Ilustrasi perawat
Jakarta butuh sekitar 400 tenaga medis.

Membludaknya warga yang melakukan pengobatan dengan menggunakan Kartu  Jakarta Sehat (KJS) menyebabkan banyak Puskesmas (Pusat Kesehatan  Masyarakat) dan Rumah Sakit di Jakarta mengalami kekurangan tenaga  medis.
 
Menurut data dari Dinas Kesehatan DKI Jakarta, semenjak KJS mulai dapat  digunakan oleh warga DKI Jakarta, jumlah pasien yang datang ke Puskesmas  dan RS meningkat dari 50 hingga 70 persen.
 
Sementara, lonjakan tersebut tidak diikuti dengan jumlah tenaga medis  yang hanya berjumlah pada kisaran 6 sampai 15 petugas saja di tiap  Puskesmas atau RS.
 
Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Dien Emmawati, mengatakan paling  tidak untuk menutupi kekurangan, dibutuhkan sekitar 400 tenaga medis  tambahan pada tahun depan.
 
"Untuk kekurangan ini, kita sudah mengajukan usulan kepada Badan  Kepegawaian Daerah (BKD) dalam perekrutan CPNS (Calon Pegawai Negeri  Sipil)," kata Dien, di Balai Kota, Jakarta, Kamis (20/12).
 
Dien mengatakan apabila dari CPNS tersebut masih belum  dapat dipenuhi, maka dirinya akan melakukan perekrutan dari tenaga  non-PNS atau swasta.
 
Pasalnya, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mentargetkan dapat memenuhi  KJS untuk total 4,7 juta warga Jakarta yang mengalami kesulitan ekonomi  pada tahun 2013 mendatang.
 
Pemprov DKI Jakarta juga berencana mengalokasikan dana sebesar Rp1,2  triliun untuk kesehatan pada Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD)  DKI tahun 2013.
 
"Sebagian besar daerah yang membutuhkan tenaga medis sebenarnya ada di  wilayah puskesmas yang terletak di kawasan padat penduduk atau kawasan  kumuh," sambung Dien.
 
Di sisi lain, anggota Komisi E Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI  Jakarta, Achmad Nawawi, mengkritik penerapan KJS yang masih terkesan  instan dan kurang perencanaan yang matang.
 
"Niatan baik ini seharusnya bisa dibarengi dengan berbagai kajian yang  mendalam. Tingginya jumlah pasien perlu diimbangi dengan jumlah perawat,  dokter, dan ketersediaan obat yang memadai," kata Achmad.

Penulis: /FER