AHY: Setiap Presiden Memiliki Andil

AHY: Setiap Presiden Memiliki Andil
Pidato Ketua Komando Tugas Bersama (Kogasma) Pemenangan Pemilu 2019 Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), dalam penutupan Rapat Pimpinan Nasional (rapimnas) PD di Sentul International Convention Center (SICC), Bogor, Jawa Barat, 11 Maret 2018. ( Foto: BeritaSatu Photo / Joanito De Saojoao )
Carlos KY Paath / JAS Minggu, 11 Maret 2018 | 23:48 WIB

Bogor – Baliho dan spanduk Partai Demokrat (PD) di berbagai sudut kota dan desa di Indonesia ada yang bertuliskan: “Yang Sudah Baik, Lanjutkan; Yang Belum Baik, Perbaiki”. Slogan PD ini mempunyai suatu makna.

“Indonesia yang dibangun dan dimajukan oleh para pemimpin dan pemerintahan dari generasi ke generasi. Terlepas dari segala kekurangan dan ketidaksempurnaannya, setiap presiden dan pemerintahan pasti memiliki andil, capaian, dan prestasinya masing-masing,” kata Ketua Komando Tugas Bersama (Kogasma) Pemenangan Pemilu 2019 PD, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

Hal itu disampaikan AHY saat memberikan pidato politik bertema “Demokrat Siap” pada Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) PD di Sentul International Convention Center (SICC), Bogor, Jawa Barat, Minggu (11/3).

“Setiap Presiden telah meletakkan landasan, kebijakan, dan program yang membawa manfaat dan kebaikan bagi rakyatnya,” imbuhnya.

Dia menuturkan, Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat ini bisa membangun infrastruktur secara signifikan, khususnya sektor pekerjaan umum dan perhubungan. Selain itu, Jokowi dapat menjaga stabilitas politik dan keamanan.

Seluruhnya, dikarenakan Presiden keenam RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) telah meletakkan fundamental ekonomi dan kesejahteraan rakyat yang kuat, termasuk pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Pendapatan per kapita meningkat, kemiskinan, dan pengangguran berkurang.

Presiden SBY, lanjut AHY, sukses memperkuat ekonomi nasional, demokrasi, dan kerja sama internasional, disebabkan torehan pemerintahan Presiden keempat RI Abdurrahman Wahid dan Presiden kelima RI Megawati Soekarnoputri.

Abdurrahman dan Megawati disebut AHY, berhasil melakukan konsolidasi politik pascakrisis serta menormalisasi kehidupan bangsa, termasuk melakukan perbaikan awal ekonomi dan keamanan. “Presiden Abdurrahman Wahid dan Presiden Megawati bisa melakukan hal-hal positif itu, karena Presiden (keempat RI) Habibie berhasil menyelamatkan Indonesia dari krisis besar, dan telah meletakkan landasan reformasi dan demokrastisasi di negeri kita,” ujar AHY.

Sementara Presiden Habibie, menurut AHY, melakukan hal-hal penting itu karena Presiden kedua RI Soeharto. Soeharto melakukan pembangunan nasional di berbagai bidang. Ketika Indonesia berada di ambang konflik dan perpecahan hebat, kata AHY, Soeharto memilih untuk mengundurkan diri sebagai presiden demi kebaikan bangsa.

Pemerintahan Presiden Soeharto memiliki prestasi dan hasil nyata dalam pembangunan bangsa, karena negeri tercinta telah diselamatkan oleh Presiden pertama RI Sukarno. Sukarno menyelematkan Indonesia dari berbagai serangan asing dan rongrongan kaum separatis yang ingin meniadakan eksistensi Indonesia Merdeka. Indonesia menjadi negara merdeka dan berdaulat, antara lain atas kegigihan, dan jasa besar Bung Karno.

“Inilah mata rantai sejarah, apa saja yang dilakukan oleh para pemimpin dan generasi bangsa, dari masa ke masa. Di sini pulalah tergambar makna 'Keberlanjutan dan Perubahan' atau 'Continuity and Change'. Yang baik, dilanjutkan; yang belum baik, diperbaiki,” ucap AHY.

AHY yakin apabila hal-hal baik tidak dilanjutkan, maka negara dan rakyat akan merugi. “Perjalanan bangsa kita bisa maju-mundur, atau kembali ke garis awal, atau mencari-cari sesuatu yang sebenarnya sudah dimiliki. Seperti pepatah: “Harapkan burung terbang tinggi, punai di tangan dilepaskan”,” ungkapnya.



Sumber: Suara Pembaruan