Count Me In Indonesia

Ketika tiba pada pemecahan masalah banjir yang kerap hadir di Jakarta, Arnold Abdi, pengusaha pengelolaan limbah dan pencinta lingkungan hidup sama sekali tidak mau berbicara tentang Pemerintah.


“Anak-anak adalah agen perubahan yang sangat penting dan kuat,” ujar Arnold yang menyempatkan waktu dari jadwalnya yang padat untuk mengajar anak di Penjaringan, salah satu area yang terkena imbas cukup parah pada bencana banjir yang lalu, tentang pengelolaan limbah dan menjaga lingkungan. “Akan sulit ketika kita berbicara kepada generasi muda, yang memasuki usia 20 . Fokus utamanya adalah untuk mengedukasi anak-anak.”


Arnold adalah pendiri Armada Kemasan Nusantara, perusahaan daur ulang kertas yang berkembang. Ia percaya bahwa pendidikan, interaksi dan pelatihan dasar pengelolaan limbah adalah kunci dari perubahan.


“Sebagian besar masyarakat  di daerah terkumuh di Jakarta bahkan tidak tau apa itu tempat sampah,” ujar pria 37 tahun lulusan Universitas Trisakti. “Di daerah kumuh, beberapa diantaranya terletak di tengah-tengah daerah yang orang sebut sebagai kawasan elit, sepert Kemang atau Buncit, tiap inci dari tanahnya dipenuhi sampah, anak-anak bermain disekitarnya dan orang-orang memasak di dekatnya. Bagaimana kita bisa mengharapkan tempat tinggal mereka berubah jika tidak ada seorangpun yang mengajarkan mereka bagaimana caranya untuk berubah? Pemerintah tidak mengedukasi masyarakat tentang isu lingkungan hidup, menyediakan tempat sampah atau menjelaskan kepada mereka tentang bagaimana mengelola sampah sehari-hari.”


Untuk mencegah degradasi lingkungan di Jakarta, Arnold berkata bahwa mengedukasi anak-anak adalah kuncinya.


“Pada generasi berteknologi tinggi, dimana anak-anak berinteraksi dengan iPads dan permainan indoor, kecenderungan yang membahayakan adalah kurangnya interaksi dengan alam,” ujarnya.


“Karena hal ini, ada resiko bahwa anak-anak mungkin tidak lagi mengerti betapa berharganya lingkungan kita. Jadi adalah hal yang penting bagi kita sebagai orang dewasa untuk terus mengedukasi mereka tentang betapa pentingnya untuk perduli dan menyelamatkan lingkungan kita.”


Berdasarkan data, Jakarta memproduksi lebih dari 6.000 ton sampah setiap harinya, dan itu belum termasuk sampah-sampah yang kita lihat mengambang di sungai.


Nova Hapsari Yudhopurwono, yang membantu merekruit Arnold untuk datang dan berbicara di depan anak-anak Penjaringan juga percaya pentingnya untuk memfokuskan kepada anak-anak dalam upaya pencegahan banjir dan melindungi lingkungan.


“Adalah hal yang penting untuk memiliki banyak pencinta lingkungan seperti Arnold yang mau meluangkan waktu bersama anak-anak,” ujar Nova, yang adalah Kepala Divisi Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Blue Bird Group. “Semakin banyak orang seperti Arnold diantara kita, semakin lebih efektif kita bisa mengedukasi anak-anak tentang lingkungan mereka. Satu event kegiatan amatlah tidak cukup untuk merubah prespektif mereka. Blue Bird berharap untuk mengorganisasi lebih banyak acara seperti ini dimana kita bisa menghabiskan waktu untuk membersihkan lingkungan dan mengajarkan pentingnya membuang sampah pada tempatnya.


Renie Elvina Tiurma, Kepala KDM Green Project yang dijalankan oleh Kampus Diakonia Modern, setuju bahwa satu event edukasi tentang lingkungan hidup tidaklah cukup untuk merubah kebiasaan sehari-hari.


“Salah satu upaya kita dalam menyebarkan berita tentang  pengelolaan limbah adalah dengan memberikan presentasi dan kampanye ke sekolah-sekolah di Jakarta,” ujar Renie. “Hal yang mendasar dari partisipasi dan kesadaran atas anak-anak, tidak hanya dari para guru, jadi mereka bisa mempraktekan apa yang mereka telah pelajari, dimulai dari sekolah mereka. Adalah penting untuk bisa mendaur ulang dengan baik, karena sekitar 48 persen dari sampah rumah tangga bisa di daur ulang dan 40 persen bisa diubah menjadi pupuk kompos.


Sementara Hendra Aquan, direktur dari Transformasi Hijau, komunitas masyarakat yang berbasis di Bendungan Hilir membantu lingkungan hidup dengan cara lain.


Transformasi Hijau mengajarkan generasi mendatang tentang ekologi dan biodiversitas dengan mempromosikan kelestarian habitat satwa yang didirikan di Jakarta.


“Sampah adalah salah satu elemen yang paling merusak ekosistem,” ujar Hendra, yang rutin mengunjungi Suaka Alam Muara Angke di pinggir utara Jakarta. “Pada saat ini kita memutuskan memfokuskan pada dua spesies burung yang sudah langka, yang mungkin habitatnya rusak pada saat banjir yang terjadi baru-baru ini.”


Tepat ditepi sungai yang penuh dengan sampah di Manggarai, lingkungan perumahan yang keseluruhannya terendam pada banjir yang terjadi baru-baru ini, memaksa orang-orang untuk sementara waktu mengungsi dari rumah mereka. Salah satu diantaranya adalah Delfiani, 12 tahun yang tinggal bersama orang tuanya dan seorang adik.


“Kita kehilangan banyak barang-barang dari rumah, termasuk seragam sekolah saya,” ujar Delfiani. “Ketika banjir, kami melihat semua sampah dari sungai datang dan masuk ke dalam rumah kami. Di sekolah kami diajari untuk tidak membuang sampah di jalan ataupun di sungai, jadi di rumah kami berusaha untuk membuang sampah di tempat sampah.”


“Tetapi pada akhirnya orang tua kami membuang isi dari tempat sampah tersebut ke sungai karena mereka tidak tahu kemana lagi mereka harus membuangnya.”

 


Armada Kemasan Nusantara

Tel. 021 2870 7748
Email: armadakemasannusantara@yahoo.co.id


KDM Green Project

Tel. 021 844 3545/6
Email: recycle@jakartagreenproject.com


Transformasi Hijau

Tel. 0815 798 8053
Email: trashi.info@gmail.com

Penulis: CMI/PI

Sumber:Count Me In