PDIP Paling Banyak Dipilih Generasi Milenial

PDIP Paling Banyak Dipilih Generasi Milenial
Ilustrasi Logo PDIP (istimewa)
Carlos KY Paath / FER Minggu, 13 Mei 2018 | 15:23 WIB

Jakarta - Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dipilih sebesar 22,92 persen responden, apabila Pemilu Legislatif (Pileg) 2019 dilaksanakan saat survei. Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) berada di peringkat dua dengan 17,50 persen, disusul Partai Golkar 7,92 persen, Partai Demokrat 6,17 persen, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) 3,42 persen, dan Partai Amanat Nasional (PAN) 2,83 persen.

Selanjutnya, ada Partai Keadilan Sejahtera (PKS) 2,08 persen, Partai Persatuan Indonesia (Perindo) 1,75 persen, Partai Nasdem 1,75 persen, Partai Persatuan Pembangunan (PPP) 1,17 persen, Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) 0,58 persen, Partai Bulan Bintang (PBB) 0,42 persen dan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) 0,33 persen. Terdapat 30 persen pemilih yang menjawab belum menentukan pilihan/ tidak tahu.

Demikian hasil survei nasional Political Communication Institute atau Polcomm seperti disampaikan Direktur Polcomm, Heri Budianto, di Jakarta, Minggu (13/5).

Heri mengungkapkan, jika ditanyakan secara langsung tanpa ada pilihan jawaban (top of mind), PDIP memperoleh 20,83 persen. Sementara itu, posisi dua ditempati Gerindra dengan 16,67 persen, disusul PG 11,33 persen, PD 5,83 persen, PKB 4,17 persen.

Kemudian, PAN 2,83 persen, PKS 2,08, PPP 1,57 persen, Nasdem 1,25 persen, Perindo 0,83 persen, Hanura 0,50 persen, PBB 0,17 persen dan PSI 0,17 persen. Pemilih yang belum menentukan sikap sebanyak 31,50 responden.

"Pilihan pemilih milenial dan pemilih muda ternyata bisa berubah dengan pilihan pileg yang akan datang. Anak muda galau. Mereka yang jawab masih bisa berubah 50,67 persen, hanya 33,67 persen yang pilihannya sudah tetap atau tidak akan berubah," kata Heri.

Hasil survei Polcomm menggunakan metode purposive random sampling. Artinya, sampel diambil dengan pertimbangan tertentu yakni responden yang berusia 17-40 tahun atau kategori pelajar, mahasiswa, pemula dan muda. Jumlah responden sebanyak 1.200 orang di 34 provinsi. Wawancara langsung tatap muka pada 3-6 Mei 2018 dengan tingkat kepercayaan 95 persen dan margin of error 2,83 persen.

Polcomm juga menanyakan preferensi calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres). Hasilnya, tingkat elektabilitas Presiden Joko Widodo (Jokowi) berdasarkan top of mind mencapai 44,83 persen. Lalu ada Ketua Umum (Ketum) Gerindra Prabowo Subianto 31,67 persen, mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo 8,42 persen.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menempati peringkat empat dengan 3,08 persen, diikuti Ketum PAN Zulkifli Hasan 2,92 persen, Ketua Komando Tugas Bersama (Kogasma) PD Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) 2,58 persen, Ketum PKB Muhaimin Iskandar 2,50 persen, Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) M Zainul Majdi 1,17 persen. Nama-nama lain hanya meraih persentase di bawah 0 persen.

Heri menuturkan, apabila menggunakan pertanyaan tertutup, lima capres teratas yaitu Jokowi 36,42 persen, Prabowo 27,17 persen, Gatot 4,92 persen, Anies 4,33 persen dan Zulkifli 3,50 persen.

"Kami juga menanyakan siapa yang paling pantas mendampingi Pak Jokowi versi pemilih muda. Komposisi yang dinilai paling pas adalah AHY 12,33 persen, Pak Zulkifli 11,25 persen, Pak Prabowo 10,33 persen, Pak Gatot 10,08 persen, Bu Susi (Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti) 9,67 persen dan seterusnya," tutur Heri.

Dia menambahkan, nama Gatot menempati peringkat pertama sebagai cawapres Prabowo. Gatot dipilih 13,75 persen, Zulkifli 12,67 persen, AHY 11,50 persen, Anies 10,09 persen, Anis 9,83 persen, mantan Ketua MK Mahfud MD 9,09 persen, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan 4,33 persen, nama-nama lain hanya meraih di bawah 2 persen.

Menurut Heri, sebagian besar responden yakni 50,83 persen menginginkan capres dan cawapres bersih dari korupsi. Hanya 12,92 persen yang menginginkan wajah baru.

"Jika dilihat dari siapa yang paling menentukan dan pengaruhi pilihan, ternyata 82 persen menyatakan memilih capres dan cawapres karena pertimbangan sendiri, tanpa adanya pengaruh dari pihak manapun," ujarnya.



Sumber: Suara Pembaruan
CLOSE