Petugas Mensortir Soal Ujian Nasional di Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Rabu, 19 April 2013.

Jakarta - Pembantu Umum Rektor (Purek) III Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Dr. Fachrudin Arbah, M,Pd dan Dosen UNJ Ir. Tri Mulyono, MT dituntut dengan pidana penjara selama 1,5 tahun dan denda Rp 250 juta subsider tiga bulan kurungan. Sebab, keduanya dikatakan bersalah melakukan korupsi dalam proyek pengadaan laboratorium di UNJ pada rentang waktu 5 Januari sampai 15 Desember 2010.

"Menuntut. Supaya majelis hakim menjatuhkan putusan kepada terdakwa Tri Mulyono dan Fachrudin Arbah dengan pidana penjara selama satu tahun enam bulan," kata Jaksa Penuntut Umum (JPU) Fitri Zulfahmi, saat membacakan tuntutan di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Senin (20/5).

Keduanya dianggap melanggar dakwaan subsider, yakni melanggar Pasal 3 ayat (1) jo Pasal 18 ayat (1) huruf b UU Tipikor jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 jo pasal 64 ayat 1 KUHP.

Dalam sidang yang digelar terpisah, Fachrudin selaku Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dan Tri Mulyono selaku Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) dinyatakan bekerjasama dengan staf dan Direktur Pemasaran Grup Permai, Melia Rike dan Mindo Rosalina Manulang, yaitu mengatur PT Marel Mandiri menjadi pemenang lelang proyek pengadaan laboratorium di UNJ.

Dalam tuntutan terhadap keduanya, Fachrudin dan Tri Mulyono dianggap membiarkan spesifikasi barang disesuaikan dengan barang yang ditawarkan PT Marel Mandiri. Padahal, diketahui bahwa yang mengerjakan proyek itu adalah PT Anugrah Nusantara milik Nazaruddin dan hanya meminjam bendera PT Eksartek buat mengikuti persyaratan lelang.

Oleh karena itu, tindakan Fachrudin dan Tri dianggap tidak sesuai dengan etika dan peraturan pengadaan barang dan jasa pemerintah.

Apalagi, Tri dinyatakan menyusun harga perkiraan sendiri sesuai daftar harga asli. Padahal, dia mengetahui harga produk ditawarkan sudah dipotong. Sementara Fachrudin sebagai Pejabat Pembuat Komitmen juga tahu akan hal itu dan membiarkan saja.

"Kedua terdakwa tidak memahami etika, dan mengakibatkan kerugian negara sebesar Rp 16 miliar. Mereka juga dianggap menguntungkan Nazaruddin dan perusahaannya, diri terdakwa, dan UNJ," ujar Jaksa Fitri.

Seperti diketahui, Fachrudin Arba dan Tri Mulyono terancam pidana penjara selama 20 tahun. Sebab, didakwa melakukan korupsi dalam pengadaan laboratorium dan alat penunjang laboratorium tahun anggaran 2010 oleh JPU pada Kejaksaan Negeri Jakarta Timur.

Selaku Ketua Panitia Lelang, Tri dikatakan memperkaya diri sendiri, atau orang lain, atau korporasi terkait pengadaan dan alat pendukung laboratorium pada 5 Januari sampai 15 Desember 2010.

Dalam surat dakwaan yang dibacakan dalam sidang di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Senin (21/1), disebutkan bahwa atas perbuatan Tri Mulyono selaku Ketua Panitia pengadaan barang dan jasa bersama-sama dengan Fachrudin telah merugikan keuangan negara sebesar Rp 5,17 miliar.

Tri Mulyono dan Fachrudin dikatakan membiarkan PT Marel Mandiri sebagai pelaksana proyek pengadaan alat laboratorium di UNJ. Padahal, mengetahui pemenang lelang dikendalikan oleh satu perusahaan dan dipinjam nama perusahaannya oleh PT Anugrah Nusantara yang tergabung dalam Permai Grup, sehingga negara mengalami kerugian Rp 5,175 miliar.

Dalam dakwaan dikatakan bahwa telah ada pembicaraan sebelumnya antara staf Permai Grup Meilia dengan Tri Mulyono untuk membicarakan apa saja barang yang dibutuhkan.

Kemudian, Mindo Rosalina Manullang (Rosa) dari Anugrah Nusantara meminta para vendor mengirim brosur alat lab ke pihak UNJ tanpa harga diskon, sementara sebelumnya perempuan itu sudah menetapkan harga tiap barang harus didiskon 40 persen dan 3 persen.

Atas brosur tersebut, Tri kemudian menyusun harga perkiraan sendiri tanpa melibatkan anggota panitia lain. Tri memutuskan pengadaan 90 jenis barang dan 545 unit dengan total harga Rp 16,99 miliar, padahal harga barang seharusnya sudah didiskon.

Atas pembiaran tersebut, Fahrudin dan Tri Mulyono menerima uang secara bertahap sejak Februari sampai Desember 2010 dengan total jumlah uang Rp 873 juta.

Atas perbuatan tersebut, terhadap Tri Mulyono dan Fachrudin disangkakan melanggar Pasal 2 ayat (1) jo Pasal 18 ayat (1) huruf b UU Tipikor jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 jo pasal 64 ayat 1 KUHP. Dan dakwaan subsider, dijerat dengan Pasal 3 jo Pasal 18 ayat (1) huruf b UU Tipikor jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 jo Pasal 64 ayat 1 KUHP.

Peristiwa berawal pada tahun 2010, ketika UNJ mengadakan pelaksanaan pengadaan peralatan laboratorium dan peralatan penunjang laboratorium yang bersumber dari anggaran pembangunan dengan pagu anggaran Dinas Pendidikan Tinggi sebesar Rp 17 miliar.

Kemudian, pada 5 Januari 2010, Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) dan Rektor UNJ Bejo Suyanto menunjuk panitia pengadaan barang dan jasa untuk beberapa kegiatan.

Kegiatan dimaksud antara lain pembangunan gedung dan fasilitas pendidikan, pengadaan mebel penunjang, pengadaan alat lab pendidikan, pengadaan peralatan penunjang operasional perkantoran, rehabilitasi Gedung Daksinapati tahap III dan Gedung Pasca Sarjana, pengerjaan Civil World New Building, pengadaan pengembangan staf akademik dan studi lanjut S3 di luar negeri, dan pengadaan konsultan implementasi pengembangan kurikulum.

Untuk proyek pengadaan peralatan laboratorium lelang dibuka pada 27 Juli 2010. Perusahaan yang mendaftar didominasi kelompok konsorsium Grup Permai yakni PT Dulango Raya, PT Eksartek, PT Marel Mandiri, PT Nuri Utama Sanjaya, PT Daya Meri Persada, dan PT Darmo Sepion.

Suara Pembaruan

Penulis: N-8/FER

Sumber:Suara Pembaruan