Gedung SMAN 4 Denpasar, Bali

Denpasar - Tahun 2013 adalah tahun prestasi bagi Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 4 Denpasar, Bali. Dari 10 besar peraih nilai ujian nasional (UN) tertinggi tingkat nasional, lima predikat itu jatuh ke tangan SMAN 4 Denpasar. Mereka yang berprestasi adalah Ni Kadek Vani Apriyanti di peringkat 1, Made Hyang Wikananda (4), Luh Putu Lindayani (5), Putu Siska Apriliyani (8), dan Putu Indri Widiani (10). Tak hanya itu, nilai rata-rata sekolah ini tercatat nomor satu di Bali dan nomor dua untuk tingkat nasional.

Namun, di balik kesuksesan tersebut, ada kekhawatiran tentang sulitnya mempertahankan prestasi tersebut. Apalagi, sekolah itu tidak lagi menyandang predikat Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI).

“Jujur kami akui, agak sulit meraih prestasi sekolah seperti sekarang ini, tanpa partisipasi masyarakat. Masyarakat yang kami maksudkan adalah orangtua atau wali siswa, yang ikut membantu sistem belajar serta fasilitas pendukung yang dibutuhkan para siswa,” ujar Kepala SMAN 4 Denpasar, Dr I Wayan Rika MPd, dalam perbincangan dengan wartawan Suara Pembaruan, Minggu (26/5).

Menurut Wayan Rika, prestasi ini merupakan hasil kerja keras siswa dan guru dalam menghadapi UN. Demikian juga kerja keras para guru. “Tidak sia-sia guru menemani mereka sehari-hari belajar. Walaupun dengan sistem yang lebih tinggi tingkatannya sekarang, kita dapat menunjukkan prestasi yang lebih baik,” imbuhnya.

Prestasi yang dicapai tahun ini tidak berbeda jauh dengan tahun lalu, karena anak didiknya mampu meraih prestasi UN di tingkat nasional. “Kuncinya bukan terletak pada guru semata, melainkan anak didik dan partisipasi orangtua serta pemerintah daerah, khususnya Pemkot Denpasar. Kalau tidak ada kebersamaan ini, tentu akan sulit meraih prestasi yang diinginkan di tengah persaingan prestasi siswa sekolah lain, baik nasional maupun regional,” katanya.

Kepala sekolah yang tampil sederhana ini mengatakan, pihaknya sangat khawatir dengan kebijakan pemerintah pusat yang membubarkan RSBI yang diikuti kebijakan pemerintah daerah. Sebab, dalam kebijakan tersebut, dikeluarkan surat edaran kepada sekolah, yang sebelumnya berpredikat RSBI, dilarang memungut iuran kepada siswanya.

“Kalau ada kebijakan pemerintah seperti itu, seharusnya ada solusi dari pemerintah untuk memberikan bantuan kepada sekolah dengan jumlah yang lebih besar, sehingga prestasi sekolah, terutama mutu lulusan bisa ditingkatkan. Ini kan tidak ada, dan ujung-ujungnya hanya melarang ada pungutan lagi,” katanya.

Wayan Rika mengatakan pihaknya masih mencari celah yang tepat, terutama dengan tetap memberlakukan partisipasi masyarakat, khususnya orangtua yang menyekolahkan putra-putrinya di SMAN 4, supaya tetap memnbantu seperti saat ada RSBI. “Tentu saja partisipasi yang kami lakukan tanpa ada unsur paksaan. Kalau tidak ada partisipasi orangtua, rasanya sulit meningkatkan prestasi siswa. Itu jujur harus kami katakan dan sifatnya tidak mengada-ada,” tegasnya.

Prestasi
Rika, yang juga Ketua Asosiasi Kepala Sekolah Indonesia (AKSI) Bali, tidak menampik kalau siswanya yang mampu meraih predikat nasional atau siswanya yang berprestasi, sebagian besar ingin menjadi dokter atau melanjutkan kuliah di fakultas kedokteran.

Seperti Ni Kadek Vani Apriyanti yang meraih nilai tertinggi UN nasional ingin menjadi dokter.
Siswa kelahiran 27 April 1995 ini meraih nilai kumulatif 59,20 atau rata-rata 9,87 menggungguli nilai Aditya Agam Nugraha dari SMAN 1 Surakarta dan Helena Marthafriska SMA Methodist 2 Medan, yang sama-sama meraih rata-rata UN murni 9,78. Hebatnya lagi, remaja asal Desa Puhu, Payangan, Gianyar ini, mencetak nilai sempurna 10 untuk mata pelajaran matematika, fisika, kimia, biologi, dan bahasa Inggris.

Impian Vani Apriyanti untuk menjadi dokter, bukan sesuatu yang muluk jika melihat deretan panjang prestasi akademiknya. Apalagi, Universitas Udayana (Unud) Bali, memiliki tradisi memberikan tiket gratis bagi peraih UN tertinggi tingkat nasional dan Provinsi Bali untuk melanjutkan pendidikan di program-program studi favorit yang ada di lingkungan Unud.

Vani adalah peraih medali perunggu bidang astronomi Olimpiade Sains Nasional (OSN) 2012. Di luar itu, remaja berzodiak Taurus ini juga tercatat sebagai juara I LKTI Scientic Atmosphere FK Unud tingkat nasional, juara I LKTI BLCC IV se-Jatim, Bali dan Nusra. Selain itu, dia juara II LKTI Psikologi Unud tingkat provinsi dan juara III LKTI Humaniora IV tingkat provinsi.

Siswa berpretasi lainnya yang mendapat nilai tertinggi keempat UN adalah Made Hyang Wikananda. Ia tak ikut menyaksikan pengumuman karena sedang berada Jakarta untuk mengikuti tes pilot. Wikananda meraih nilai 58,55, masing-masing bahasa Indonesia 9,80, bahasa Inggris 10, matematika 9,75, fisika 9,75, kimia 9,75, dan biologi 9,50.

Seperti Vani, Luh Putu Lindayani, anak pertama pasangan I Gede Suardika-Ni Made Suarmini asal Buleleng itu, juga ingin menjadi dokter. Makanya, gadis kelahiran 28 Maret 1995 ini sedang menanti pengumuman di fakultas kedokteran Unud. Lindayani langganan menjadi juara kelas, tapi dia tak menyangka mendapat nilai bagus saat UN. Apalagi dia hanya belajar sendiri, tak pernah mengikuti bimbingan belajar.

Putu Siska Apriliyani adalah siswa kelas III-IPA 6 yang meraih nilai UN 58,50. Anak pertama pasangan Made Agus Sumadana dan Nyoman Armei Trikayani asal Singaraja meraih juara II di kelas dan juara umum II di Foursma. Sayangnya, dia belum mendapat kursi gratis di perguruan tinggi negeri. Putu Siska ingin menjadi apoteker, sehingga ingin melanjutkan ke fakultas farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. "Sekalian belajar hidup mandiri di perantauan,'' ujar siswa berprestasi II di Kota Denpasar tahun 2012 itu.

Sedangkan Putu Indri Widiani adalah siswa kelas III IPA-3 ini yang meraih nilai UN 58,40. Anak tunggal pasangan I Wayan Nody Karmawan dan Ni Wayan Soniati dari Br Anyar Klod Kerobokan ini juga ingin menjadi dokter. Untuk menggapai cita-citanya, Putu Indri memilih melanjutkan kuliah di fakultas kedokteran Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur.

Suara Pembaruan

Penulis: 137/AB

Sumber:Suara Pembaruan