Grup E

Timnas Brasil

Timnas Brasil
Dwi Argo Santosa / AB Jumat, 1 Juni 2018 | 00:00 WIB

Asosiasi: Confederacao Brasileira de Futebol (CBF)
Julukan: Canarinho (Kenari Kecil), Selecao (Tim Pilihan)
Peringkat FIFA: 2 (7 Juni 2018)
Most Caps: Cafu (142)
Top Scorer: Pele (77)
Pelatih: Tite (Brasil)
Tampil: 21 Kali (Prestasi Terbaik Juara 1958, 1962, 1970, 1994, dan 2002)

Brasil selalu menjadi salah satu kandidat juara Piala Dunia yang diselenggarakan di mana pun. Selain prestasinya sebagai negara yang mengoleksi paling banyak gelar juara dunia, talenta sepakbolanya memang bejibun di Negeri Samba ini. Brasil adalah satu-satunya negara yang belum pernah absen di Piala Dunia. Brasil adalah pencetak gol terbanyak di Piala Dunia. Brasil adalah negeri sepakbola.

Negara berpenduduk 209,7 juta jiwa ini sangat mendominasi dunia persepakbolaan. Seperti juga pada babak kualifikasi zona Amerika Selatan, Brasil cukup dominan hingga berhasil menjadi negara pertama yang memastikan lolos ke putaran Piala Dunia 2018 di Rusia.

Tim asuhan pelatih Tite ini meraih delapan kemenangan beruntun untuk memastikan satu dari empat tiket jatah zona Amerika Selatan. Total dari 14 laga yang dilakoni, Brasil hanya menelan 1 kali kekalahan, yakni di partai perdana ditekuk Cile 0-2.

Torehan kemenangan Brasil, antara lain menggilas Ekuador tiga gol tanpa balas, Kolombia (2-1), termasuk membantai Argentina 3-0 dan Uruguay 4-1.

Tite sebagai pelatih baru telah berhasil meramu susunan pemain dan formasi ideal. Salah satu persoalan terbesar yang diemban para pelatih Brasil adalah memilih pemain karena begitu banyak pemain berbakat yang bermunculan. Tak jarang beberapa nama "asing" muncul mendampingi Neymar serta Coutinho di starting eleven Brasil kala babak kualifikasi.

Saat berangkat ke Rusia, Tite membawa serta pemain klub lokal, yakni kiper Cassio Ramos dan bek sayap Fagner (Corinthians) serta bek Pedro Geromel (Gremio). Tim ini juga membawa para pemain yang merasakan kegagalan di Piala Dunia 2014, seperti Marcelo, Fernandinho, Paulinho, dan Willian.

Selain soal pemilihan pemain, Tite tentu saja berhasil menemukan taktik jitu untuk mengalahkan lawan tanpa harus meninggalkan filosofi bermain sepakbola yang dinamakan jogo bonito atau sepakbola cantik. Brasil diprediksi tidak akan kesulitan menghadapi lawan-lawannya di partai awal. Di grup E bersama Swiss, Kosta Rika, dan Serbia, tim Samba diperkirakan bakal menjadi juara grup.

Pemain Bintang
Salah satu berita besar menjelang Piala Dunia adalah kabar kemungkinan Neymar gagal ikut ke Rusia gara-gara cedera pergelangan kaki yang dideritanya ketika membela PSG melawan Olympique Marseille, Februari lalu. Video pergelangan kaki kanan Neymar yang tertekuk seusai berebut bola, viral. Orang yang melihat tayangan ulang bakal tak menyangka bahwa cedera Neymar sembuh dalam waktu relatif cepat. Apalagi setelah pemeriksaan lebih lanjut mantan pemain Barcelona itu dinyatakan mengalami cedera pada pergelangan kaki kanan dan retak pada tulang metatarsal kelima.

Neymar.

Namun kenyataannya Naymar telah kembali. Buktinya ia mencetak satu dari dua gol kemenangan Brasil atas Kroasia pada pertandingan uji coba di Stadion Anfield, Liverpool, Minggu (3/6/2018) waktu setempat. Yang menggembirakan adalah proses gol, di mana Neymar berhasil mengecoh tiga pemain lawan sebelum memberikan tendangan geledek ke gawang Kroasia.

Seperti pada Piala Dunia 2014, Brasil akan kembali mengandalkan Neymar. Seperti Brasil yang ditakuti lawan-lawannya, Neymar pun menjadi momok bagi setiap pemain bertahan lawan. Tak mengherankan, seperti dilansir Opta, Neymar adalah pemain yang paling sering dilanggar di lima kompetisi terelite Eropa plus Liga Turki. Tercatat ia dilanggar setiap 17 menit sekali.

Bila tak ada aral terkait cedera, Neymar bakal menambah pundi-pundi golnya. Ia kini ada di posisi keempat pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah timnas Brasil. Ia kini berada di bawah Pele, Ronaldo, Zico, dan Romario.

Tite, sang pelatih, yakin permainan Neymar akan kembali secara bertahap. Pada laga ketiga, keempat, atau kelima, barulah Neymar akan kembali ke level permainannya

Pelatih
Tite (57) adalah pelatih yang sukses membawa Brasil meraih delapan kemenangan beruntun, sehingga mengunci satu dari empat tiket otomatis ke Rusia di kualifikasi zona Amerika Selatan. Pemilik nama lengkap Adenor Leonardo Bacchi ini memang tidak seterkenal pendahulunya, Dunga. Namun, pengalaman dan prestasi Tite menangani klub cukup panjang.

Ia membawa klub Gremio meraih gelar juara Copa Brasil pada 2001. Tite mempersembahkan dua gelar juara Liga Brasil pada klub Corinthians pada musim 2010/2011 dan 2014/2015, serta Copa Libertadores, setara dengan Liga Champions di Eropa, pada 2012.

Tite.

Sebagai juara antarklub di kawasan Amerika Selatan, Corinthians pada musim itu maju ke final Piala Dunia Antarklub. Di ajang inilah Tite meraih gelar tertingginya sebagai manajer sepakbola setelah Corinthians menaklukkan jawara Eropa kala itu, Chelsea dengan skor tipis 1-0. Prestasi yang dicapai Tite ini tentu saja tidak dinikmati oleh banyak pelatih. Kendati demikian toh Tite tidak semasyhur pelatih tim Samba sebelumnya, seperti Luiz Felipe Scolari, Carlos Alberto Parreira, atau Carlos Dunga.

Tite muda adalah seorang pemain yang pensiun muda. Pada usia puncak 27, ia harus mundur karena cedera lutut yang tak kunjung sembuh. Tite kemudian memulai karier sebagai pelatih pada 1990. Selama 27 tahun dia telah menangani 16 klub.

Sinarnya sebagai pelatih mulai terlihat pada 1999 saat pria kelahiran Caxias do Sul ini menangani Caxias. Di tangan Tite, klub kecil ini menjuarai kompetisi Campeonato Gaucho, kejuaraan kecil tingkat provinsi di Brasil. Caxias kala itu mengalahkan klub besar Gremio yang saat itu masih dibela oleh pemain kawakan Ronaldinho.

Tite menerima kursi panas pelatih dari Dunga setelah Selecao terpuruk di kancah regional maupun dunia. Catatan buruk itu antara lain dilumat Jerman 7-1 pada ajang Piala Dunia 2014 yang digelar di kandang sendiri. Dua tahun kemudian Brasil tersingkir di babak penyisihan Copa America Centenario setelah hanya menduduki peringkat ketiga di bawah Peru dan Ekuador. Padahal, waktu itu Brasil diperkuat nama-nama tenar, seperti Marquinhos (PSG), Dani Alves (Barcelona), Philippe Coutinho (Liverpool), Willian (Chelsea), Casemiro (Real Madrid), Rafinha (Barcelona), Douglas Costa (Bayern Muenchen), atau Hulk (Zenit Saint Petersburg).

Tite mendapat tugas berat sebagai pengganti Dunga. Ia harus mengembalikan pamor Brasil yang selama ini disegani sebagai raksasa sepak bola karena pernah lima kali juara dunia. Sampai tahun lalu, Brasil bukan lagi tim yang begitu ditakuti.
Tite menjawab tantangan itu, setidaknya dengan membawa Neymar dkk menuju Rusia.



Sumber: Suara Pembaruan