Asywarah Indah Sari Eka Putri Sakti, karyawati Bank Mualamat Sudirman. Korban pembunuhan sadis di Kalibata City.
Asywarah Indah Sari Eka Putri Sakti, karyawati Bank Mualamat Sudirman. Korban pembunuhan sadis di Kalibata City.
Harus digali lebih jauh melalui psikologi forensik dan hasil autopsi dari kedokteran.

Kasus pembunuhan yang melibatkan WNA India di Apartemen Kalibata City, pada Sabtu (22/9), hingga kini masih menyisakan tanda tanya. Pasalnya, motif pembunuhan dan hasil autopsi pun hingga kini belum terungkap.

Masyarakat hanya bisa menduga-duga alasan Mirza Nurzaman (31), WN India, membunuh kekasihnya, Asyawarah Indah Sari Eka Putri (26). Padahal diketahui, pada 29 September 2012, pasangan kekasih tersebut akan melangsungkan pernikahan.

Menanggapi kasus tersebut, psikolog, Henni Norita dari Lembaga Psikologi Hikari berpendapat,  memang masih sangat sulit untuk menyimpulkan apa motif dari pembunuhan tersebut, dan apakah pelaku mengalami gangguan kejiwaan.

“Perlu data yang lebih detil dan akurat dari pihak yang berkompeten untuk bisa disimpulkan, bahwa pelaku mengalami gangguan kejiwaan atau tidak,” jelasnya kepada Beritasatu.com.

Data tersebut, lanjut dia, misalnya bisa didapat dari hasil autopsi korban pembunuhan dan pelaku pembunuhan yang tewas karena bunuh diri,  wawancara dengan keluarga, teman, rekan kerja dan lingkungan.

Motifnya Bisa Bermacam-macam
Pembunuhan itu sendiri, kata Henni, dapat dilakukan dengan berbagai macam motif, seperti dendam, kecemburuan, membela diri dan masih banyak lagi.

Seseorang, lanjut dia, dapat melakukan pembunuhan dengan cara yang mungkin tidak terbayangkan oleh orang lain, karena sebelumnya orang tersebut telah memiliki masalah psikologis yang bisa membuatnya tidak berada pada realitas ketika ia melakukan hal tersebut.

Masalah ini harus digali lebih jauh melalui psikologi forensik yang sangat membantu dalam melakukan penyelidikan secara mendalam terkait kasus pembunuhan dengan gangguan jiwa, serta hasil autopsi korban dan pelaku pembunuhan oleh pihak kedokteran.

Henni menjelaskan, gangguan jiwa itu sendiri adalah suatu ketidakberesan kesehatan dengan manifestasi-manifestasi psikologis atau perilaku terkait dengan penderitaan yang nyata dan kinerja yang buruk, yang disebabkan oleh gangguan biologis, sosial, psikologis, genetik, fisik, atau kimiawi.

“Nah, setiap gangguan jiwa dinamai dengan istilah yang tercantum dalam PPDGJ-IV (Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia edisi IV) atau DSM-IV-TR (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, 4th edition with text revision),” imbuh perempuan berjilbab ini.

Lain halnya dengan perilaku Bunuh diri adalah perilaku merusak diri yang langsung dan disengaja untuk mengakhiri kehidupan. Individu, kata Henni, secara sadar berkeinginan untuk mati sehingga melakukan tindakan-tindakan untuk mewujudkan keinginan tersebut.

Gangguan Konsep Diri
Salah satu penyebab perilaku bunuh diri, tambah dia, karena individu mempunyai koping (problem solving) tidak adaptif akibat dari gangguan konsep diri meliputi: harga diri rendah, dihina, atau gangguan suasana perasaan (gangguan mood) terutama depresi.

Ada pula jenis gangguan kejiwaan seperti Bipolar disorder, jenis penyakit psikologi yang ditandai dengan perubahan mood (alam perasaan) yang sangat ekstrim, yaitu berupa depresi dan mania.

“Bipolar disorder mengacu pada suasana hati penderitanya yang dapat berganti secara tiba-tiba antara dua kutub (bipolar) yang berlawanan yaitu kebahagiaan (mania) dan kesedihan (depresi) yang ekstrim,” jelas Henni.

Setiap orang pada umumnya pernah mengalami suasana hati yang baik (mood high) dan suasana hati yang buruk (mood low). Akan tetapi, seseorang yang menderita bipolar disorder memiliki mood swings  yang ekstrim yaitu, pola perasaan yang mudah berubah secara drastis. Suatu ketika, seorang pengidap bipolar disorder bisa merasa sangat antusias dan bersemangat (mania).

Namun, ketika mood-nya berubah buruk, ia bisa sangat depresi, pesimis, putus asa, bahkan sampai mempunyai keinginan untuk bunuh diri (depresi).

Penulis: