Ilustrasi siswa mengerjakan soal ujian nasional.

Depok - Ujian Nasional SMA/ SMK/ MA dan Paket C di Kota Depok berjalan lancar. Kekurangan soal sempat mewarnai UN Bahasa Indonesia, Senin (15/4).

Kendala kekurangan soal UN sempat terjadi di SMA Yapemri di Kecamatan Sukmajaya. Koordinator Penyelenggara UN Kota Depok Memed Karmedi menuturkan, kekurangan soal tersebut sebanyak empat amplop soal yang berisi sekitar 80 lembar soal.

Tak hanya di SMA Yapemri, hal serupa juga terjadi di SMA Sejahtera 1 yang kekurangan satu paket amplop soal. Demikian pula dengan di SMA Muhammadiyah 1 yang kekurangan satu amplop soal.

“Segera kami tangani dengan jalan menggandakan lembar soal,” ujar Memed saat ditemui di Sekolah Al Muhajirin di Jalan Nusantara Raya, Senin (15/4).

Kekurangan soal juga terjadi untuk naskah soal UN Bahasa Inggris bagi siswa di jenjang Paket C. Kepala Bidang Pendidikan Non Formal dan Informal Dinas Pendidikan Kota Depok Khaerudin menuturkan, naskah soal Bahasa Inggris yang akan diujikan pada hari Rabu (17/4) kurang sebanyak tiga amplop.

“Kami sudah laporkan ke pihak P3UN dan akan didatangkan soal dari Provinsi Jawa Barat. Masih ada waktu beberapa hari, jadi kami yakin masalah ini akan tertangani,” tutur Khaerudin.

Sementara itu, Ketua Panitia UN Kota Depok Siti Chaerijah Aurijah menuturkan, saat UN pertama ini, sebanyak 19 siswa SMK tidak hadir lantaran sakit. Sedangkan siswa SMA tercatat 12 orang tak hadir karena sakit. Satu diantaranya izin dikarenakan orangtuanya wafat. Siswa tersebut adalah Siti Yanah, siswa SMA Negeri 1 Depok.

Sementara penyelenggaraan UN Paket C tidak diwarnai kendala kekurangan soal. Siswa Paket C terlihat antusias mengerjakan soal UN. Kendala umur tak menjadi halangan bagi mereka untuk tetap mengikuti ujian.

UN Bahasa Indonesia di mata siswa kelas XII IPA SMA Negeri 1 Depok yakni Salsabila Syifa terbilang mudah dan dapat dia kerjakan dengan baik.

“Soalnya memang panjang-panjang, tapi kami sudah paham bagaimana bisa memahami soal dengan cepat sehingga dapat menemukan jawaban yang tepat,” tutur Syifa, sapaan akrabnya.

Dia menilai, adanya barcode yang sekarang ini ada di sistem UN bermanfaat karena dengan barcode, kemungkinan untuk menyontek atau bocoran kunci jawaban amat sangat tidak mungkin. Syifa yakin lulus dalam UN ini.

“Target selanjutnya mau ke Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia. Doakan ya, semoga saya bisa diterima disana,” kata gadis berjilbab ini.

Sementara itu, Wali Kota Depok Nur Mahmudi Ismail mengatakan kontrol terhadap penerimaan dan distribusi soal UN di Kota Depok berjalan dengan baik.

“Ada pengawas dan pihak kepolisian yang membantu kami sehingga UN berjalan dengan tertib. Kami mengimbau siswa untuk tidak memercayai bocoran-bocoran jawaban UN apapun bentuknya. Selepas UN, siswa segera pulang ke rumah agar tetap fit dan maksimal untuk UN hari berikutnya,” tutur Nur.

Anggota Komisi D DPRD Kota Depok Aceng Toha yang memantau pelaksanaan UN menilai penyelenggaraan UN semakin baik dan tertib. Dari hasil pantauan DPRD tak ditemukan adanya indikasi kebocoran atau ketidak kondusifan pelaksanaan UN.

“Kami memberikan perhatian khusus untuk sekolah-sekolah di Kecamatan Cipayung, karena selama ini Cipayung adalah kecamatan dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) terendah se-Kota Depok. Kami bekerja ekstra untuk meningkatkan Cipayung,” tutur Aceng.

UN SMA/ SMK/ MA di Kota Depok diikuti 14.816 siswa. Sedangkan untuk siswa Paket C tercatat 1.281 peserta. Dengan usia tertua 56 tahun.

Suara Pembaruan

Penulis: W-11

Sumber:Suara Pembaruan