Agama Harus Jadi Perekat Integrasi

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin. (Antara/Puspa Perwitasari)

Oleh: Aditya L Djono / AO | Selasa, 3 Januari 2017 | 11:27 WIB

Jakarta - Kehidupan keagamaan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan berbangsa dan bernegara. Oleh karenanya, agama harus menjadi elemen perekat integrasi nasional, dan memperkuat toleransi.

"Semangat dan motivasi keagamaan adalah sumber kekuatan kita dalam meraih kemerdekaan, mempertahankan kedaulatan nasional, dan menjaga keutuhan NKRI. Agama mendapatkan kedudukan terhormat dalam tata kehidupan masyarakat, sehingga dijadikan sebagai salah satu sumber pembentukan hukum nasional. Agama menjadi roh kehidupan kebangsaan kita sesuai dengan dasar Ketuhanan Yang Maha Esa," ujar Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin, dalam sambutannya pada peringatan Hari Amal Bakti Kementerian Agama ke-71, di Jakarta, Selasa (3/1) pagi.

Menag menegaskan, agama yang diyakini dan diamalkan oleh umatnya masing-masing harus menjadi unsur pembentuk nation and character building bangsa Indonesia yang majemuk. Karena itu, seluruh umat beragama harus menyadari dan disadarkan bahwa nilai-nilai agama merupakan unsur perekat integrasi nasional.

"Dalam kaitan ini pula saya ingin mengingatkan, toleransi dan kerukunan bukan milik sesuatu golongan umat beragama semata, tetapi harus menjadi milik semua golongan dan berlaku untuk semua pemeluk agama. Saling menghormati dan saling menghargai identitas keyakinan antarumat beragama harus terus dijaga dalam upaya melindungi keutuhan NKRI," tandasnya.

Terkait agenda nasional pilkada serentak tahun ini, Menag juga berharap agama bisa menjadi faktor pemersatu.

"Kami sudah mengimbau semua pihak, khususnya yang di lapangan, penyuluh dan tokoh agama, agar di tengah keragaman politik, etnis, dan suku, agama justru dijadikan sebagai yang menyatukan kita. Agama jangan sampai menjadi faktor pemecah kita sebagai bangsa," ujarnya.

Untuk itu, Lukman Hakim meminta semua pihak untuk lebih mengedepankan titik persamaan pandangan keagamaan, dibandingkan mempersoalkan perbedaan yang merupakan sunnatullah. "Yakinlah bahwa di tengah keragaman pandangan keagamaan, masih jauh lebih banyak titik persamaan," ujarnya.




Sumber: BeritaSatu.com
ARTIKEL TERKAIT