Marianus-Emilia Pilihan PDIP Perkuat Pemerintahan Jokowi di NTT

Marianus-Emilia Pilihan PDIP Perkuat Pemerintahan Jokowi di NTT
Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPP PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto. ( Foto: Beritasatu Photo / Markus Sihaloho )
Markus Junianto Sihaloho / WBP Minggu, 11 Februari 2018 | 10:36 WIB

Kupang - Sekretaris Jenderal (Sekjen) Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PDI Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto, menegaskan bahwa pasangan Marianus Sae-Emilia Nomleni yang diajukan di Pilgub Nusa Tenggara Timur (NTT) adalah pilihan untuk memperkuat pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) di wilayah tersebut. Pasangan ini sudah mengikuti sekolah partai.

Hal itu disampaikan Hasto dalam konsolidasi pemenangan Pilkada di NTT 2018, yang meliputi zona daratan Timor, Alor, Rote Ndao, Sabu Raijua, di Kabupaten Kupang, Sabtu (10/2). Dalam acara itu, Hasto hadir didampingi istrinya Maria Stefani Ekowati, Ketua DPP PDIP sekaligus Korwil Pemenangan NTT Andreas Hugo Pareira, dan anggota Fraksi PDIP Herman Hery.

Dijelaskan Hasto, pilkada adalah masalah komitmen menyejahterakan rakyat lewat kekuasaan. Untuk itu, calon kepala daerah PDIP di Pilkada NTT, sudah dipersiapkan dengan baik. "‎Mereka dipersiapkan dengan baik. Baik Pasangan Marianus-Emilia di Pilgub NTT, atau Nelson-Bernard di Pilkada Kabupaten Kupang. Semuanya ikut sekolah calon kepala daerah," kata Hasto.

Saat mengikuti sekolah partai, para calon kepala daerah tak membuat visi misi‎nya sendiri. Namun dibuatkan partai dengan tujuan mendorong kerja sama antarkader PDIP yang menjadi kepala daerah. "Mereka diajar langsung oleh Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri, bersama sejumlah elite partai dan pemerintahan, seperti Puan Maharani, Tjahjo Kumolo, Susi Pudjiastuti, Amran Sulaiman, hingga Basuki Hadimuljono," kata dia.

Dilanjutkan Hasto, ‎kepemimpinan di PDI Perjuangan adalah gotong royong. Artinya ketika Nelson-Bernard terpilih di Kabupaten Kupang, Marianus-Emilia menjadi gubernur di NTT, dan Jokowi sebagai presiden, maka akan lahir napas kepemimpinan untuk rakyat. Semua unsur bergerak bersama dari tingkat nasional sampai kabupaten, membangun NTT mengejar ketertinggalan. "Marianus-Emilia, Nelson-Bernard, diputuskan Ibu Ketua Umum maju di pilkada untuk memperkuat pemerintahan Jokowi," kata Hasto.

Dia memberi contoh ketika Jokowi menjadi gubernur di Jakarta, ada kerja sama dengan Gubernur NTT Frans Lebu Raya yang juga kader PDI Perjuangan. Kedua daerah itu membuat perjanjian dimana NTT menyuplai 70.000 ekor sapi per tahun ke Jakarta. Hal sama juga terjadi antara Badung dan Karangasem di Bali yang sama-sama dipimpin kader PDI Perjuangan. Badung yang kaya, membantu pembangunan rumah bagi warga yang tak punya rumah di Karangasem.

"Bayangkan saja seandainya kita punya kepala daerah semuanya di NTT, maka kerja sama horizontal dilakukan. Pak Jokowi takkan membangun begitu banyak bendungan dan embung di NTT kalau tak ada hubungan baik dengan Pak Frans," jelas Hasto.

Hasto mengatakan, kepala daerah yang dipilih PDIP adalah pemimpin rakyat. "Bukan sekedar elektabilitas tinggi, tapi yang punya tanggung jawab terhadap rakyat, membumikan Pancasila, kokoh dan tak tergoyahkan," jelas Hasto.

Ditambahkan Hasto, memenangkan pilkada NTT juga berarti menjaga NKRI, kebinekaan, dan onstitusi.

Hasto mengatakan, sejumlah tokoh akan turun berkampanye di NTT, demi memenangkan Marianuas-Emi, termasuk Megawati Soekarnoputri. Begitu juga sejumlah kepala daerah yang berhasil seperti Tri Rismaharini dan Djarot Saiful Hidayat.

"Sebab mereka (Marianus) adalah bukan orang lain. Tapi kader kita. Dia sudah berjanji akan bersinergi dengan Pemerintahan Jokowi, dan membela Wong cilik dan Marhaen," kata Hasto.

Pasangan ini sudah meneken komitmen di atas materai di hadapan Megawati. "Dia janji akan setia mengawal Pancasila, setia memperjuangkan Pak Jokowi jadi presiden kembali. Maka itu sekali lagi tak boleh ada yang ragu-ragu.‎ Anda siap?" teriak Hasto.

Ribuan kader PDI Perjuangan yang mengikuti acara konsolidasi itu bersama-sama ‎teriak, "siap".

Andreas Hugo Pareira mengatakan kader PDIP di NTT memiliki waktu empat bulan untuk mempersiapkan kemenangan di pilkada. "Targetnya jelas, khususnya di pilgub, kita harus kembali memenangkannya," kata Andreas.

Dijelaskannya, selama 10 tahun terakhir, kader PDIP yang duduk sebagai gubernur NTT, yakni Frans Lebu Raya. Adapun di tujuh tahun dari 10 tahun itu, tak dipegang oleh kader PDIP. Baru saat Jokowi menjadi presiden di tiga tahun terakhir, ada kesinambungan dengan kerja Frans Lebu Raya.

"Pemerintahan bisa sukses kalau ada kesinambungan pusat, provinsi, dan kota. Maka kita harus memenangkan semaksimal mungkin pilkada di NTT," kata Andreas.



Sumber: BeritaSatu.com