Salah satu Pedagang yang ada di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur

Jakarta - Pengelola Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur terus menata kawasan pasar yang menyuplai sekitar 60 persen kebutuhan buah-buahan dan sayur mayur di DKI Jakarta itu.

Untuk mensukseskan langkah ini, pihak pengelola mengimbau pedagang kaki lima (PKL) yang menjual makanan dan minuman untuk berjualan di foodcourt. Bahkan, pengelola menggratiskan enam bulan pertama bagi PKL yang menyewa kios di foodcourt.

"Gratis sewa selama enam bulan meski service charge seperti listrik dan air tetap dibayar pedagang," kata Manajer Unit Pasar Besar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, Benny Leonard saat ditemui di kantornya, Selasa (19/3).

Benny mengatakan, meski setelah enam bulan sudah tidak gratis lagi, harganya masih terjangkau. Setiap harinya, pedagang membayar Rp 2.500 dikalikan ukuran kios yang seluas 2X1,5 meter.

"Saat ini masih relatif terjangkau, tidak lebih dari Rp 2,5 juta perbulan. Biaya itu untuk pengelolaan pasar, untuk biaya kebersihaan, sampah, keamanan dan lainnya," kata Benny.

Benny mengatakan, foodcourt disediakan agar kawasan pasar seluas sekitar 14,7 hektar itu lebih tertata. Para pengunjung pasar dapat membeli makanan dan minuman dengan lebih nyaman, sementara para pedagang pun dapat lebih terjamin.

Dari sekitar 100 ruang yang disediakan pihaknya di lantai foodcourt itu, baru terisi sekitar 50 pedagang. 32 diantaranya merupakan pedagang binaan pengelola pasar.

Sementara itu, ruang yang masih kosong, ditujukan untuk sekitar 120 PKL yang masih berjualan di sekitar pasar.

Meski demikian, Benny mengatakan pihaknya tidak memaksa para PKL untuk berjualan di foodcourt. Bagi pedagang yang tetap berjualan di luar area foodcourt, pihaknya menerapkan jam operasional bagi PKL.

"PKL makanan dan minuman boleh tetap berjualan, tapi jamnya diatur. Mereka boleh berjualan dari jam 17.00 WIB, hingga pukul 05.00 WIB," kata Benny.
Kebijakan ini, menurut dia untuk melindungi pedagang formal yang telah membuka kios di foodcourt.

"Cenderung orang itu cari gampang dengan membeli dari PKL, sementara pedagang resmi di foodcourt. Kalau mau dari pagi silakan ke foodcourt, tapi kalau tidak mau, ikuti aturan jamnya. Ini supaya pedagang resmi juga kebagian rezekinya," kata Benny.

Untuk menata PKL di sekitar pasar ini, Benny mengatakan pihaknya akan menginventaris para pedagang dan jenis jualannya. Dengan demikian, pihaknya dapat merangkul mereka.

"Kita tidak melarang, tapi tertib. Kita harus lindungi pedagang formal kita dan arus barang. Yang jelas kami menata pasar ini dengan cara persuasif dan sesuai dengan aturan. Karena ini lahan pemerintah dan ada aturan yang harus dipenuhi," jelasnya.

Selain menata PKL, Benny mengungkapkan pihaknya terus berupaya untuk menjaga keamanan di sekitar lewat kerja sama dengan kepolisian guna menindak tegas siapapun yang kedapatan melakukan tindak pidana di dalam kawasan ini.

"Kami tidak ragu untuk menindak yang menjual miras, atau berjudi meski jumlahnya kecil," katanya.

Benny juga menjamin keamanan pasar ini. Indikasinya, banyak bank yang bersedia untuk membuka kantor cabang di sekitar area pasar yang merupakan tempat mencari nafkah sekitar 2.026 pedagang.

"Kalau tidak aman, tidak mungkin sejumlah bank besar tersebut mau buka kantor di sini," katanya.

Sementara itu, terkait dengan kebersihan, Benny menuturkan saat ini, dengan suplay sayur mayur dan buah-buahan dari seluruh Indonesia untuk didistribusikan ke sekitar Jabodetabek hingga Sumatera 24 jam tanpa henti, pasar induk memproduksi sekitar 200 kubik sampah per harinya.

Pihaknya bekerja sama dengan Dinas Kebersihan DKI Jakarta agar sampah tidak menumpuk dan segera dibawa ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bantar Gebang, Bekasi.

Suara Pembaruan

Penulis: F-5/FER

Sumber:Suara Pembaruan