Kota Bogor Dinilai Belum Ramah Pejalan Kaki

Kota Bogor Dinilai Belum Ramah Pejalan Kaki
Pagar pembatas jalan yang menjamur menyulitkan pejalan kaki menyebrang jalan. ( Foto: Beritasatu Photo/Ignasius Herjanjam )
Ignatius Herjanjam / FER Senin, 27 November 2017 | 16:10 WIB

Bogor - Kebijakan Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor yang menutup banyak akses pejalan kaki dengan memasang pagar pembatas jalan menuai kecaman bukan hanya dari warga Bogor namun juga dari koalisi pejalan kaki (KPK).

"Kalau kita perhatikan akses jalan mulai dari stasiun Bogor menuju balaikota tidak ramah bagi pejalan kaki apalagi untuk lansia dan penyandang disabilitas. Sepanjang jalan trotoar dipagari dan pejalan kaki harus memutar. Belum lagi di sekitar balaikota sulit bagi pejalan kaki menyebrang jalan," papar ketua KPK, Alfred Sitorus, di Bogor, Senin (27/11).

Alfred melanjutkan, kurang nyamannya pejalan kaki mengakses jalan-jalan di Kota Bogor bermuara dari penerapan sistem satu arah (SSA).

"Etalase Kota Bogor memang di sekitar Kebun Raya Bogor (KRB) dan balaikota. Namun itu pun tidak akses bagi pejalan kaki. Semenjak SSA diterapkan, hak-hak pejalan kaki terampas. Zebra cross yang ada bahkan tidak berfungsi. Mestinya pemkot memasang pelican crossing, dan kembali memfungsikan zebra cross. Kalau perlu diperbanyak untuk memudahkan akses pejalan kaki," tukasnya.

Dia menyatakan, selain dampak SSA yang meyulitkan pejalan kaki, kebijakan Pemkot dalam menata PKL juga berimbas merugikan pejalan kaki.

"Untuk menata PKL di kawasan Dewi Sartika misalnya, justru mengorbankan hak pejalan kaki. Konsep mobilitas harusnya mengacu bagaimana memindahkan dan memudahkan orang (pejalan kaki), bukan memindahkan kendaraan atau PKL yang malah merugikan pejalan kaki. Wali Kota Bogor harusnya peka terhadap hal ini," tandasnya.

Berdasarkan pantauan Suara Pembaruan, di sekitar balaikota akses bagi pejalan kaki untuk menyebrang jalan terasa sulit. Pihak dinas perhubungan dan kepolisian menutup akses pejalan kaki dengan memasang pagar di ruas-ruas jalan tertentu.

"Sulit bagi saya untuk menyebrang jalan karena banyak ruas jalan yang dipagari. Padahal dulu saat kampanye Bima Arya berjanji untuk menjadikan Kota Bogor ramah bagi disabilitas," kata Heri (40) salah seorang penyandang disabilitas.



Sumber: Suara Pembaruan
CLOSE