Serial Pretty Little Liars yang bisa menjadi contoh tayangan yang mempertontonkan perempuan dalam sosok setereotipe, cantik dan seksi.
Karakter perempuan di TV dan film masih tersisihkan dan terlalu menonjolkan sisi seksualnya.

Bisa jadi kita melihat sisi perempuan tangguh dalam Carrie Mathison, dalam serial Homeland yang diperankan Claire Danes, namun masih ada enam karakter perempuan dalam Real Housewives yang memperlihatkan perempuan secara “suram”.

Inilah pesan yang disampaikan para peneliti yang mengadakan penelitian gabungan antara USC Annenberg dan Geena Davis Institute on Gender in Media.

Penelitian ini yang dipimpin oleh pakar sosiologi Stacy L. Smith, menganalisa 11.927 peran penting dalam program-program televisi di jam-jam utama yang ditayangkan pada musim semi 2012, acara televisi anak-anak yang ditayangkan pada 2011, dan film-film keluarga yang dirilis antara 2006-2011. Tim Smith mempelajari karakter-karakter perempuan dari sisi pendidikan, penampilan, ukuran tubuh, dan apakah mereka bicara atau tidak.

Data dari tim ini memperlihatkan bahwa pada televisi di jam tayang utama, 44,3 persen secara menguntungkan mendapat pekerjaan – dibandingkan 54 persen lelaki. Perempuan-perempuan di semua kategori itu cenderung terlihat memakai busana seksi atau mempertontonkan beberapa bagian tubuhnya, dan ukuran tubuh mengikuti tren.

“Di seluruh tayangan jam utama dan film-film keluarga, remaja perempuan ditampilkan dalam kondisi tubuh kurus,” tulis Smith.

Dalam sebuah kesimpulan dari temuan penelitian ini, para peneliti melaporkan bahwa mereka menemukan kurangnya aspirasi peran-peran panutan perempuan dalam tiga kategori media, dan menyatakan lima observasi utama: karakter perempuan tersisihkan, perempuan sering distereotipekan, dan ditampilkan secara seksual, keberadaan dalam pekerjaan yang tidak seimbang, dan tidak cukup ada karakter perempuan yang bekerja dalam bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika.

“Baik remaja putri dan putra seharusnya melihat para perempuan pengambil keputusan, pemimpin politik, manajer, dan ilmuwan. Dengan menambah jumlah dan keberagaman dalam pemimpin-pemimpin perempuan dan model-model panutan di layar kaca dan film, para pencipta tayangan bisa mempengaruhi ambisi dan aspirasi karier pada remaja putri,” demikian kesimpulan para peneliti.

Hasil ini mendukung penelitian sebelumnya, yang memperlihatkan bahwa televisi dan film mempengaruhi pandangan anak-anak dalam peran gender dan aspirasi terhadap pekerjaan.

Menurut sebuah survei dari Kaiser Family Foudation pada 2011, kaum muda Amerika usia 8-18 tahun mengonsumsi rata-rata media hiburan sebanyak tujuh jam dan 38 menit dalam sehari, dan 71 persen responden survei ini memiliki televisi di kamar mereka.

Geena Davis, pendiri dan donatur Institute on Gender in Media mengatakan bahwa data penelitian baru ini “akan menyediakan pandangan bagus tentang kesempatan bagi komunitas hiburan untuk mempengaruhi dan menginspirasi anak-anak kita untuk mempertimbangkan jalur karier yang tidak stereotipe.”

Penulis: