Lingkungan sangat berpengaruh dalam pendidikan anak

Serang - Angka putus sekolah untuk anak usia sekolah di Provinsi Banten masih sangat tinggi mencapai 50 persen lebih. Saat ini tercatat sebanyak 312.000 lebih anak usia sekolah antara 16 sampai 18 tahun di wilayah Provinsi Banten tidak bersekolah.

Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Banten, Hudaya Latuconsina mengatakan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada tahun 2011 lalu tercatat sebanyak 312.409 dari 604.812 anak usia 16-18 tahun di Provinsi Banten tidak bersekolah.

Hudaya menjelaskan, pihaknya telah melakukan pertemuan dengan Dewan Riset Daerah (DRD) Provinsi Banten dan Sekretaris Daerah (Sekda), Muhadi, untuk mengambil langkah-langkah agar anak-anak usia remaja dapat mengenyam pendidikan sampai tingkat menengah atas.

“Angka putus seolah di Banten sangat mengkhawatirkan, lebih dari 50 persen anak berusia 16-18 tahun tidak bersekolah,” kata Hudaya, di Serang, Kamis (21/3).

Hudaya mengungkapkan tingginya jumlah anak-anak yang tidak bersekolah, perlu segera dicarikan akar persoalannya sehingga bisa dirumuskan konsep solusi yang tepat agar jumlah tersebut dapat menurun di tahun-tahun mendatang.

“Kami dari Dinas Pendidikan Banten memang telah merumuskan beberapa langkah untuk mengatasi ini, agar jumlah anak-anak yang tidak sekolah dapat ditekan. Persoalan angka putus sekolah ini kami anggap sangat serius dan merupakan tantangan yang harus dicarikan jalan keluarnya,” jelasnya.

Hudaya menjelaskan, pihaknya telah mengusulkan kepada DRD Banten untuk melakukan kajian tentang banyaknya penduduk usia sekolah, tetapi tidak bersekolah.

"Keberadaan DRD Banten perlu dioptimalkan. Lembaga DRD memiliki tupoksi di bidang kajian dan riset, kami minta untuk membuat riset terkait penyebab angka putus sekolah yag tinggi itu. Apakah penduduk tidak sekolah tersebut karena tidak ada biaya untuk sekolah, atau karenatidak ada sarana sekolah. Faktor lain yakni kultur atau banyak penduduk yang tidak percaya dengan sekolah formal, membuat banyak anak memilih untuk tidak bersekolah. Kami khawatir, jangan-jangan mereka sudah tidak percaya lagi dengan sekolah," ujar Hudaya.

Menurut Hudaya, dalam pertemuan tersebut, Pemprov Banten telah mengambil langkah-langkah dalam mengatasi persoalan anak-anak putus sekolah. Solusi strategis tersebut antara lain penyediaan sekolah mandiri untuk jenjang pendidikan menengah.

"Sekolah mandiri ini merupakan model penyelenggaraan pendidikan kesetaraan menengah dengan memberdayakan sumber daya pendidikan yang tersedia, baik jalur formal, informal, dengan menghasilkan lulusan yang memiliki kecakapan hidup," katanya.

Sementara itu, Wakil Ketua Dewan Riset Daerah (DRD) Provinsi Banten Masduki mengatakan, persoalan pendidikan dan kesehatan di Banten saat ini masih membutuhkan perhatian lebih. Karena, kondisi ini memiliki korelasi yang sangat erat dengan kemiskinan.

“Tujuan pembangunan di Provinsi Banten saat ini difokuskan pada persoalan pendidikan dan kesehatan. Karena, angka pencapaian pendidikan di Provinsi Banten dilihat dari angka partisipasi kasar (APK) dan angka partisipasi murni (APM) jumlah siswa di sejumlah kabupaten/kota masih rendah. Selain itu, kasus angka kematian bayi (AKB), angka kematian ibu (AKI) dan kasus-kasus penyakit menular lainnya juga masih cukup tinggi,” jelas Masduki.

Penulis: 149