Pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo dan Nachrowi Ramli.
Ilustrasi--Prabowo Subianto, Ketua Umum Dewan Pembina Partai Gerindra, mengangkat tangan Joko Widodo (Jokowi, kiri, baju kotak-kotak) dan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok, kanan). Jokowicalon gubernur dari PDI-Perjuangan.
"Kalau pemilukada 2007 lalu, Foke kan didukung oleh banyak partai, sehingga terbuka peluang memenangkan satu putaran, selain itu calonnya juga hanya dua saja."

Pengamat politik dari Universitas Indonesia (UI) Arbi Sanit mendukung pernyataan Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES), yaitu pelaksanaan Pemilukada DKI 2012 akan berlangsung dua putaran. Dari enam kandidat tersebut, akan ada dua kandidat yang akan masuk dalam putaran kedua, yaitu pasangan nomor urut 1, Fauzi Bowo (Foke)-Nachrowi Ramli (Nara) dan pasangan nomor urut 3 Joko Widodo (Jokowi) dan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

"Saya setuju dengan pernyataan itu. Karena pemilukada yang sekarang ini ada enam pasangan calon. Di antara enam tersebut, tidak ada satu pun pasangan yang sangat dominan. Sehingga kemungkinan besar proses pemilukada akan berlangsung selama dua putaran," kata Arbi, pada beritasatu.com, Rabu (4/7).

Soal jargon pasangan nomor urut 1 yang menyatakan akan menang satu putaran, Arbi mengungkapkan hal tersebut tidak tepat. Pasalnya, kecil kemungkinan Foke akan menang dalam satu putaran, apalagi hanya didukung oleh 11 partai saja. Di antara 11 partai hanya ada satu partai yang sangat besar yaitu Demokrat. Sayangnya, saat ini partai yang didominasi warna biru tersebut sedang dihadapi kisruh kasus korupsi Hambalang yang melibatkan Ketua Umum DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum.

"Kalau pemilukada 2007 lalu, Foke kan didukung oleh banyak partai, sehingga terbuka peluang memenangkan satu putaran, selain itu calonnya juga hanya dua saja. Tetapi sekarang, hanya 11 partai. Jadi lebih sulit untuk memenangkan pilkada satu putaran. Karena tidak bisa mengandalkan Demokrat," ujarnya.

Melihat dari hasil-hasil survei yang dilakukan banyak lembaga survei dan hasil pengamatannya dalam gerak politik pemilukada yang dilakukan enam pasangan calon ini, Arbi juga memprediksi dua kandidat yang akan masuk dalam putaran kedua adalah Foke dan Jokowi.

Untuk peralihan suara dari keempat pasangan yang kalah yaitu Hendardji-Riza Patria, Hidayat-Didik, Faisal-Biem dan Alex-Nono, dia mengungkapkan kemungkinan besar suara dari calon independent tidak akan beralih pada Foke dan Jokowi.

"Ada kemungkinan calon pasangan independen seperti Hendardji dan Faisal Basri tidak akan mendukung dengan memberikan pengalihan suara pendukungnya kepada Foke atau Jokowi. Karena mereka independent, tidak memihak siapa pun," ujarnya.

Sedangkan untuk kedua pasangan lainnya yaitu Hidayat-Didik dan Alex-Nono, dia melihat peralihan dukungan suara akan tergantung seberapa besar tawaran politik dan dukungan dana yang diberikan Foke atau Jokowi terhadap kedua pasangan tersebut.

"Dasarnya bukan lagi pada ideologi, melainkan berdasarkan tawaran politik dan uang. Yang mampu bayar sangat tinggi, maka akan mendapatkan dukungan suara, dan menang," jelasnya.

Namun, jika keempat pasangan yang kalah berkoalisi mendukung Jokowi pada putaran kedua, maka Foke-Nara akan kalah telak. “Untuk itu, Foke-Nara harus berhati-hari saat memasuki putaran kedua. Foke harus bekerja keras untuk mendapatkan dukungan dari keempat kandidat yang kalah itu, kalau mau memenangkan putaran kedua," kata Arbi.

Penulis: