Grup D

Timnas Kroasia

Timnas Kroasia
Dwi Argo Santosa / AB Jumat, 1 Juni 2018 | 00:00 WIB

Asosiasi: Hrvatski Nogometni Savez (HNS)
Julukan: Vatreni, The Blazers
Peringkat FIFA: 20 (7 Juni 2018)
Most Caps:Darijo Srna (134)
Top Scorer: Davor Suker (45)
Pelatih: Zlatko Dalic (Kroasia)
Tampil: 5 Kali (Prestasi Terbaik Peringkat Ketiga 1998)

Persis 20 tahun lalu, Kroasia sukses menarik perhatian dunia di Piala Dunia 1998 di Prancis. Negeri seluas 56.594 kilometer persegi yang baru sekitar tujuh tahun terbentuk sebagai pecahan Yugoslavia itu untuk pertama kali berkiprah di Piala Dunia. Namun, tim kotak-kotak merah putih secara mengejutkan mampu menggapai juara ketiga. Davor Suker, sang striker sekaligus kapten kala itu, membawa pulang penghargaan sepatu emas karena menjadi pencetak gol terbanyak, enam gol.

Mereka menyingkirkan Jerman dengan skor telak 3-0 dalam perebutan kursi semifinal. Davor Suker dkk gagal ke final setelah kalah dari tuan rumah dengan skor 1-2. Namun di pertandingan memperebutkan tempat ketiga, Kroasia mengandaskan Belanda 2-1.

Prestasi itu sulit untuk diulang kembali pada Piala Dunia tahun ini, meski pasukan asuhan Zlatko Dalic ini punya gelandang kenamaan, yakni Luka Modric (Real Madrid) dan Ivan Rakitic (Barcelona). Tim ini juga memiliki trisula maut, yakni penyerang Mario Mandzukic (Juventus), Ivan Perisic (Inter Milan), dan Nikola Kalinic (AC Milan). Namun, prestasi Kroasia tidak sedang moncer. Buktinya, perjalanan menuju Rusia tidak mulus. Kroasia harus bersusah payah dan nyaris gagal lolos.

Dari 10 pertandingan di babak kualifikasi, Kroasia mampu mencatat enam kemenangan, dua kali imbang, dan dua kali kalah. Pelatih Ante Cacic dipecat lantaran deretan hasil buruk yang diraih Kroasia selama babak kualifikasi. Zlatko Dalic, sang pengganti, mampu menyelamatkan Kroasia sehingga mereka bisa merebut tiket ke play-off ke Rusia setelah menyingkirkan Yunani dengan agregat 4-1.

Di ajang Piala Dunia tahun 2002, 2006, dan 2014, Kroasia tidak pernah mampu lolos dari babak penyisihan grup. Catatan ini yang mendasari penilaian bahwa Kroasia sulit mendulang prestasi seperti 20 tahun lalu. Bahkan untuk bisa lolos dari babak penyisihan grup pun bukan hal mudah bagi Luka Modric dkk. Mereka harus bertarung melawan Argentina, Islandia, dan Nigeria. Hanya Argentina yang di atas kertas memiliki peluang terbesar bakal lolos, sementara pendamping Negeri Tango ke babak berikutnya masih menjadi tanda tanya.

Pemain Bintang
Luca Modric baru saja membawa Real Madrid merengkuh Piala Champions 2018. Ini adalah raihan keempatnya bersama Madrid, tiga di antaranya diperoleh secara berturut-turut. Sebagai gelandang, tentu saja peran Modric sangat signifikan, seperti memainkan tempo permainan, mengatur serangan, dan membagi bola kepada para penyerang.

Luca Modric.

Pemain berbadan kecil untuk ukuran Eropa--172 sentimeter--ini disegani lawan karena dikenal sebagai gelandang cerdas, bertenaga, punya umpan terukur. Lebih mengesankan lagi, pada usia ke-32 tahun, kemampuannya seolah tak pernah menurun. Ia konsisten bermain di lini tengah sejak membela Tottenham Hotspur, kemudian dibeli Madrid pada musim 2012-2013. Piala Dunia kali ini kemungkinan besar adalah kesempatan terakhir Modric tampil, sehingga ia akan mengerahkan seluruh kemampuannya untuk membawa timnas Kroasia menorehkan pencapaian lebih dari sekadar babak pertama.

Pelatih
Zlatko Dalic (51) menangani timnas Kroasia sejak Oktober lalu setelah CFF (Federasi Sepak Bola Kroasia) memecat pelatih Ante Cacic. Cacic dipecat menyusul penampilan Kroasia yang tidak begitu menggembirakan di babak kualifikasi Piala Dunia 2018 zona Eropa. Kekalahan dari Turki dan hasil imbang melawan Finlandia membuat Kroasia gagal mengamankan posisi juara grup. Kroasia yang sempat memimpin klasemen akhirnya bisa disusul oleh Islandia.

Zlatko Dalic.

Dalic langsung mendapat tugas berat. Kroasia harus menang melawan Ukraina atau minimal seri. Sang lawan memiliki nilai sama meski Kroasia menang selisih gol. Bila kalah maka Kroasia harus melupakan mimpi bermain di Rusia. Dalic akhirnya mampu menjawab tantangan tersebut dengan menjungkirkan lawan di kandang Ukraina dengan skor 2-0.

Dalic pun sukses memimpin pasukannya menjalani babak play-off melawan Yunani. Kroasia di bawah Dalic mengamankan kemenangan agregat 4-1. Keberhasilan itu disikapi dengan rendah hati oleh Dalic yang menyatakan bahwa ia tidak perlu bekerja banyak karena kinerja timnas di kualifikasi sangat ditentukan pelatih sebelumnya. Kroasia di tangan Dalic tetap menggunakan formasi seperti pendahulunya 4-3-2-1.



Sumber: Suara Pembaruan