Didukung Seluruh Elemen Bangsa, Pancasila dan NKRI Sudah Final

Staf Khusus Presiden Jokowi, Diaz Hendropriyono (kanan) menerima suvenir seusai menjadi pembicara dalam diskusi dengan tema ?"Nawacita dan Gerakan Revolusi Mental: Implementasi dan Kebijakan Pembangunan bidang Pendidikan" yang diadakan oleh Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) di Universitas Muhammadiyah Sukabumi, Jawa Barat, Jumat, 19 Mei 2017. (Istimewa/Asni Ovier/Istimewa)

Oleh: Asni Ovier / AO | Jumat, 19 Mei 2017 | 21:31 WIB

Jakarta - Ideologi Pancasila sebagai dasar negara Indonesia dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai bentuk negara sudah final. Seluruh elemen bangsa mendukung penuh Pancasila dan NKRI, sehingga kontroversi tentang eksistensi ideologi dan dasar negara itu harus diakhiri.

Kontroversi tersebut tidak efektif untuk mencapai berbagai tujuan bangsa, sebagaimana yang termaktub dalam pembukaan UUD 1945. "Ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan sosial menjadi panduan dasar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pancasila sudah final. Kalau masih hidup di Indonesia, kita harus menerima ini. Jangan ada yang masih tidak menerima, apalagi mau menggantinya," ‎ujar Staf Khusus Presiden Jokowi Diaz Hendropriyono di Universitas Muhammadiyah Sukabumi (UMMI), Jawa BArat, Jumat (19/5).

‎Diaz menjadi salah satu pembicara dalam diskusi dengan tema ‎"Nawacita dan Gerakan Revolusi Mental: Implementasi dan Kebijakan Pembangunan bidang Pendidikan" yang‎ diadakan oleh Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM).‎ Hadir juga dalam acara itu Staf Khusus Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, R Alpha Amirrachman‎ dan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Hajriyanto Y.Thohari .‎

‎Diaz mengaku miris dengan situasi saat ini, ketika kebhinnekaan Indonesia tengah terkoyak. Gejala intoleran tengah menguat di Tanah Air. Dikatakan, untuk mereduksi intoleransi, salah satu caranya adalah melalui pendidikan yang mendorong pembangunan karakter dan menanamkan pentingnya toleransi di tengah perbedaan masyarakat Indonesia.

"Selain kaum terdidik, perlu juga peran para elite politik dengan memberi contoh, menjaga sikap, dan tidak ikut memanaskan situasi yang ujungnya intoleransi semakin menguat," tuturnya.

‎Alpha Amirrachman menambahkan, Mendikbud Muhadjir Effendy terus berupaya menjalankan visi dan misi pembangunan pendidikan yang ditetapkan pemerintahan Jokowi-JK. Pembangunan pendidikan yang dilakukan pemerintah saat ini terfokus pada tiga hal, yaitu Program Indonesia Pintar, penguatan pendidikan karakter, dan revitalisasi SMK.

U‎ntuk pendidikan karakter, difokuskan ke lima nilai utama, yaitu nasionalisme, integritas, gotong royong, mandiri, dan relijius,” kata Alpha.

‎Pada kesempatan yang sama, Ketua PP Muhammadiyah Hajriyanto Y.Thohari mengapresiasi Nawacita sebagai konsep yang bagus dan aktual. "‎Trisakti menyatakan kita harus berdaulat di bidang politik dan ekonomi, serta berkepribadian dalam kebudayaan. Tentu saja, gagasan itu, berbicara saat ini ketika kita hidup di era globalisasi, harus mampu menjadi identitas utuh sebagai sebuah bangsa,” ujar Hajriyanto.‎

‎Dia berpesan, Nawacita harus dikuatkan dengan rumusan induk yang menjadi rujukan para menteri kabinet pemerintahan Jokowi-JK.‎ "Hal ini harus didukung oleh para pembantu Presiden Jokowi. Jadi, kuncinya ada di para pembantu Presiden yang mampu menerjemahkan visi besar itu sehingga terasa langsung oleh rakyat," kata Hajriyanto.
‎‎‎
Dikatakan pula, dia tidak setuju jika ada upaya untuk melakukan pergantian kekuasaan di tengah jalan. Hal itu akan mencederai proses demokrasi yang telah disetujui bersama.




Sumber: BeritaSatu.com
ARTIKEL TERKAIT