Mahasiswa Tadulako Butuh Trauma Healing Pasca-Bencana

Mahasiswa Tadulako Butuh Trauma Healing Pasca-Bencana
Mahasiswa Universitas Tadulako yang menjalani program Sit In di Universitas Hasanuddin. ( Foto: Beritasatu Photo )
Maria Fatima Bona / JAS Kamis, 6 Desember 2018 | 13:57 WIB

Makassar - Bencana yang menimpa Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng) belum lama ini ternyata sangat berdampak pada psikis mahasiswa Universitas Tadulako (Untad). Hal ini diketahui berdasarkan hasil pengisian kuesioner yang dilakukan mahasiswa program Sit In atau kelas sementara di Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar.

Direktur Komunikasi Unhas, Suharman Hamzah mengatakan, setelah mendapat mandat dari Menteri Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir dan Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (MRTPNI), Unhas termasuk dalam 38 perguruan tinggi negeri penyelenggara Sit In, pihaknya sebagai ketua pelaksana Sit In melakukan tes untuk mengukur kesiapan mahasiswa Untad mengikuti perkuliahan berupa pengisian kuesioner.

Ia menyebut dari 1.697 pendaftar Sit In, ditemukan fakta sebagian besar mahasiswa sebetulnya tidak sungguh-sungguh untuk kuliah, tetapi mereka lebih tepatnya menghindar dari Palu dan mencari kenyamanan dari bencana.

“Ketidaksiapan mahasiswa ini kami temukan dari jawaban-jawaban mereka dari pertanyaan kuesinoner. Jadi mereka sebetulnya lebih membutuhkan pendampingan atau terapi daripada belajar di kelas," kata Suharman saat berbincang-bincang dengan Suara Pembaruan, di Unhas,Makassar, Senin(3/12).

Ia menuturkan, dengan kenyataan tersebut, Unhas dalam lebih fokus pada pendekatan penyembuhan psikis mahasiswa melalui sejumlah kegiatan trauma healing. Salah satunya, melibatkan fakultas Psikologi Unhas untuk membuka bimbingan konseling.

Dia melanjutkan, agar pendampingan dapat dilakukan lebih intens, Unhas melibatkan students volunteer atau mahasiswa sukarelawan sebagai tutor sebaya. Dengan pertimbangan remaja lebih nyaman untuk berdialog dengan teman sebaya daripada dosen.

Unhas menargetkan para mahasiswa Sit In ini harus bebas dari rasa trauma ketika kembali ke perguruan tinggi asalnya. Pasalnya, belajar dapat dilakukan di mana saja, tetapi apabila tidak dimbangi psikis sehat sulit terwujud.

Sementara itu, bagi mahasiswa yang siap untuk belajar, Unhas memberi hak yang sama dengan mahasiswa Unhas pada umumnya untuk mengkuti perkuliahan sesuai dengan konsentrasinya. Unhas akan memberi rapor atau catatan penilaian pembelajaran berupa deskripsi perkembangan mahasiswa sebagai bukti mahasiswa bersangkut mengontrak mata kuliah yang di kampus Unhas.

Namun, untuk pemberian nilai, Suherman menegaskan, penilaian tidak menjadi wewenang Unhas karena tidak adil bagi mahasiswa tersebut jika mendapat perlakuan ini. Pasalnya, perkembangan belajar mereka tidak dapat dinilai hanya dalam waktu singkat sehingga kembali diserahkan pada Untad.

Keputusan tersebut berdasarkan kesepakatan MRPTNI, termasuk tidak membuka kesempatan mahasiswa Sit In untuk menjadi mahasiswa tetap sesuai dengan instruksi Menristekdikti. Dalam hal ini, mahasiswa Sit In hanya berhak mengikuti perkuliahan selama dua semester dan harus kembali ke Untad, karena mereka terhitung sebagai mahasiswa Untad.

Suharman juga menyebutkan, hingga Senin(3/12), ada 90 mahasiswa yang telah kembali ke Untad. Mereka rata-rata mahasiswa tingkat akhir yang mata kuliah yang diikuti tinggal satu atau dua, bahkan ada yang telah rampung.

Kembalinya mahasiswa ini kata Suharman karena ada instruksi dari Untad pada 5 November lalu karena perkuliahan di Untad kembali digelar. “Kami tidak memiliki hak untuk menahan mahasiswa. Jika mereka ingin kembali kami persilakan. Kami sertakan dengan catatan akademik sebagai mahasiswa Sit In untuk mempermudah pengakuan telah mengambil sit in di Unhas,”ujarnya.

Sedangkan bagi mahasiswa yang masih berada Unhas, maka pihak Unhas tetap melakukan memfasilitasi termasuk pendampingan psikisnya.

Zulfahmi Husain, salah satu students volunteer mengatakan, selalu mendampingi para mahasiswa Sit In sejak tahap awal pendaftaran. Mereka juga yang membantu para mahasiswa Sit In untuk beradaptasi hingga mencari penginapan.

“Ada anak yang tinggal di rumah saya. Namanya Gian Giovani, dia enggak ada keluarga di Makasssar jadi saya ajak tinggal di rumah,” kata mahasiswa prodi Hubungan Internasional itu.

Ia menuturkan, tugas utama students volenteer adalah merangkul dan memberi dukungan agar mahasiswa Sit In betah dan mau belajar serta melupakan trauma karena pada umumnya mahasiswa tujuannya tidak hanya untuk belajar.

Gian Giovani mahasiwa Sit In Untad menuturkan, mengikuti program sit in atas dorongan orang tua untuk tetap belajar dan tidak tertinggal. Ia juga mengatakan, akan bertahap di Unhas hingga ujian semester ganjil berakhir.

Pasalnya, mahasiswa semester tiga konsentrasi Kimia ini harus menuntaskan sembilan mata kuliah yang telah dikreditnya. “Saya jurusan Kimia, di Untad semester ganjil ini saya ambil 12 mata kuliah. Namun di sini (Unhas) yang sama dengan jurusan hanya 9, jadi saya harus tuntaskan dulu sebelum kembali ke Untad” ujarnya.

Gian tampak sangat antusias untuk kembali ke alamaternya. Pasalnya dia merindukan teman-teman seangkatannya. Apalagi pascabencana ia belum pernah menyambangi kampus dan sulit berkomunikasi dengan teman seangkatan.

Sebelumnya, Rektor Unhas Prof Dwia Aries Tina Pulubuhu mengatakan, program mahasiswa Sit In merupakan bentuk kepedulian dan kebersamaan Unhas kepada sesama anak bangsa yang ditimpa musibah untuk terus mengemban misi pendidikan dan pengajaran kepada generasi muda bangsa.

“Ketika salah satu bagian dari masyarakat kita tertimpa musibah, maka kita bersama-sama, bahu-membahu ikut membantu. Terlebih lagi dalam proses menyiapkan kader-kader muda kita yang kelak menjadi pemimpin-pemimpin bangsa. Ruang kelas boleh runtuh, tetapi semangat belajar tetap utuh,” kata Dwia.

Dwia mengatakan, mahasiswa Sit In semasa kuliah sementara di Unhas, mereka dapat mengakses seluruh fasilitas yang tersedia di Unhas. Bahkan, mahasiswa Untad yang Sit In tersebut bisa bergabung di 34 Unit Kegiatan mahasiswa (UKM) yang ada di Unhas.

Menurut Dwia, kehadiran mahasiswa Untad bukanlah sebagai tamu Unhas, tetapi sebagai saudara tua. Sebab, Untad adalah cabang perguruan tinggi yang dibuka Unhas di Palu.

Sehingga, antara Unhas dan Untad sangat dekat. “Dulu kita adalah satu. Karena Tadulako adalah cabang dari Unhas. Bahkan kita menempatkan rektor yang pertama itu adalah guru besar dari Universitas Hasanuddin,” katanya.



Sumber: BeritaSatu.com
CLOSE