Maket mass rapid transport (MRT), sebagai bentuk sosialisasi berkala sistem transportasi yang ditargetkan mulai beroperasi 2016 dengan trayek Bundaran Hotel Indonesia (HI)-Lebak Bulus yang bisa mengangkut sebanyak 15000 orang dalam satu kali perjalanan.

Jakarta - Pemprov DKI telah menyiapkan dua stadion sebagai pengganti Stadion Lebak Bulus yang akan digunakan sebagai depo mass rapid transit (MRT). Kedua stadion tersebut adalah Stadion Bersih Manusiawi Wibawa (BMW) di Sunter, Tanjungpriok, Jakarta Utara, dan Ulujami di Jakarta Selatan.

Kepala Dinas Olahraga dan Pemuda (Disorda) DKI Jakarta Ratiyono mengatakan, bila pembangunan depo MRT disetujui dilakukan di Lebak Bulus, maka Pemprov harus mencari stadion pengganti Stadion Lebak Bulus. Untuk itu, pihaknya sudah menyiapkan Taman BMW di Sunter, Jakarta Utara untuk dijadikan stadion skala internasional. Juga akan membeli lahan di kawasan Ulujami, Jakarta Selatan untuk dibangunkan stadion sepakbola dan fasilitas olahraga lainnya.

"Kami harus mencari pengganti Stadion Lebak Bulus. Sementara stadion yang sudah mendekati proses pembangunan adalah Stadion BMW. Diiringi itu, kami juga tetap menghendaki membeli lahan di Jakarta Selatan. Artinya, kita kehilangan stadion, tetapi tumbuh dua stadion baru yang besar," kata Ratiyono, Selasa (26/3).

Progres pembangunan Stadion BMW, paparnya, sudah sampai dalam pengukuran tanah oleh Badan Pertanahan Nasional (BPN). Pengukuran dilakukan untuk pembuatan sertifikat tanah sebagai dokumen sah kepemilikan tanah. Bila pembuatan sertifikat sudah selesai, maka langsung dilakukan lelang dan pengerjaan fisik. Pembangunan akan dilakukan dengan sistem multiyears, desain stadion pun sudah ada di seluas lahan 4,5 hektar.

"Kami sudah siap sejak lama sebenarnya. Namun, kami menunggu penyelesaian sertifikat tanah. Desain sudah ada. Jadi tinggal jalan saja," ujarnya.

Untuk menyukseskan pembangunan stadion internasional ini, Ratiyono mengajak semua masyarakat di Jakarta mendukung proses pengerjaan fisik. Dia meminta para penggarap atau warga yang tinggal di kawasan itu dengan senang hati pindah. Kalau tidak punya rumah, Pemprov DKI akan menyiapkan rumah susun (rusun).

Sebenarnya, lanjut Ratiyono, jika Gubernur mengatakan setuju pembangunan depo MRT dilanjutkan di Lebak Bulus, maka proses perpindahan pun dapat dilaksanakan segera. Para pegawai di stadion tersebut sudah didistribusikan ke lokasi-lokasi lainnya untuk dipekerjakan. Sehingga tidak ada pegawainya yang kehilangan pekerjaan.

"Jadi mau pemberitahuan sebulan lagi, dua bulan lagi, kami sudah siap-siap. Pegawai kami sudah siap. Para pegawai sudah kami distribusikan kepada lokasi-lokasi lain, sehingga tidak ada yg tidak bekerja. Tetapi sekarang, stadion Lebak Bulus masih bisa digunakan untuk bermain sepakbola," jelasnya.

Sedangkan rencana pembangunan stadion di Ulujami, Disorda DKI sudah meminta tim apraisal (penaksir harga) independen untuk menaksir harga tanah di kawasan tersebut pada tahun lalu. Pada APBD 2012 telah dianggarkan pembebasan lahan Ulujami sebesar Rp 99 miliar. Sayangnya, tanah yang bisa dibebaskan baru sebagian saja. Sehingga terjadi Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SiLPA) yang cukup besar.

"Tahun lalu, kita tidak bisa beli semua karena tidak cocok harganya. Karena itu, dananya dikembalikan lagi ke Kas Daerah. Artinya SiLPA Disorda cukup besar dari pos anggaran ini," ungkapnya.

Hal itu dikarenakan harga yang ditentukan tim apraisal bervariasi. Ada empat zona lahan dengan harga mulai dari Rp 1,6 juta permeter hingga Rp 3,5 juta per meter.

Untuk tahun ini, Ratiyono mengungkapkan pihaknya mengalokasikan anggaran pembebasan lahan di Ulujami sebesar Rp 20 miliar. Bila ternyata harga dengan warga telah cocok dan jumlah yang dianggarkan kurang untuk pembayaran lahan, maka pihaknya akan mengajukan anggaran biaya tambahan dalam APBD Perubahan 2013.

"Tanahnya kita bebaskan dulu. Lalu kita sertifikatkan tanahnya, baru kita adakan lelang fisik. Kalau sudah ada pemenang lelangnya, baru pembangunan fisik dilaksanakan. Lahan yang mau dibeli tepatnya di cupingan tol Pesanggrahan," paparnya.

Penulis: Lenny Tristia Tambun/NAD