Menristekdikti Ingatkan Pentingnya Kematangan Mental Generasi Muda

Muhammad Nasir. (Antara)

Oleh: Yeremia Sukoyo / WBP | Senin, 20 Maret 2017 | 13:30 WIB

Serang- Pemuda Indonesia harus menjadi generasi penerus yang memiliki akhlak mulia dan sanggup mencerminkan kepribadian bangsa. Oleh sebab itu, kematangan mental dan kepribadian menjadi faktor yang harus dimiliki pemuda.

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristek Dikti) Mohamad Nasir, menuturkan, untuk mematangkan mental, ada banyak cara. Salah satunya mendekatkan diri kepada Tuhan. Bagi umat Islam bisa dengan mengkhatamkan Alquran. Sedangkan bagi mereka yang beragama Hindu, Budha, Protestan, dan Katholik bisa menghayati kitab suci masing-masing.

"Dengan demikian mental mahasiswa semakin matang dan lulusannya berkualitas secara ilmu dan mental," kata M Nasir dalam keterangannya saat memimpin khataman Alquran di Gedung Dekanat Fakultas Tekhnik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Serang, Banten, Senin (20/3).

Dalam sambutannya, Menristekdikti menjelaskan, saat ini terdapat sekitar 4.000 kampus di Indonesia. Gerakan penguatan mental pun bisa diasah melalui masing-masing lembaga pendidikan dan perguruan tinggi.

Agar lulusan berkualitas dirinya mengutip dari kitab Kifayat al-Atqiya', karangan Syekh Nawawi al-Bantani, yakni hendaknya segenap mahasiswa menjadikan tujuan hidup ibarat mutiara. Mutiara hanya tumbuh dari lingkungan dan kondisi yang baik. Mutiara tidak bisa muncul dari orang yang sakit hatinya, sombong, malas, suka mengadudomba, dan gemar menyebar hoax.

Dia menyebutkan, national competitive yang meliputi tenaga terampil dan kekuatan inovasi (research) juga harus dimiliki. "Jika ini kita jalani, maka tidak akan ditemukan doktor palsu, ijazah palsu, dan kampus palsu," kata M Nasir.

Koordinator Nasional Nusantara Mengaji, Jazilul Fawaid menuturkan, manfaat Alquran diturunkan sebagai obat. Jika fisik sakit, maka akan sangat mudah didiagnosa dan diobati secara terukur. Namun jika sakit nonfisik seperti sombong, malas, atau pelit, akan sulit dideteksi. Diingatkan, bangsa Indonesia perlu direvolusi bukan karena sakit fisik, melainkan penyakit nonfisik. Oleh sebab itu Jokowi memprogramkan Revolusi Mental.

"Oleh sebab itu, Alquran adalah salah satu perangkat revolusi mental bangsa Indonesia," kata Jazilul.




Sumber: Suara Pembaruan
ARTIKEL TERKAIT