Ilustrasi korban kejahatan
Hingga kini, motif tewasnya pegawai bank swasta itu masih misterius.

Kasus pembunuhan yang melibatkan WNA India di Apartemen Kalibata City, pada Sabtu (22/9), hingga kini masih menyisakan tanda tanya. Pasalnya, motif pembunuhan tersebut hingga kini belum terungkap.

Masyarakat hanya bisa menduga-duga alasan Mirza Nurzaman, 31, WN India, membunuh kekasihnya Asywarah Indah Sari Eka Putri, 26. Padahal diketahui, pada 29 September 2012 pasangan kekasih tersebut akan melangsungkan pernikahan.

Menurut warga yang tinggal di apartemen Kalibata City Tower Borneo, Mirza memang merupakan sosok misterius. "Warga sini sih sering lihat orang itu (Mirza). Orangnya tinggi putih dan ganteng. Tapi kami tidak tahu apa pekerjaannya," kata salah satu penghuni Tower Borneo Kalibata City yang enggan disebutkan namanya.

Senada dengan itu, salah seorang pemilik warung makan mie ayam di Tower Borneo mengatakan, Mirza adalah sosok yang baik. "Kalau aku sih kenal sama Mirza itu. Orangnya baik, rajin ibadahnya. Kita sering salat bareng. Kalau keluar-keluar ke bawah dia selalu bawa kamus Bahasa Indonesia karena dia belum lancar berbahasa Indonesia," ungkapnya.

Salah satu petugas kebersihan di lokasi itu mengatakan, Mirza sering bertegur sapa dengan dirinya." Orangnya sih baik. Sering bertegur sapa dengan kita. Tapi, pakai bahasa Inggris. Karena saya tidak bisa bahasa Inggris paling dia ketawa-tawa aja. Dia di sini baru mas. Paling baru satu bulan. Dia suka makan di Warung Bunda dan sering diledekin," ujarnya.

Hampir ultah

Bukan hanya hendak melangsungkan pernikahan, Asywarah Indah Sari Eka Putri Sakti yang menjadi korban kekejian Mirza, kekasihnya, itu sejatinya juga akan merayakan HUT-nya pada 1 Oktober 2012.

Gadis berkerudung itu dikenal sebagai sosok perempuan yang baik hati, ramah, pendiam, keibuan, dan menyukai anak kecil. Asywarah, yang akrab disapa Eka, merupakan anak ke-2 dari 4 bersaudara.

Eka memiliki satu kakak laki-laki, satu adik perempuan, dan satu adik laki-laki yang masih bersekolah. Ibunya bernama Simpursiah dan ayahnya bernama Syamsuri HM Arfah.  

Dituturkan salah satu tetangganya, Herman, pemilik warung di dekat rumah Eka, almarhumah adalah sosok perempuan yang baik. Gadis asal Makassar, Sulawesi Selatan itu tidak pernah terlihat bersama laki-laki.

Sehari-harinya, Herman mengatakan, Eka lebih banyak meluangkan waktu di rumah. Eka juga sering bermain sepeda mengelilingi wilayah rumahnya, atau sesekali pergi mencari makanan tak jauh dari rumahnya.

Di pagi hari, menurut Herman, gadis yang bekerja di Bank Mualamat Sudirman, Jakarta Pusat itu kerap mengantarkan ayahnya bekerja. Saat Beritasatu.com tiba di rumah duka di Kompleks DKI Blok O-2, No.12 RT 012/RW 02, Kelurahan Pondok Kelapa, Duren Sawit, Jakarta Timur, suasana duka masih pekat terasa menyelimuti.

Di depan pagar rumah yang berwarna hitam, beberapa karangan bunga dari bank swasta berdiri tegak bagai turut menemani kesedihan yang mendalam akibat tewasnya Eka di tangan calon suaminya. Salah satunya adalah karangan bunga dari perusahaan tempat Eka bekerja, yaitu bank Muamalat Sudirman.

Dan agaknya, kepedihan akibat ditinggal mendadak dan tragis oleh salah satu anggota keluarganya itu membuat mayoritas keluarga korban hingga kini masih memilih untuk menolak memberikan informasi seputar kepergian Asywarah.


Penulis: