Jakarta - Tak mau ambil risiko terhadap sengketa tanah, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta memutuskan tak akan melakukan bedah kampung di atas tanah tanpa sertifikat.

Artinya, untuk melaksanakan bedah kampung, warga harus memiliki sertifikat tanah milik sendiri. Bukan tanah sengketa atau tanah milik negara.

Wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama mengatakan, saat ini sudah dilakukan bedah kampung di RW 01 Kelurahan Cakung Barat, Jakarta Timur. Pembenahan kampung ini dilakukan atas corporate social responsibility (CSR) tiga perusahaan.

“Jangan tanya soal teknis bedah kampung di Cakung Barat, tanya ke Dinas Perumahan saja. Yang jelas, penataan kampung harus ada negosiasi dengan warga. Kemaren kita bisa lakukan bedah kampung dengan cepat karena terjadi kebakaran,” kata pria yang akrab disapa Ahok di Balai Kota DKI, Jakarta, Senin (3/6).

Diungkapkannya, di Jakarta saja cukup banyak rumah warga yang dibangun di atas tanah milik negara. Kondisi seperti ini, tidak mungkin dilakukan bedah kampung. Karena bila dilakukan, maka seolah-olah Pemprov DKI mendukung warga menduduki tanah ilegal atau tanah bukan miliknya sendiri.

“Rumah di atas tanah milik negara, kalau seperti ini tidak mungkin diubah kampungnya,” ujar Ahok.

Karena itu, lanjutnya, sebelum melakukan bedah kampung di suatu kawasan, Dinas Perumahan dan Gedung Pemerintahan Daerah harus meneliti terlebih dulu keabsahan kepemilikan tanah. Artinya, rumah warga harus memiliki sertifikat tanah, status tanah bukan tanah milik negara atau sengketa.

“Makanya harus dicek dulu. Artinya yang bedah kampung harus tanah milik mereka sendiri. Tidak boleh tanah negara,” tegasnya.

Bedah kampung telah dilaksanakan di RW 01 Kelurahan Cakungbarat, Jakarta Timur. Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo telah meletakkan batu pertama dalam pembangunan kantor RW 01 yang dibangun melalui dana CSR tiga perusahaan, Minggu (2/6).

Tiga perusahaan tersebut yakni BNI, PT Adhi Karya, dan United Traktor. Mereka memberikan bantuan untuk pembangunan kantor RW 01 dan tiga rumah warga di RW yang sama.

Penulis: Lenny Tristia Tambun