Rektor UIN: Sekolah Harus Bersih dari Doktrin Radikalisme

Rektor UIN: Sekolah Harus Bersih dari Doktrin Radikalisme
Sekretaris Jenderal DPP GP Ansor, Abdul Rohman (kiri) bersama Wakil Ketum GP Ansor Benny Rhamdani (kanan) menunjukkan tulisan yang berbunyi "Selesai-Raih-Bantai-Kiai" dari sebuah buku pelajaran di Kantor GP Ansor, Jakarta, Rabu (20/1). ( Foto: Suara Pembaruan / SP/Joanito De Saojoao. )
Markus Junianto Sihaloho / HA Rabu, 27 Januari 2016 | 01:40 WIB

Jakarta - Akademisi mendesak agar propaganda radikalisme dan terorisme yang disusupkan melalui buku-buku pendidikan untuk murid Sekolah Dasar (SD) dan Taman Kanak-kanak (TK) segera dihentikan.

Menurut Dede Rosyada, Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, dunia pendidikan apalagi anak-anak harus benar-benar bersih dari hal-hal semacam itu.

"Jangan ada toleransi bagi pihak-pihak yang secara sengaja atau tidak melakukan propaganda radikalisme dan terorisme dengan menyusupkannya dalam buku-buku pelajaran. Ini sangat berbahaya karena anak kecil memiliki daya ingat abadi yang terbawa sampai dewasa,” kata Dede, Selasa (26/1).

Diketahui, organisasi sayap Nahdlatul Ulama, GP Ansor menemukan buku-buku untuk TK dan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Depok, Jawa Barat, serta di beberapa daerah di Indonesia, mengandung kalimat-kalimat berisi ujaran terorisme dan radikalisme.

Hal itu diungkapkan Wakil Ketua Umum DPP GP Ansor, Benny Ramdani, bahwa buku paket pelajaran tersebut berjudul "Anak Islam Suka Membaca" jilid 1,2,3,4, dan 5.

Buku-buku itu dinilai bisa disebut menanamkan benih-benih radikalisme sejak usia dini, karena diajarkan kepada anak-anak TK yang masih sangat polos. Apalagi penulis buku tersebut istri dari pimpinan kelompok radikal di Solo.

Atas dasar itu, Dede meminta siapapun pihak yang memiliki bukti buku-buku pelajaran yang disisipi propaganda radikalisme, bisa segera melapor ke Kementerian Agama atau pihak berwenang lainnya.

Menurutnya, saat ini Kementerian Agama telah diberi kewenangan untuk mengontrol konten buku-buku pelajaran agama.

“Segera laporkan bila menemukan bukti-bukti di lapangan agar nantinya bisa langsung ditindaklanjuti dan ditarik,” tukas Dede.

Kampus UIN sendiri pernah kecolongan dengan dijadikan sebagai tempat berikrar para pendukung jaringan militan Islamic State atau sering disebut ISIS, di awal keberadaan mereka di Indonesia tahun 2014 lalu. Sejak itu, Prof. Dede langsung melakukan pembersihan besar-besaran sehingga saat ini UIN telah bebas dari berbagai ancaman dan penyebaran radikalisme.

Tidak hanya UIN Jakarta, lanjut Dede, hampir semua kampus UIN di Indonesia juga sudah bersih. Bahkan seluruh kampus UIN siap berada di garda terdepan dalam pencegahan radikalisme dan terorisme di Indonesia.

“Secara formal sudah tidak ada lagi dan tidak akan terjadi lagi propaganda radikalisme di kampus-kampus UIN," tegasnya.

Pihaknya juga siap melibatkan intelijen negara untuk menyelidiki kegiatan radikalisme bawah tanah yang terafiliasi ke kampus.

Sumber: BeritaSatu.com
CLOSE