Pilgub Sumatera Utara

Ini Alasan Melambungnya Elektabilitas Eramas

Ini Alasan Melambungnya Elektabilitas Eramas
Musa Rajeckshah dan Edy Rahmayadi. ( Foto: Antara )
Arnold H Sianturi / JAS Selasa, 17 April 2018 | 09:05 WIB

Medan - Koordinator Pusat Monitoring Politik dan Hukum Indonesia, Gandi Parapat mengatakan, elektabilitas pasangan Edy Rahmayadi-Musa Rajecshah (Eramas) meningkat tajam mengungguli pasangan Djarot Saiful Hidayat-Sihar Sitorus (Djoss), karena berhasil meyakinkan masyarakat bahwa mereka pemimpin seluruh umat.

"Klarifikasi dari Edy Rahmayadi saat berkunjung ke Nias, bahwa dirinya menyesalkan sikap kelompok tertentu yang dinilai mencoreng demokrasi, sanggahan tentang dirinya tidak akan mengislamkan umat Kristiani. Jangankan mengislamkan, Edy mempertegas bahwa mengganggu orang saat beribadah di gereja pun, dirinya tidak pernah berani untuk melakukannya," ujar Gandi Parapat, Selasa (17/4).

Gandi menyampaikan, banyak isu yang mencoreng demokrasi di Sumut, apalagi kontestasi pemilihan gubernur (Pilgub) semakin dekat. Berbagai cara dilakukan pihak tertentu untuk memenangkan salah satu pasangan yang diusung. Namun, masyarakat lebih pintar dalam menghadapi berbagai isu dan ancaman dari konflik berbau suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) tersebut.

"Masyarakat tidak muda percaya atas isu yang menyudutkan Edy meski orang bersangkutan tidak memberikan klarifikasi. Namun, klarifikasi Edy semakin menambah empati masyarakat, khususnya dari umat Kristiani, Hindu, Budha, selain umat Islam. Edy seakan memberikan penegasan, bahwa dirinya merupakan pemimpin seluruh umat," katanya.

Menurutnya, Edy lebih unggul karena dinilai mempunyai sikap tegas dalam memimpin. Selain itu, Edy merupakan putra daerah di Sumut. Berbeda dengan Djarot yang berasal dari luar Sumut. Djarot dikenal memiliki karakter lebih halus dan pengalaman dalam memimpin pemerintahan.

"Untuk kekuatan dari pasangan calon gubernur, Musa Rajekshah sudah lama dikenal masyarakat karena sangat humanis dan menghormati semua orang dari berbagai generasi. Berbeda dengan Sihar Sitorus, yang kemudian tampil ke tengah masyarakat setelah dicalonkan sebagai pendamping Djarot saat Pilgub Sumut."



Sumber: Suara Pembaruan