Ilustrasi borgol
Akibat perbuatannya itu, Sho (39) dijerat Pasal 263 KUHP tentang pemalsuan, dengan ancaman hukuman tujuh tahun.

Jakarta
- Seorang pemalsu dokumen negara, Sho (39), dibekuk oleh jajaran petugas dari Polres Metro Jakarta Timur (Jaktim), Kamis (10/1) lalu.

Selama tiga tahun, Sho diketahui memalsukan dokumen negara berupa Kartu Tanda Penduduk (KTP), Kartu Keluarga (KK), dan Akte Kelahiran.

"Tersangka mengaku membuat ini (dokumen-dokumen palsu) sudah berlangsung tiga tahun. Menurut pengakuannya, selama itu dia memproduksi 400 lembar dokumen palsu. Tapi kami tidak percaya, karena saat ditangkap saja ada lebih dari empat rim kertas yang belum diolah," kata Kapolres Metro Jakarta Timur, Kombes (Pol) Mulyadi Kaharni, Selasa (22/1).

Dikatakan Mulyadi, berdasar pengakuan tersangka, dokumen-dokumen tersebut dibanderol seharga Rp 30.000. Melalui agen, kebanyakan pemesan pelanggaran Sho merupakan ibu rumah tangga di daerah Jawa Barat, seperti Karawang, Subang, Sukabumi, Cirebon, atau Bandung.

Dokumen-dokumen palsu ini rencananya akan digunakan untuk keperluan calon Tenaga Kerja Indonesia (TKI) dengan tujuan Timur Tengah dan Asia-Pasifik.

"Dia membeli blangko KTP, KK dan Akte Kelahiran yang juga palsu. Nama pemesan, tempat tanggal lahir dan alamatnya mungkin benar. Tapi setelah kami kroscek, nama pejabat dan tanda tangannya palsu," katanya.

Menurut Mulyadi pula, lantaran tindak pemalsuan yang dilakukan tersangka itu, negara mengalami kerugian cukup besar. Pasalnya menurut dia, perbuatan tersangka membuat catatan penduduk menjadi kacau-balau.

"Apalagi sekarang ini mendekati (momen) Pilkada Jawa Barat," katanya.

Pengungkapan kasus ini, menurut Mulyadi, bermula dari razia narkoba yang digelar anggotanya pada Kamis (10/1) lalu. Saat itu, tersangka kedapatan membawa tiga paket sabu.

Berdasarkan itu, anggota kemudian mendatangi rumah tersangka, di Gang Randu RT 03/04, Jalan Pahlawan Revolusi, Kelurahan Klender, Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur.

"Saat rumahnya digeledah, kami mendapat barang-barang yang digunakan untuk memalsukan dokumen," jelas Mulyadi.

Dari rumah tersangka, polisi menyita satu set komputer, tiga printer, dua unit scan, 12 stempel dinas, tujuh rim kertas untuk KK, dua bundel kertas KK, lima KTP palsu, 42 blangko kosong KTP, 95 lembar blangko kosong akta kelahiran, tujuh akta kelahiran palsu, empat lembar KK palsu, serta tiga HP merk Nokia, Nexian dan Cross.

Atas tindak pidana yang dilakukannya, tersangka dijerat Pasal 263 KUHP tentang pemalsuan, dengan ancaman hukuman tujuh tahun.

 


Penulis: