan SHYG senilai SGD 27,28 juta.

"Transaksi akuisisi properti-properti tersebut tergantung pada persetujuan dari para pemegang unit penyertaan dari REITS serta persetujuan dari Otoritas Moneter Singapura (MAS) dan Singapore Exchange Securities Trading Limited," kata Ketut.

Struktur akuisisi bersama ini, dilakukan karena tidak adanya peraturan daerah di Yogyakarta untuk menerbitkan akta sertifikat strata secara terpisah untuk LPJ dan SHYG.

JV Yogyakarta Indoco pada tanggal 13 Oktober 2017 telah menandatangani CSPA untuk rencana akuisisi Properti tersebut dan akan memegang Properti tersebut dalam satu akta sertifikat Hak Guna Bangunan.

SHYG memiliki luas kotor bangunan (GFA) seluas 12.474 meter persegi (m2) dengan kapasitas maksimum sebanyak 220 tempat tidur dan telah beroperasi sejak bulan Juli 2017 dengan Center of Excellence untuk Neuroscience dan Kardiologi.

LPJ memiliki GFA seluas 66.098 m2 (terdiri atas 35.965 m2 untuk mall dan 30.133 m2 untuk wilayah parkir) yang telah diisi oleh beragam penyewa termasuk bioskop, para penjual makanan dan hypermarket. Mal ini telah menjadi salah satu pusat gaya hidup terbaru di Yogyakarta, dan telah beroperasi sejak bulan Juni 2015.

"Kami percaya pasar properti Indonesia akan mulai pulih pada akhir 2017. Kami senang bahwa model bisnis recycling capital kami telah berjalan dengan baik, dimana akuisisi Siloam Hospitals Buton oleh First REIT telah tuntas dan penjualan properti di Yogyakarta akan kembali dilaksanakan. Kami akan bekerja keras, dan senantiasa melaksanakan strategi asset light kami secara konsisten untuk mengembangkan bisnis kami," kata Ketut.




Sumber: BeritaSatu.com
ARTIKEL TERKAIT