Logo Komisi  Komisi Pemilihan Umum (KPU)

Jakarta - Koordinator Sinergi Masyarakat (Sigma), Said Salahudin, berpendapat bahwa dari pemilu ke pemilu kecurangan atau manipulasi suara lebih sering terjadi pada tahap rekapitulasi di tingkat Panitia Pemungutan Suara (PPS), Panitia Pemungutan Kecamatan (PPK), serta di Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten/kota, KPU provinsi termasuk di KPU pusat.

Sedangkan peluang terjadinya kecurangan paling kecil ada ditingkat Tempat Pemungutan Suara (TPS) karena data perolehan suara yang orisinil memang berasal dari TPS.

"Dari evaluasi itu mestinya KPU melakukan upaya perbaikan agar sedemikian rupa data hasil perolehan suara di TPS tidak mengalami perubahan dan tetap terjaga validitasnya sampai ditingkat nasional. Salah satu upaya yang bisa dilakukan KPU menurut saya adalah dengan cara menghimpun langsung data perolehan suara di tiap TPS dari Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS)," ujarnya kepada SP, Selasa (28/5).

Jadi, lanjut Said, selain tetap menggunakan pola penghitungan suara manual secara berjenjang seperti yang ada selama ini, KPU juga perlu mengambil langkah kreatif dengan memperpendek saluran penerimaan data perolehan suara langsung dari sumbernya.

Ditambahkan, secara teknis ide itu bisa direalisasikan KPU dengan membuat aturan yang mewajibkan KPPS untuk langsung melaporkan hasil penghitungan suara dari di tiap TPS kepada KPU pada hari yang sama dengàn hari pemungutan suara. Sehingga begitu proses penghitungan suara di TPS selesai, KPPS langsung mengirimkan hasilnya ke pusat data KPU.

Idealnya, tutur Said, data yang dikirimkan adalah file gambar berupa pindai atau scan sertifikat penghitungan suara (form C1) dimana menurutnya dengan cara itu maka akan lebih sukar diubah.

"Tapi kalai hal itu terkendala karena KPU belum mampu menyiapkan perangkat scaning, misalnya, maka data yang dikirim bisa melalui SMS. Persis seperti metode yang dilakukan lembaga survei saat quick count," imbuhnya.

Data yang diterima KPU pusat tersebut kemudian langsung ditampilkan di website KPU. Dengan cara itu, KPU akan memiliki data perolehan suara murni yang bisa digunakan sebagai data sandingan manakala terjadi perbedaan penghitungan dalam proses rekapitulasi ditiap jenjang.

"Jadi data itu akan mengunci niat curang dari pihak-pihak tertentu. Manfaat lainnya, publik dapat ikut mengawasi dan mengetahui lebih cepat hasil Pemilu. Jika metode ini bisa diimplementasikan dan efektif, misalnya, maka ke depan pola penghitungan suara tidak perlu lagi dilakukan berjenjang," ungkapnya.

Sebelumnya, Komisioner KPU, Hadar Nafis Gumay mengatakan, KPU akan meningkatkan standar keamanan sertifikat hasil penghitungan suara (C1). Hal ini dilakukan untuk semakin memperkecil manipulasi hasil penghitungan suara pada pemilu 2014 nanti.

"Saya kira memang tentu C1 seharusnya memiliki standar yang sama, nanti kita tingkatkan C1 dengan standar security tertentu, sehingga tidak bisa dipalsukan dan digandakan," katanya.

Hadar menambahkan, rencana lain guna meminimalisir manipulasi perhitungan suara adalah KPU berencana membangun sistem informasi yang nantinya bisa mencatat dan mempublikasikan dengan cepat hasil-hasil pemungutan suara di setiap TPS.

"Di setiap TPS begitu hasilnya sudah ada bisa dilaporkan dan dipublikasikan. Dengan cara ini semua bisa tahu, TPS dimana hasilnya berapa, sehingga dengan cara itu, potensi bermain curang bisa dikurangi, bahwa nanti ada salah pencatatan ya mungkin bisa dikoreksi tapi paling tidak diumumkan dulu," tuturnya.

Lebih lanjut, dikatakan, KPU sangat berharap bahwa sistem infomasi tersebut bisa dibangun sesuai yang diharapkan. KPU kun, diyakininya masih memiliki cukup waktu untuk membangun sistem tersebut.

Harapannya dengan begitu, semua stake holder yakni pemilih maupun partai politik, bisa mengetahui perkembangan perolehan suara dan tidak hanya bergantung dengan C1 yang selama ini termanipulasi.

"Saya memahami parpol sangat khawatir soal ini, segala persiapan sudah maksimal tapi ujung dari pemilu adalah parpol dapat suara berapa. Jadi kami sedang pikirkan untuk supaya suara itu benar-benar tidak termanipulasi, walaupun kita semua tahu sitem pemilu kita cukup rumiit peserta pemilu banyak, calonnya banyak, unit data yang kita rekam juga banyak. Tapi kita sedang pikirkan menuju kesana," tegasnya.

Suara Pembaruan

Penulis: WIN/AF

Sumber:Suara Pembaruan