Bagian-bagian daging sapi yang biasa digunakan untuk masakan
Jakarta akan krisis daging sapi pada tahun depan, karena 100 persen suplai daging sapi di Jakarta berasal luar dan lokal.

Komite Daging Sapi (KDS) DKI Jakarta memperkirakan, krisis daging sapi di Jakarta akan terus berlanjut hingga tahun 2013 menyusul penetapan kuota 80.000 ton oleh pemerintah pusat untuk tahun depan.

KDS meminta, pemerintah menambah kuota agar tidak terjadi kelangkaan sehingga melambungkan harga

"Dari angka tersebut, sebanyak 40 persen atau 32.000 ton daging sapi impor dan 60 persen daging sapi dari hewan sapi hidup," kata Ketua KDS DKI Jakarta, Sarman Simanjorang, di Jakarta, Senin (3/12).

Dia mengatakan, kuota daging sapi impor yang ditetapkan 32.000 ton untuk 2013 akan mengakibatkan  krisis daging di DKI Jakarta. “Tahun ini saja kuotanya sebesar 34.000 daging sapi impor sudah ngos-ngosan," kata dia.

Padahal, KDS sudah meminta tambahan 8.500 ton daging untuk industri. Sehingga total daging sapi di tahun 2012 mencapai 42.500 ton. "Kalau tahun depan diturunkan menjadi 32.000 ton, bagaimana?” kata Sarman.

Dia menjelaskan, kebutuhan daging sapi impor di Jakarta bisa mencapai 85.000 per tahun. Kebutuhan sebesar itu antara lain diperuntukkan industri besar non NAMPA sebanyak 4.250 ton, ritel sebesar 10.200 ton, NAMPA sebanyak 17.000 ton, Horeca sebanyak 17.000 dan untuk Aspedata sebanyak 36.000 ton.

“Ritel seperti supermarket atau hypermarket melayani ekspatriat dan warga menengah ke atas. Horeca  di Jakarta ada sebanyak 7.000 pengusaha, sedangkan kelompok UKM bakso, soto, sate burger, warung padang dan warteg ada 16.000 pengusaha. Mereka sangat membutuhkan stok daging sapi yang cukup, kalau tidak, usaha mereka terancam gulung tikar,” ujarnya.

Sarman menegaskan Jakarta akan krisis daging sapi pada tahun depan, karena 100 persen suplai daging sapi di Jakarta berasal luar dan lokal.

Masalahnya, suplai daging dari daerah pemasok sapi hidup juga terganggu menyusul aksi unjuk rasa di daerah penghasil karena kekurangan daging sapi, seperti Malang, Magelang, Ciamis, Tasikmalaya, Depok, Banjar dan Surabaya.

"Semuanya itu berada di Provinsi Jawa Barat dan Jawa Timur yang dulunya merupakan daerah penyuplai daging untuk Jakarta," kata dia.

Sedangkan daerah pemasok daging Nusa Tenggara Barat (NTB) tidak mau mengirimkan hewan sapi ke Jakarta karena biaya distrisbusinya lebih mahal.

“Artinya, kebijakan pemerintah melakukan swasembada sapi jauh dari harapan. Kebijakan mengurangi kuota impor daging sapi sangat berdampak negatif buat Jakarta. karena itu, gubernur harus meminta kuota khusus buat Jakarta sebanyak 50.000 ton daging sapi. Kalau kuota itu terpenuhi, maka tidak ada gejolak harga daging sapi,” paparnya.

Lebih lanjut dijelaskan, kuota daging 2013 akan dialokasikan untuk industri olahan anggota National Meat Processor Association (NAMPA) sebanyak 18.900 ton daging dan distributor daging sapi anggota Asosiasi Distributor Daging Indonesia (ADDI) sebanyak 1.700 ton.

Selanjutnya, pengusaha mie dan bakso sebanyak 700 ton, Asosiasi Pengusaha Pengolahan Daging Skala UKM dan Rumah Tangga (Aspedata) sebanyak 500 ton dan sisanya untuk kebutuhan hotel, restoran dan café (horeca) sebanyak 13.100 tong daging sapi.


 


Penulis: