Dukung Pendidikan di Papua, Lippo Group Gandeng JSAT Bangun Jaringan Telekomunikasi

Dukung Pendidikan di Papua, Lippo Group Gandeng JSAT Bangun Jaringan Telekomunikasi
Chief Executive Officer (CEO) Lippo Group Indonesia James T Riady (dua kiri) dan CEO Mitsui&co of Asia Pacific Takashi Yamauchi (kanan) saat mengunjungi Sekolah Papua Harapan (SPH) di Desa Doyo Baru, Kabupaten Sentani, Jayapura, Selasa (10/9). Lippo Group Indonesia bekerja sama dengan JSAT, sebuah perusahaan komunikasi terbesar di Jepang, membangun jaringan telekomunikasi di Papua. Dengan jaringan telekomunikasi ini diharapkan akan memudahkan masyarakat yang tinggal di pedalaman Papua untuk mengakses internet dan mendapat tayangan televisi yang bermuatan pendidikan berkualitas. ( Foto: Suara Pembaruan / Joanito De Saojoao / Suara Pembaruan / Joanito De Saojoao )
Fana Suparman / AB Rabu, 11 September 2013 | 13:28 WIB

Jayapura - Lippo Group bekerja sama dengan JSAT, sebuah perusahaan satelit telekomunikasi terbesar di Jepang, membangun jaringan telekomunikasi di Papua. Dengan jaringan telekomunikasi ini diharapkan akan memudahkan masyarakat yang tinggal di pedalaman Papua untuk mengakses internet dan mendapat tayangan televisi yang bermuatan pendidikan berkualitas.

Chief Executive Officer (CEO) Lippo Group, James T Riady menyatakan solusi mendasar bagi permasalahan yang dihadapi masyarakat Papua adalah masalah pendidikan. Jaringan telekomunikasi yang dibangun atas kerja sama antara Lippo Group dan JSAT ini merupakan infrastruktur dasar dalam mendorong pendidikan di Papua.

"Kita melihat Indonesia sudah merdeka lebih dari 65 tahun, namun masih begitu banyak tempat yang masih kurang tersentuh oleh pembangunan nasional kita. Kita melihat tempat-tempat di Papua khususnya di pedalaman seperti di Mamit, dan sebagainya, mereka sangat membutuhkan infrastruktur dan atensi di dalam pendidikan. Karena itulah kami ingin meningkatkan konektivitas dan atensi agar pendidikan bisa maju," katanya di sela-sela kunjungan ke Sekolah Lentera Harapan (SLH), Kampung Harapan, Sentani, Papua, Selasa (10/9).

James menuturkan, kerja sama dengan JSAT dalam membangun jaringan konektivitas telekomunikasi di Papua bukan tanpa alasan. JSAT merupakan perusahaan yang memiliki 16 satelit di Asia. Sebelumnya, Lippo Group dan JSAT telah bekerja sama dalam pembangunan satelit di Indonesia dengan nama Lippo Star.

"Mereka bersedia membantu di Papua, khsususnya memasang VSAT (very small aperture terminal, Red) sat di sekolah-sekolah di pedalaman agar memiliki konektivitas. Mereka memiliki internet dan program tayangan pendidikan yang terbaik di dunia yang bisa dilihat oleh anak-anak yang bersekolah di sini," katanya.

Tiga sekolah di Papua, yakni Sekolah Lentera Harapan (SLH) Kampung Harapan Kecamatan Sentani, dan Sekolah Papua Harapan (SPH) di Desa Doyo Baru, Kabupaten Jayapura, dan SLH di Desa Mamit, Kabupaten Tolikara, Provinsi Papua, menjadi pilot project dalam program kerja sama ini. Diharapkan, nantinya program ini akan menyentuh sekolah lain di pedalaman, terutama yang berada di daerah pegunungan.
"

Satu atau dua bulan akan mulai dipasang VSAT. Bukan hanya di Sentani, tapi juga di Mamit. Modelnya di dua sekolah Sentani, dan satu di Mamit. Jika konsep ini berjalan, sekolah lain bisa masuk dalam jaringan bantuan mereka. Khususnya (yang berada, Red) di pegunungan-pegunungan," jelasnya.

Konektivitas Telekomunikasi
Dalam kesempatan tersebut, James bersama CEO JSAT, Shinji Takada beserta rombongan menyapa ratusan murid yang ada di tiga sekolah tersebut. Untuk SLH Sentani, James menjelaskan sekolah tersebut merupakan sekolah milik pemerintah yang dikelola oleh pihaknya melalui Yayasan Pendidikan Pelita Harapan selama 13 tahun.

Sebelum membangun jaringan konektivitas, pihaknya telah meningkatkan kualitas pendidikan dengan meningkatkan fasilitas sarana dan prasarana, termasuk mendatangkan guru-guru lulusan Universitas Pelita Harapan (UPH).

"Kami mengirim guru dengan konsep baru, di mana pendidikan bukan sekadar pengetahuan tapi pendidikan adalah proses belajar. Guru kami di sini lulus S1 sarjana pendidikan UPH dan mereka mengajar di sini dari berbagai tempat di seluruh Indonesia dan didukung oleh pemerintah setempat. Jadi swasta dan pemerintah mewujudkan satu sekolah, di mana sekolah yang kami harapkan dapat menjadi contoh untuk sekolah lain," paparnya.

Shinji Takada mengatakan ada banyak permasalahan yang harus dibicarakan antara pihaknya dan Lippo Group untuk kemudian dipelajari dan diselesaikan bersama dalam bentuk kerja sama. Diakui Shinji, pihaknya tergerak untuk bekerja sama dalam membangun konektivitas telekomunikasi di Papua, terutama karena melihat antusiasme belajar anak-anak Papua.

Di kemudian hari, dia berharap dapat menyediakan layanan telekomunikasi, seperti internet dan siaran televisi, sampai ke daerah-daerah, termasuk Papua, guna memberikan edukasi kepada anak-anak.

"Saya melihat mata anak-anak ini, terlihat betapa antusiasnya mereka untuk belajar dan itu menggerakkan saya untuk bekerja sama dalam bidang pendidikan dengan Indonesia," katanya.

Sementara itu, Kepala Sekolah Papua Harapan (SPH), Paul Wetipo mengatakan dengan pemasangan jaringan konektivitas telekomunikasi yang akan beroperasi dalam waktu dekat akan sangat membantu proses kegiatan belajar-mengajar para guru dan sekitar 148 murid yang mencari ilmu di sekolah tersebut. Dikatakan, selama ini, akses internet yang sudah ada di sekolahnya hanya menggunakan modem dengan akses sinyal dan kecepatan yang sangat terbatas.
"Dengan (VSAT, Red) ini akan membuka akses terhadap dunia luar, khususnya karena pendidikan yang berkembang terus. Dengan mengakses internet, akan menambah wawasan guru-guru dan dapat membimbing murid dalam menggunakan internet ke arah yang lebih menguntungkan," katanya.

Paul mengatakan, layanan akses internet yang mudah, dapat menolong generasi muda Papua. Dikatakan, generasi muda Papua yang cemerlang, dimulai dari pendidikan yang baik. "Sekolah ini akan terus berkembang. Kami berupaya memberikan fasilitas yang lebih layak," katanya.

Sumber: Suara Pembaruan