Grup E

Timnas Kosta Rika

Timnas Kosta Rika
Dwi Argo Santosa / AB Jumat, 1 Juni 2018 | 00:00 WIB

Asosiasi: Federacion Costarricense de Futbol (Fedefutbol)
Julukan: La Sele, The Los Ticos
Peringkat FIFA : 23 (7 Juni 2018)
Most Caps: Walter Centeno (137)
Top Scorer: Rolando Fonseca (47)
Pelatih: Oscar Ramirez (Kosta Rika)
Tampil: 5 Kali (Prestasi Terbaik Perempat Final 2014)

Prestasi pada Piala Dunia 2014 mencapai perempat final membuat timnas Kosta Rika membara menuju Rusia. Kala itu Bryan Ruiz dkk adalah tim yang tak terkalahkan dalam waktu normal (90 menit) pertandingan. Rekor ini menyamai Jerman dan Belanda. Tim Oranye-lah yang akhirnya menyudahi perjuangan timnas Kosta Rika melalui babak adu penalti. Euforia sampai ke babak perempat final ini tentu masih merasuk di dada para pemain senior yang kini masih membela timnas. Bagaimana tidak, di Piala Dunia Brasil tersebut Kosta Rika berada di grup neraka bersama Uruguay, Inggris, dan Italia, tetapi mampu keluar sebagai tim teratas grup.

Semangat itu pula yang membawa Los Ticos berada di urutan kedua di bawah Meksiko kualifikasi Piala Dunia zona Concacaf. Di babak kualifikasi ini Kosta Rika mencatatkan hasil yang tidak terlalu istimewa. Dari 10 kali bertanding, mereka kalah dua kali atas Meksiko dan Panama, empat kali menang, dan empat kali seri.

Pertanyaannya apakah Kosta Rika mampu mengulang prestasi empat tahun lalu? Di grup E, Los Ticos bersama dengan raksasa sepakboola, Brasil, dan Swiss, serta Serbia. Swiss dan Swedia memang tidak sepopuler lawan mereka di Piala Dunia 2014, Inggris, Italia, atau Uruguay, Namun demikian, kedua wakil Eropa itu tidak bisa dianggap enteng.

Grup ini kemungkinan besar akan dikuasai Brasil. Tiga tim lainnya harus berebut tempat kedua untuk bisa lolos ke babak berikutnya. Di atas kertas Kosta Rika bakal mampu mengatasi Serbia, tetapi agak kesulitan menghadapi Swiss.

Kekuatan dari Kosta Rika sendiri adalah kolektivitas permainannya. Kesuksesan mereka bisa menembus putaran final sendiri bisa dikatakan karena dua faktor, yakni serangan yang matang, soliditas di lini belakang, serta ujung pertahanan yang kokoh, yakni Keylor Navas, sang kiper. Jika mampu mengandaskan Swiss dan Swedia, maka Kosta Rika akan mendampingi Brasil maju ke babak berikutnya.

Pemain Bintang
Tampaknya belum ada yang mengalahkan keterampilan dan peran Bryan Jafet Ruiz Gonzalez alias Bryan Ruiz (32) di tim Kosta Rika. Nyatanya FIFA masih menempatkannya sebagai pemain bintang di Piala Dunia 2014 dengan menempatkannya sebagai maskot The Los Ticos.

Sebagai gelandang, Ruiz yang pernah bermain di klub Twente (Belanda) dan Fulham (Inggris), sering dipasang sebagai second striker. Sekarang, pemain Sporting Lisbon ini adalah kapten Kosta Rika yang juga masuk dalam jajaran playmaker terbaik di zona Concacaf.

Selain Ruiz, ada juga pemain bintang, yakni kiper Keilor Navas yang bermain di Real Madrid. Navas bahkan lebih kondang di telinga penggemar bola di dunia ketimbang Ruiz. Kemampuan Navas di bawah mistar gawang pun tidak diragukan. Namun Ruiz, pemain kelahiran San Jose, 18 Agustus 1985 ini tetap menjadi perhatian karena ia telah mencatatkan diri sekurangnya 109 kali bersama timnas sejak bergabung pada 2005. Pada Piala Dunia 2014 lalu ia dinilai bermain cemerlang hingga sukses mengantarkan Los Ticos ke perempat final.

Pelatih
Oscar Ramirez (53) boleh saja berpengalaman berlaga di Piala Dunia sbagai pemain. Ia pernah menjadi bagian sejarah Kosta Rika saat pertama kali lolos ke putaran final Piala Dunia 1990 silam.
Lantas Ramirez menjadi asisten pelatih Los Ticos pada Piala Dunia 2006. Ketika itu Los Ticos hanya sampai babak penyisihan grup. Di Rusia kini, pemilik nama lengkap Oscar Antonio Gerardo Ramírez Hernández ini memimpin Los Ticos sebagai pelatih. Ialah penentu strategi dan formasi pemain.


Oscar Ramirez.

Keberhasilan Los Ticos sampai perempat final Piala Dunia sebelumnya belum tentu terulang karena pelatihnya pun bukan sosok yang sama dan memiliki strategi serupa. Pada 2016, Kosta Rika diasuh oleh Jorge Luis Pinto. Pria berkebangsaan Kolombia ini menggunakan formasi 5-3-2 dengan menempatkan satu pemain sebagai sweeper di depan kiper dan seorang pemain sebagai penyerang bayangan.

Setelah Piala Dunia itu, Pinto mengundurkan diri karena tidak tercapainya kesepakatan dalam hal kontrak. Kini, Ramirez sang pegganti punya rumus sendiri. Ia menyukai formasi bertahan dengan 5-4-1. Formasi ini adalah strategi yang berfokus pada lini tengah dengan umpan pendek dan penjagaan satu lawan satu. Dalam permainan formasi bisa berubah menjadi 5-2-2-1 dengan tiga bek tengah berdiri sejajar di garis pertahanan, tanpa sweeper. Keampuhan pola yang diusung Ramirez ini bakal dipertaruhkan di Rusia.



Sumber: Suara Pembaruan