Penggunaan Barcode Media Online Dinilai Tak Efektif Tangkal Hoax

Foto palsu tentang kondisi jembatan Cisomang, Jawa Barat, yang diedarkan di media soaial. (Istimewa)

Oleh: Hotman Siregar / FMB | Selasa, 10 Januari 2017 | 13:34 WIB

Jakarta - Dekan Fakultas Teknologi dan Informasi Perbanas Institute Harya Widiputra menilai, rencana Dewan Pers dan Menkominfo melakukan verifikasi media online di tengah maraknya penyebaran berita-berita berkonten hoax tidak akan efektif.

Sebab, pangkal persoalan berita hoax terletak pada kecepatan penyebaran berita yang begitu cepat.

"Untuk menekan beredarnya berita-berita hoax sebaiknya dewan pers dan pemerintah melakukan cara pencegahan penerbitan berita hoax. Cara pencegahan saya kira lebih efektif daripada cara korektif berupa pelaporan setelah berita hoax berhasil diterbitkan," ujar Harya di Jakarta, Selasa (10/1).

Sedangkan penerbitan berita online dibuat lebih selektif seperti penerbitan media cetak, sehingga, tidak semua berita yang akan dipublikasikan berhasil diterbitkan.

Ia menyarankan, agar setiap media online memiliki editor untuk pengecekan terlebih dahulu sebelum penerbitan. Selain itu bisa saja dibuatkan badan independen, di luar dewan pers.

"Yang dapat bertindak sebagai editor yang bersifat tetap menjalankan kebebasan pers demi mengalirnya informasi yang mudah dengan benar," ujarnya.

Saat ini, lanjut Harya, semakin banyak masyarakat yang terusik dengan berita-berita bohong, palsu atau tidak jelas kebenarannya.
Hal itu terlihat dari 400.000 situs media online, hanya kurang dari 300 yang terverifikasi Dewan Pers.




Sumber: Suara Pembaruan
ARTIKEL TERKAIT