Nirwan Bakrie

Jakarta - Penjualan aset-aset Grup Bakrie tak ada kaitan dengan proses menuju R1 (pemilihan presiden/pilpres) yang sedang ditempuh Aburizal Bakrie (ARB). Keputusan itu murni pertimbangan bisnis. Dalam situasi ekonomi yang belum menentu, Bakrie melepaskan sejumlah aset untuk menutup utang agar tidak membengkak dan akan sampai saatnya aset itu dibeli kembali.

"Semua keputusan penjualan aset murni pertimbangan bisnis," kata Chairman Bakrie Group, Nirwan Dermawan Bakrie dalam diskusi dengan sejumlah editor media massa di kantornya, Jakarta, Senin (17/6).

Menurut Nirwan, kegiatan politik ARB sepenuhnya didanai keluarga. Tahun ini dan beberapa tahun ke depan adalah masa yang sulit. “Bakrie sebagai grup usaha harus menurunkan posisi utang, mempertahankan, dan berusaha mendapatkan bisnis yang tahan krisis dan memiliki prospek yang baik,” ujar dia.

Nirwan Bakrie menjelaskan harga komoditas, termasuk batubara, masih terus menurun. Amerika Serikat (AS) yang selama ini memasarkan batubara ke dalam negerinya, kini mulai mengekspor. Tiongkok belakangan ini juga memperketat impor batubara. Penurunan permintaan batubara dan naiknya biaya produksi batubara menyebabkan keuntungan perusahaan batubara anjlok, bahkan tidak sedikit yang merugi.

Kondisi ekonomi 2013, kata Nirwan, lebih baik dari 1998 saat Indonesia dilanda krisis moneter, bahkan dibanding 2008 ketika terjadi krisis finansial global. Pada 2008, yang terkena masalah adalah perusahaan, bukan fundamental ekonomi. Sedangkan pada 1998, perusahaan dan fundamental ekonomi Indonesia terpukul.

"Tahun ini baru perusahaan yang terkena. Tapi, kita tidak tahun beberapa tahun ke depan, apakah akan seperti 1998 atau tidak. Saya merasakan tahun ini seperti suasana 1996, dua tahun menjelang krisis," tuturnya.

Dia mengungkapkan, jual-beli aset perusahaan merupakan praktik lazim dalam bisnis. Saat sulit, aset perlu dilepas. Saat ini, Bakrie lebih mengincar PT Bumi Resources Tbk (BUMI), meski bisnis batubara sedang menurun. Bakrie yakin, bisnis batubara akan kembali bagus pada masa mendatang.

Saat ini, kata Nirwan, ada sejumlah bisnis di Indonesia yang justru booming, yaitu migas, emas, dan ritel. "Tidak ada suasana bisnis properti masa lalu yang sebagus saat ini, di mana asing ramai-ramai membeli properti di sini. Pemodal asing lebih mengincar Indonesia daripada negara-negara tetangga," paparnya.

Pembelian Bumi
Dalam catatan Investor Daily, aset Bakrie yang dijual pada 2012, di antaranya Lido Lakes Resort, tanah Rasuna Epicentrum (Bakrie Swantika Utama), dan konsesi tanah seluas 20 hektare (ha) di Sentul, Bogor. Selain itu, Bakrie melepas 29,16 persen saham Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) dan 18 persen saham PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG).

Dengan penjualan aset dan sebagian saham itu, utang Grup Bakrie yang pada 2011 mencapai Rp 10,7 triliun, pada 2012 turun menjadi sekitar Rp 6,4 triliun.Tahun ini, Grup Bakrie (Bakrie & Brothers) berencana memangkas lagi utangnya sebesar Rp 2,4 triliun dari Rp 6,4 triliun menjadi Rp 4 triliun. Tahun lalu, perseroan mampu mengurangi utang sebesar Rp 4,3 triliun menjadi Rp 6,4 triliun dari sebelumnya Rp 10,7 triliun.

Selain menurunkan beban utang, hasil penjualan aset-aset Grup Bakrie digunakan untuk membeli kembali 29,6 persen saham Bumi Resources dari keluarga Nathaniel Rothschild (Nath). Pada 2010, Bakrie dan Nath melakukan tukar guling saham. Bakrie melepaskan 25 persen sahamnya di Bumi Resources senilai Rp 13 triliun pada harga Rp 2.500 per saham. Sedangkan Nath melepas 43 persen sahamnya di Bumi Plc (nama baru dari Vallars Plc), waktu harga saham Bumi Plc GBP 10 per saham.

Dalam perjalanan, Bakrie tidak lagi nyaman dalam kerja sama dengan Nath karena taipan Inggris ini berusaha menguasai manajemen Bumi Plc dan menambah kepemilikan Bumi Resources, perusahaan tambang batubara terbesar di Indonesia. Bakrie kemudian mengajukan proposal untuk tukar guling saham Bumi Resources sekitar 948,81 juta unit saham dengan 25,44 juta unit saham Bumi Plc. Di samping itu, Bakrie harus menyetor dana tunai senilai US$ 278 juta.

Untuk mewujudkan niat itu, Bakrie sudah menyetor uang muka US$ 50 juta. Dengan demikian, dana yang harus disiapkan untuk membeli saham Bumi Resources masih sebesar US$ 228 juta.

Kesepakatan tukar guling saham dan pembelian saham Bumi Resources tertuang dalam heads of term agreement dan dikukuhkan pada rapat umum pemegang saham (RUPS) Bumi Plc, 21 Februari 2013 di London. Sumber Investor Daily di manajemen Bakrie menyatakan, sisa dana untuk membeli Bumi Resources sudah tersedia.

Proses tukar guling dan pembelian saham Bumi Resources oleh Bakrie masih membutuhkan persetujuan RUPS Bumi Plc. Pekan ini, Bakrie akan mengadakan perjanjian dengan manajemen Bumi Plc untuk pembelian saham Bumi Resources. Jika perjanjian ini jadi dilaksanakan, sebulan kemudian akan digelar RUPS Bumi Plc.

Saat ini, Bakrie masih memiliki 23,8 persen saham di Bumi Plc. Pemegang saham lainnya adalah Rosan Roeslani 13 persen, Samin Tan 23,8 persen, Nath 30 persen, dan sisanya publik, termasuk 2 persen milik Hary Tanoesoedibjo.

Tentang penjualan PT Visi Media Asia Tbk (VIVA), Nirwan Bakrie mengatakan, perusahaan itu milik keluarga yang kini berada di bawah koordinasi Anindya Bakrie, putra sulung ARB. Dirinya hanya berkonsentrasi di PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR). Selama ini beredar kabar bahwa keluarga Bakrie hendak melepas ANTV dan hak siar pertandingan sepakbola Piala Dunia kepada Hary Tanoesoedibjo (HT). VIVA antara lain menguasai TV-One, ANTV, Viva News.com, TV Press, dan TV Digital.

Aset Lain
Manajemen Grup Bakrie beberapa waktu lalu menyatakan, kelompok usaha tersebut tahun ini masih akan bertumpu pada sejumlah anak usaha nonterbuka (non-listed), seperti BPI, PT Bakrie Building Industries, dan PT Bakrie Tosanjaya. Total nilai buku tiga perusahaan tersebut mencapai US$ 226,92 juta, dengan perincian Bakrie Building US$ 47,7 juta, Bakrie Tosanjaya US$ 30,17 juta, dan BPI US$ 149,28 juta.

Dalam pengumumannya baru-baru ini, Bakrie & Brothers menyatakan bakal menjual 51-80 persen saham anak usahanya, PT Bakrie Pipe Industries (BPI). Perusahaan investasi itu sudah mendapatkan calon pembeli BPI, yang bergerak di sektor pipa baja. Dana hasil penjualan saham BPI akan digunakan untuk memangkas utang. Aset BPI saat ini mencapai Rp 3,5 triliun. Pendapatan BPI tahun lalu mencapai Rp 2 triliun. Divestasi saham BPI ditargetkan rampung sebelum Agustus 2013.

Bakrie & Brothers juga akan melego aset-aset lainnya untuk membayar utang. Sumber pendanaan lain di antaranya pembayaran piutang dari Sky Trinity Industries Ltd sebesar Rp 1,4 triliun. Hingga saat ini, Sky Trinity baru membayar Rp 117,9 miliar. Bakrie & Brothers dan Sky Trinity telah menandatangi perpanjangan pembayaran sampai 7 Desember 2013.

Di sisi lain, Energi Mega Persada melalui anak usahanya, PT EMP Energi Indonesia, juga menjual 10 persen kepemilikan di Blok Masela PSC kepada Inpex Masela Ltd dan Shell Upstream Overseas Services Ltd. Nilai transaksi diperkirakan mencapai US$ 290 juta atau sekitar Rp 2,8 triliun, lebih tinggi dibandingkan harga akuisisi 10 persen Blok Masela oleh Energi Mega pada akhir 2010 senilai US$ 100 juta. Dengan demikian, Energi Mega untung US$ 190 juta.

Energi Mega disebut-sebut akan menggunakan dana hasil penjualan 10 persen kepemilikan di Blok Masela untuk melunasi utang ke Credit Suisse. Perseroan memiliki utang US$ 200 juta kepada Credit Suisse yang jatuh tempo pada Oktober 2013. Dengan penjualan 10 persen, Energi Mega tidak lagi memiliki hak pengelolaan di Blok Masela. Energi Mega melalui EMP Energi Indonesia dikabarkan telah menandatangani perjanjian dengan Inpex dan Shell.

Selain itu, anak usaha lainnya, PT Bakrieland Development Tbk (ELTY), melepas lahan seluas tiga hektare di Rasuna Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan, senilai Rp 868,9 miliar kepada perusahaan properti milik Grup Sinar Mas, PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE). Bakrieland, melalui anak usahanya, PT Superwish Perkasa, juga menjual lagi tanah senilai Rp 747,63 miliar seluas hampir 2,4 ha di Kelurahan Karet, Kecamatan Setiabudi, Jakarta Selatan, kepada anak usaha BSD lainnya, PT Sinar Mas Teladan. Dananya bukan untuk membayar utang, melainkan akan digunakan PT Bakrie Swasakti Utama untuk mengakuisisi PT Mutiara Masyhur Sejahtera dan melimpahkan kepemilikannya kepada Minarak Labuan Lo Ltd, perusahaan afiliasi Bakrieland.

Penjualan aset-aset tersebut belum termasuk penjualan seluruh ruas tol milik PT Bakrie Toll Road (BTR), anak usaha Bakrieland, kepada Grup MNC, kelompok usaha yang dikendalikan Hary Tanoesoedibjo. Ruas tol bernilai sekitar Rp 2 triliun itu meliputi Kanci-Pejagan (35 km), Pejagan-Pemalang (57 km), Pasuruan-Probolinggo (45,3 km), Batang-Semarang (75 km), dan Ciawi-Sukabumi (54 km). Selain ruas tol, Hary Tanoe mengambil alih Lido Lakes Resort, aset Grup Bakrie lainnya di bawah PT Lido Nirwana Parahyangan, anak usaha Bakrieland, dengan nilai sekitar Rp 1 triliun.

Di luar itu, PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) menjual beberapa aset anak usaha, di antaranya enam anak usaha dalam sub-grup Agri International Resources Pte. Ltd (AIRPL). Keenam anak usaha itu adalah PT Jambi Agrowijaya, PT Eramitra Agrolestari, PT Trimitra Sumberperkasa, PT Multrada Multi Maju, PT Padang Bolak Jaya, dan PT Perjapin Prima. Bakrie Sumatera pun menjadwalkan penjualan saham dan pengalihan hak tagih di PT Guntung Idamanusa tahun ini. UNSP menguasai Guntung tidak secara langsung melainkan lewat dua anak usahanya, PT Grahadura Leidongprima (GLP) dan PT Sumbertama Nusapertiwi (SNP).

 

Investor Daily

Penulis: P-12/AB

Sumber:Investor Daily