Kemdikbud Sempurnakan Program Pendidikan Keahlian Ganda

Ilustrasi Siswa SMK (Suara Pembaruan)

Oleh: Maria Fatima Bona / FER | Jumat, 19 Mei 2017 | 21:07 WIB

Jakarta - Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (GTK Kemdikbud), Sumarna Surapranata, mengatakan, jumlah guru produktif untuk sekolah kejuruan saat ini masih sangat minim.

"Berdasarkan data, tercatat SMK masih kekurangan guru produktif sebanyak 91.816 orang untuk mengajar pada 52 keahlian di SMK," kata Pranata di Jakarta, belum lama ini.

Pranata menuturkan, pemerintah saat ini berupaya mencari guru produktif. Salah satunya dengan pendidikan keahlian ganda(PKG). Program ini, diadakan untuk menindaklanjuti Inpres Nomor 9 Tahun 2014 tentang pendidikan vokasi atau kejuruan dengan fokus utama pada empat bidang keahlian. Yakni maritim dan kelautan, pertanian dan ketahanan pangan, industri kreatif, serta pariwisata.

"Kita mengalami kekurangan guru produktif untuk bidang yang menjadi fokus pemerintah saat ini. Jadi guru keahlian ganda merupakan solusinya," tambahnya.

Lebih lanjut, Pranata menjelaskan, guru pendidikan ganda diperuntukkan bagi guru adaptif dari SMK untuk mendapatkan‚Äč pendidikan tambahan selama satu tahun. Pasalnya, saat ini SMK mengalami kelebihan guru adaptif.

"Adanya program pendidikan keahlian ganda merupakan salah satu cara memenuhi kekurangan guru produktif," tambahnya.

Secara terpisah, Kepala Sekolah SMKN 2 Ende, Setu Petrus mengapresiasi program guru keahlian ganda. Pasalnya, tujuan jelas untuk‚Äč mempercepat memenuhi kebutuhan guru SMK yang selama ini terjadi. Namun, ia mengharapkan Kemdikbud menyempurnakan proses perekrutannya.

"Program ini baik sangat baik karena tujuan sangat jelas rekrut guru produktif jadi antusias guru sangat tinggi. Tapi harus dilihat lagi proses penempatan. Kemaren ada ibu guru yang dari Timur Tengah Utara (TTU) yang ditempatkan di pusat pembelajaran disini. Dia terpaksa tidak bisa hadir karena anak tidak ada yang jaga. Seharusnya dia bisa ditempatkan di Kupang lebih dekat," kata Setu.

Selanjutnya, Setu juga meminta agar pemerintah memperhatikan reward untuk para pendamping saat on di sekolah. Pasalnya, sebagai Lembaga Belajar yang ditunjuk sekolah membentuk panitia lokal. Namun panitia lokal belum didanai sehingga sekolah mengambil kebijakan dalam mendanai panitia.

Dalam kesempatan yang sama, Veronika, guru matematika dari SMKN 1 Borong, Manggarai Timur, NTT yang sedang belajar Teknik dan Komputer Jaringan (TKJ) mengaku antusias mengikuti program keahlian ganda.

Ia mengatakan, jumlah siswa di SMKN 1 Borong yang memilih jurusan TKJ jumlahnya sangat banyak. Sementara jumlah guru sangat minim. Tidak memenuhi rasio guru dan murid. Untuk itu, ia memilih jurusan tersebut sebagai keahlian ganda selain menjadi guru adaptif.

 




Sumber: Suara Pembaruan
ARTIKEL TERKAIT